Beranda » 2016

Showing 1–30 of 97 results

Show sidebar

Active filters

-10%Sold out
Close

Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Pesohor – Indonesia Boekoe

Rp 65.000 Rp 58.500

Esai adalah cerminan, meditasi, percobaan dalam pengung­kapan gagasan yang diekspresikan secara licin dengan bahasa yang “lentur”, kata Montaigne. Sesuatu yang sifatnya longgar, kata esais Emha Ainun Nadjib.

“Esai itu bukan puisi. Akan tetapi esai tidak diperkenankan untuk hadir tanpa rasa poetika. Esai bukan cerita pendek, bukan novel, bukan reportoar teater, namun esai diharuskan bercerita, diwajibkan mengekspresikan suasana, itupun cerita dan suasana harus merupakan kandungan yang implisit, yang tersirat, yang sa­mar, sebab kalau tidak: ia dituduh sebagai puisi atau cerita pendek atau novel atau reportoar teater,” lanjut Cak Nun.

Dengan membaca sajak kita dapat terserap ke dalam suasana puitis, dan dengan membaca karya ilmiah kita berkutat dengan analisis tentang suatu obyek penelitian. Dalam dua kegiatan itu sang penyair dan sang ilmuwan menjadi tidak penting, karena yang pokok adalah karyanya. Membaca esai, sebaliknya, cenderung membuat kita teringat pada penulisnya, karena gerak-gerik, mimik dan gestikulasi, demikian pun kegembiraan dan rasa jengkel akan muncul dalam kalimat-kalimatnya.

Membaca tulisan ilmiah dan membaca sajak pada dasarnya berarti menghadapi teks, sedangkan membaca esai adalah menghadapi teks dan sekaligus juga berhadapan dengan penulisnya. Ilmu mengubah subyektivitas menjadi obyektivitas, puisi mengubah obyektivitas menjadi subyektivitas, tetapi esai menghormati kedua-duanya, menghadapi obyektivitas sambil mengubah subyektivitas. (Ignas Kleden, 2004: 463)

-10%Sold out
Close

Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta – Indonesia Boekoe

Rp 75.000 Rp 67.500

Dengan sepeda tua yang ringkih, ditempuhnya jalan yang makin hari makin mulus dan ramai di seantero kota. Sebuah jalan yang dilihatnya dengan mata sepi. Dari mata-mata sepi itulah ia memandang jalan menulis yang dipilihnya merupakan jalan sunyi.

Ada yang kemudian terbunuh di tengah jalan dan ada pula yang menjauh. Tapi bagi mereka yang sadar memilih jalan kepenulisan, kesunyian bisa jadi semacam jembatan lintasan panjang untuk mereguk limpahan gagasan dan menemukan eksitensi diri.

Buku ini merekam jejak paling awal seseorang yang memutuskan menjadi penulis dan melakukan interaksi yang intim dengan literasi yang disodorkan sebuah kota. Ia memberitahukan kepada kita sekaligus mewakili potret sebagian besar nasib penulis-penulis muda Indonesia dalam mengarungi samudera gagasan dan menyiasati, tantangan hidup yang ganas.

Oleh karena itu, si Aku dalam buku ini menyerukan semacam manifes penuh dendam dari dari kekalahan nasib. “Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan yang sunyi ini, maka yang paling kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”

-10%Sold out
Close

Satu Setengah Mata-Mata – Pojok Cerpen

Rp 99.000 Rp 89.100

Satu Setengah Mata-Mata adalah sejenis mata-mata yang bergerak bebas di antara seni rupa dan sastra, antara fiksi dan non-fiksi, antara “antropologi” dan catatan autobiorafis, antara kritik seni dan nalar puitik, antara pembacaan-dekat dan pembacaan-jauh. Buku ini merangkum sepilihan teks dalan sudut pandang Nirwan Dewanto sebagai pengulas sejumlah karya seni, penyelia yang merekam keterlibatannya dalam proses kekaryaan para senirupawan, ataupun sekadar penggandrung yang mencatat rinci aneka pengalaman masa kecil dan mimipinya yang bersentuhan dengan seni dan gejala rupa. Melalui beragam jalan keterlibatannya, ia mereflesksikan bahwa seni rupa bukan sekadar apa yang dapat dipandang, melainkan apa yang dapat diciptakan kembali terus-menerus dalam imajinasi.

