Kolom, Puisi

Unjuk Rasa, Setelah Pesta Demokrasi Selesai dan Beberapa Puisi Syafri Arifuddin Lainnya

Setelah Pesta Demokrasi Selesai

Sehabis hiruk pikuk yang melahirkan rasa asing,
semua diam dan menyembunyikan senyum —kecuali
bibir-bibir yang masih ribut bersama kabar burung.

Sesudah euforia kompetisi yang menguras tenaga,
kemenangan adalah satu-satunya jalan untuk berjuang.
Tak ada kata berbalik pun bila harus kehilangan nama.

Apa sebenarnya yang kita inginkan?
Setelah pesta yang begitu meriah,
tak ada yang siap merayakan kekalahan.

Kepada siapa harapan ini seharusnya dititipkan,
setelah di lain pihak ada yang merasakan
getirnya kehilangan.

 

Tidak Memilih Golongan Putih

Untuk sementara waktu,
kita tak saling melemparkan senyuman.
Hanya tatapan yang dipenuhi ambisi untuk menang.

Untuk sementara waktu,
punggung kita saling memandang,
bukan karena matinya rasa perhatian,
hanya saja kita sedang memainkan peran.

Kalau esok lusa kita harus memilih.
Bahwa katamu: “hidup itu pilihan”.
Aku akan memilih untuk tidak memilih.
Meski bagimu, berdiri di tengah
tidak pernah menghasilkan apa-apa.
Meski bagimu, menjadi abu-abu
tidak akan membuat semuanya baik-baik saja.

Bahwa katamu sekali lagi;
“Hidup butuh keberpihakan!”

Matinya Kebebasan Berpendapat

Bibir ditutup tangan.
Napas berubah menjadi sebuah isyarat
dan bulu kuduk tak sedikit pun berdiri.
Ada sesuatu yang tertidur begitu pulas.
Ada bagian yang terlalu sulit dijamah hati nurani.

Berjuta-juta kata sedang menggali kuburan.
Gagasan berhadap-hadapan dengan pembubaran.
Ide dan ilmu pengetahuan diselesaikan
dengan suara sumbang orang-orang dalam kerumunan.

Bencana akan datang melanda,
sedang kita tak siap menerka.

Sebab cinta yang selama ini kita suarakan
menjelma suara yang sengaja dinina-bobokan
dengan dan tanpa persetejuan.

 

Sebuah Ikatan yang Bisa Putus Kapan Saja

Kepalaku akan pecah, barangkali. Sebab
kepalamu masih membatu seperti biasa.
Keras bertemu keras hanya akan melahirkan
kepingan-kepingan penyesalan.

Kepalaku lembek akhirnya. Bukan
karena guna-guna tapi ada yang lebih penting
dari sekadar mempertahankan keras kepala.
Ia adalah ikatan:

Ikatan yang dibuat dengan air mata
Ikatan yang dikuatkan dengan canda tawa

Yang bisa putus kapan saja
hanya karena kata-kata dan
Pilkada.

 

Unjuk Rasa

Suara itu tertiup mengikuti gerak angin.
Menembus apa saja namun terhenti di kerumunan
kepala yang membentuk pagar besi.
Suara itu menengadah ke atas yang dilihatnya
mata yang tak mampu menjelaskan apa-apa.

Suara itu tak lelah mencari jalan.
Ia mengalir seperti air melewati segala sesuatu
yang menghalanginya tapi sekali lagi,
dihadang bendungan yang mampu memerihkan mata.
Suara itu menatap puluhan benda mati
sedang pasang kuda-kuda.

Ayunan kaki seperti kaset tua yang kusut.
Hentakannya tak berirama dan tak serapi baris berbaris
anak sekolah di perayaan Tujuh Belas Agustus. Tapi
masih cukup handal untuk membuat seseorang tak nyenyak tidur.

Ratusan mata kamera membidik seperti penembak handal.
Ia membunuh target tepat di kepala tanpa cacat.

Suara itu menjelma rasa. Mekar bagai mawar, harum tapi melukai.
Rasa itu harus disampaikan bagaimanapun caranya,
bagaimanapun kerasnya rasa itu tertolak.

Related Posts

Tinggalkan Balasan