Satu setengah mata-mata bergerak bebas di antara seni rupa dan sastra, antara fiksi dan non-fiksi, antara “antropologi” dan catatan autobiografis, antara telaah seni dan nalar puitik, antara pembacaan-dekat dan pembacaan-jauh. Buku ini merangkum sepilihan tulisan Nirwan Dewanto sebagai pengulas seni di tengah masyarakat yang gemar mentimur-timurkan diri, penyelia yang merekam keterpautannya dengan proses kekaryaan para senirupawan, serta pegandrung yang mencatat fragmen-fragmen riwayatnya yang berjalinan dengan seni dan gejala rupa. Melalui berbagai jalan keterlibatannya, ia berhujah bahwa seni rupa bukan sekadar apa yang dapat dipandang, melainkan juga apa yang diciptakan kembali terus-menerus dalam imajinasi. Bahwa seni rupa mengungkai ranah-ranah gelap yang dilewatkan oleh ilmu-pengetahuan.

-10%Sold out
Close

Sang Pengoceh – Pojok Cerpen

Rp 99.000 Rp 89.100

Llosa lewat El Hablador, barangkali adalah karya yang paling banyak menimbulkan perdebatan. Puluhan buku dan kajian ilmiah telah ditulis untuk mengurai dan menafsirkan novel tentang benturan antara ekspansi modernitas dan pertahanan hidup masyarakat adat dan pencarian jati diri pribadi, masyarakat, dan arti minoritas dalam sebuah bangsa-bangsa ini.

“Beberapa tahun lalu, saat pertama kali membaca novel menakjubkan Mario Vargas Llosa El Habrador, seketika saya merasa berpapasan lagi dengan rongrongan perbandingan; karena yang terlintas seketika di depan mata saya adalah Tetralogi Buru karya maestro Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dan dalam rentang yang lebih panjang dibarengi oleh novel-novel Spanyol besar karya pahlawan nasionalis Filipina, Jose Rizal […] Mahakarya nasionalis Amerika/Latin/Spanyol/Peru.” – Benedict Anderson, “El Malhaldado Pais”, The Spectre of Comparisons (1998)

“Apa yang dilakukan Hassan Fathy dalam arsitektur, […], Mario Vargas Llosa dalam novel El Habrador, misalnya, menyentakkan kita bahwa keangkuhan ilmiah tidak benar.” – Nirwan Dewanto, Pidato Kongres Kebudayaan 1991

“Intelek, etik, dan artistic, semuanya sekaligus dan brilian adanya. Bagi saya, inilah buku Vargas Llosa yang paling menarik.” – Ursula K. Le Guin, The New York Times Book Review

“Memikat dan menggugah pikiran… Jalinan rumit komentar politik dengan gaya naratif.” – Minneapolis Star-Tribune

-10%Sold out
Close

Candide – Pojok Cerpen

Rp 70.000 Rp 63.000

Candide, dongeng filsafat satir yang ditulis oleh Voltaire, bercerita tentang seorang pemuda dari Westphalia bernama Candide dan kisahnya bertualang keliling dunia untuk menyelamatkan kekasihnya, Cunegonde. Candide merupakan seorang yang sangat optimistis meskipun dalam perjalanannya ia selalu menghadapi bencana dan musibah. Sifatnya itu didapat dari gurunya, Pangloss. Melalui novel ini, secara tidak langsung Voltaire menyatakan bahwa dunia merupakan sebuah distopia dan kekejaman manusialah yang membuat dunia ini menjadi tidak sempurna.

-10%Sold out
Close

Aku, Meps, dan Beps – Pojok Cerpen

Rp 55.000 Rp 49.500

“Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku nggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu.

Meps rambutnya pendek banget. Kata Beps, setiap minggu Meps mesti cukur. Kalau tidak, kesaktiannya hilang. Apa kesaktian Meps? Nanti aku ceritakan!”

-10%Sold out
Close

Ikan-Ikan Dari Laut Merah – Diva Press

Rp 60.000 Rp 54.000

Membaca cerpen-cerpen Danarto, termasuk dalam antologi Ikan-Ikan dari Luat Merah ini (pernah diterbitkan bertahun silam dengan judul Kacapiring), bila kita siap menerima asful wujud (penyingkapan Realitas) melalui seranai makna sufistik di balik teks-teksnya, akan mampu menghantar pikiran dan batin kita melesat jauh ke semesta asketisme yang tak terbatas sekat-sekat lahiriah apa pun. (Edi AH Iyubenu)

Ada yang bilang jika seseorang ngobrol dengan saya, itu artinya saya sedang mewawancarai orang itu. Sementara itu ada pula yang bilang, jika seseorang ngobrol dengan saya, itu tanda-tanda orang itu mau meninggal. “Nistagmus”

Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? “Lauk dari Langit” 

Dari Laut Merah yang bergolak, saat itu ayah sedang tertidur pulas karena udara panas dan kelelahan, melompatlah seekor ikan besar ke dalam perahu kami. Saya kaget banget. Panjangnya dua lengan ayah yang terentang dan beratnya seberat tubuh saya “Ikan-Ikan dari Laut Merah”

Danarto bisa disebut sebagai pelopor genre realisme magis di Indonesia, bahkan ketika istilah ini belum dikenal luas. Selamat menikmati cerpen-cerpen yang cenderung menggambarkan hal tak nyata tapi begitu unik dan memukau.

-10%Sold out
Close

Ikan Pelangi – Pelangi Sastra

Rp 78.000 Rp 70.200

Para penulis:
Hong Jong Min, Aghilia Khodijah, Ainul Latifah, Alifin Namash Mahmud, Ana Rizqiya Lailatur Rohmah, Ananda Septi Kartika Putri, Anazatul Naim, Anhar Mustafid, Anis Kharisma J., Arindra S. Saputra, Athi’ Firliya Rusdiyana, Athi’ Firliya Rusdiyana, Aulia Nurul Azizah, Auliya Anisya, Clary Esta Annane, Dhela Ahasa, Diah Krisdayanti, Dwi Septi Wahyu N., Fahrizal Septiananda, Fandy Romadhoni, Fitri Amalia Cahyani, Gigih Sanjaya Rangin, Himmatul Uliyah, Kholifah Pratiana, Meika Asri R. S., Meilanda Okilawati Putri, Muhammad Najib R., Nafiatul Masruroh, Oriana Surya, Pungky Hertanto, Ririn Hidayati, Riski Rimadhani, Rosyifatul Aimmah, Sa’adatun Nahariyah, Umaya Susanti, Yulia Datu Wida Pratiwi, Zona Rismanda Asikin

-10%Sold out
Close

Lestari – Pelangi Sastra

Rp 78.000 Rp 70.200

Para Penulis:
Dahlia M. S., Alfiana Firdausy, Anggraeni, Danis Tiarawuri, Epri Kusuma Putranti, Intan Brama Putri, Laeli Yuhannisya, Maria Tina Septiani, Muhammad Rifqy Najich, Nia Zulkarnain, Rifqi Maulida, Rike Rismania, Rizki Ayu Safitri, Sandra Yoga Pratama, Ana Bariroh, Anindya Shahira Intan Prawesti, Anisa Dinar K.C., Asifa Aulia Darojah, Bayu Suryo Kusumo, Dara Arum, Fitri Sukmawati Chavit, Ika Purnama Sari, Ira Putri Mayasari, Khurin Wardani Fitroti, Kiki Aprilia, M. Salas Muharromin, Miftahul Hidayah, Naila K. M., Nensy Nur Azizah, Nur Afifatul Majidah, Rachma Meidinar, Satria Tirta, Sevi Kurnia, Sinta Dwi Mariani, Wendy Septya Nugraha

-10%Sold out
Close

Pasar Malam Untuk Brojo – Pelangi Sastra

Rp 35.000 Rp 31.500

Pasar Malam untuk Brojo

Brojo, masihkah kamu menanti ibumu untuk mengantarmu ke pasar malam?
Ibumu sering menangis kalau malam, dan tidak ada yang bisa menenangkannya selain dirimu. Dalam tangisnya dia bilang kalau dia bangga sekali punya anak yang berhasil sepertimu, namun ia takut apakah mungkin ia masih pantas dipanggil seorang ibu.

Seperti itulah yang dikatakan ibumu padaku hampir setiap malam…

-10%Sold out
Close

Tafsir Kenthir Leo Kristi: Dalam (Pura-Pura) Puisi – Pelangi Sastra

Rp 45.000 Rp 40.500

SPIRITUALITAS LEO

jangan kalian sangka si Leo lupa pada sang pencipta
simaklah: lagunya parabel cinta bagi sang mahabaka
melantunkan perjuangan mengusir kegelapan sukma
remuk redam menggapai-gapai keterpujian jiwa

jangan kalian kira si Leo alpa kepada sang pencipta
dengarlah: musiknya narasi rindu bagi sang mahacinta
mengisahkan pertempuran menundukkan syahwat dunia
luka-luka menemukan fitrah arah kecemerlangan dada

jangan kalian dakwa si Leo campakkan sang pencipta
kunyahlah: liriknya karnaval doa berhulu kemuliaan jiwa
sedang berjuang menuju muara sejati kehidupan baka
dan menggugurkan daki-daki kotor kehidupan manusia

lihatlah: si Leo telah menemukan kiblat terang cahaya
kendati entah kapan dirinya melangkahkan jiwa kesana
lantaran pukau dunia kerap menerungku janji purba

-10%Sold out
Close

Everything Everything – Penerbit Haru

Rp 83.000 Rp 74.700

Penyakitku langka, dan terkenal. Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.

-10%Sold out
Close

Zaman Peralihan – Mata Bangsa

Rp 100.000 Rp 90.000

Zaman Peralihan

Zaman Peralihan adalah kumpulan tulisan Soe Hok Gie tentang kondisi Indonesia di era peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto. Rangkaian sejarah yang menunjukkan pada kita bahwa zaman boleh beralih, namun akar dari semuanya tak boleh tercerabut, yaitu kemanusiaan kita sebagai bangsa. Ini akan menjadi penuntun jalan kita untuk pulang dan mengeja kembali kebangsaan kita di antara carut marut dan gegap gempita zaman.

-10%Sold out
Close

Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792

Rp 225.000 Rp 202.500

Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792

Pembagian Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta lebih berupa serangkaian proses ketimbang suatu peristiwa. Diawali dari pendakuan wilayah, proses ini berkembang menjadi sengketa bersenjata, perundingan-perundingan politis, upaya-upaya penyatuan melalui perkawinan, hingga akhirnya pengukuhan-pengukuhan identitas.

Proses rumit ini hanya mungkin berlangsung secara damai karena ada sosok pemimpin yang andal, Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana. Dengan kecakapannya memelihara kesetimbangan hubungan dengan Surakarta dan Kompeni, Mangkubumi berhasil menjaga masa damai Jawa yang paling panjang dan menjadi raja yang bertakhta paling lama sepanjang sejarah Mataram hingga zamannya.

Dengan saksama menggunakan sumber-sumber kesejarahan Belanda maupun Jawa, Marle C. Ricklefs menyajikan secara hidup sosok Mangkubumi dan tantangan-tantangan yang dihadapinya dalam membentuk Yogyakarta, bukan hanya dalam ranah politis-kemiliteran, tapi juga dalam ranah budaya dengan membangun simbol dan mitos untuk memahami realitas baru: Jawa yang terbagi dan Kompeni yang menetap.

“Buku penting untuk memahami persoalan-persoalan kontemporer dunia yang semakin absurd.”

-10%Sold out
Close

The Indonesian Killings (Pembantaian PKI Di Jawa Dan Bali 1965-1966) – Mata Bangsa

Rp 135.000 Rp 121.500

The Indonesian Killings (Pembantaian PKI Di Jawa Dan Bali 1965-1966)

Penulisan buku ini bertujuan untuk mulai memetakkan kembali arti penting pembantaian yang terjadi tahun 1965-1966 dalam sejarah Indonesia, yaitu dengan menyatukan apa yang sudah diketahui mengenai kejadian apa tersebut, dan dengan memahami arti pentingnya.

Tuisan ini bukan merupakan pernyataan final, tapi mungkin lebih merupakan langkah awal, karena analisis mengenai pembantaian merupakan sekumpulan masalah yang sangat rumit dalam sejarah Indonesia kontemporer, yang melibatkan berbagai masalah, yakni masalah informasi, filosofi dan interpretasi. Tetapi dengan mengetengahkan persoalan – persoalan ini, paling tidak kita telah membuat suatu langkah kedepan untuk menyelesaikan masalah ini.

-10%Sold out
Close

Kuasa Kata (Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia) – Mata Bangsa

Rp 200.000 Rp 180.000

Kuasa Kata (Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia)

“Sebuah kumpulan tulisan yang mengagumkan, kaya akan gagasan dan interpretasi. Menurut pembacaan saya, tema sentral buku ini adalah krisis dalam budaya Jawa yang dimulai pada abad ke-17 dan upaya-upaya generasi-generasi penerus Jawa-Indonesia untuk menangani krisis tersebut.” (William Liddle, Jurusan Ilmu Politik The Ohio University)
Dalam buku ini yang ditulis dengan lincah dan penuh semangat ini, Benedict R. O’G Anderson menjelajahi kontradiksi-kontradiksi budaya dan politik yang telah muncul dari dua kenyataan penting dalam sejarah Indonesia –bahwa penaklukan oleh Belanda terhadap Indonesia berawal dari ketika bangsa Indonesia masih muda, negara Indonesia masih kuno, yaitu pada awal abad ke-17; dan bahwa praktek politik Indonesia kontemporer telah dilakukan dalam bahasa baru, bahasa Indonesia, oleh banyak orang (khususnya orang Jawa) yang budayanya berurat-urat di zaman pertengahan.
Melalui analisis atas warna-warni berbagai hal, mulai dari puisi klasik (Jawa), praktek berbahasa sehari-hari, bangunan-bangunan monumen, hingga kartun, Anderson memperdalam pemahaman kita atas hubungan timbal balik antara makna tradisional kekuasaan dan makna modernnya, bahasa sebagai wahana kekuasaan, dan pembentukan kesadaran nasional.

-6%Sold out
Close

Musik Untuk Kehidupan (Kumpulan Tulisan)

Rp 50.000 Rp 47.000

Buku ini memuat 50 esai dengan dilengkapi prosa untuk menggambarkan berbagai fakta musik atas kaitannya makna-makna bagi kehidupan manusia. Ditulis dalam rentang 1 tahun (2015-2016), buku ini adalah lanjutan dari seri Short Music Service yang dicanangkan Erie sebagai memoar kumpulan tulisan-tulisan musiknya. Musik Untuk Kehidupan adalah Seri Short Music Service yang keempat, setelah Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia (2008), Memahami Musik dan Rupa-rupa Ilmunya (2014), dan Intuisi Musikal (2015).

 

“Seandainya musik bukan bagian dari nafas-nafas kehidupan individual, kehidupan sosial, dan kehidupan kebudayaan, maka musik di Indonesia sudah lama mati, dan Erie Setiawan, melalui bukunya ini, mengingatkan kita akan hal itu.” Rizaldi Siagian, Etnomusikolog

 

“Pikiran Erie melengkapi dan mencari-menemukan pasca perspektif era Dungga, Amir Pasaribu, Suka Hardjana, Remy Sylado, dan sekian esais kolom cetak kertas koran mapan. Kuota dimensi musikal Erie beda tajam melebihi mitos musikolog, komposer, instrumentalis dan operator non-digital, rekayasawan industri, pra online, dan hantam kromo. Erie punya ketekunan berharga, dan buku ini penting bagi generasinya.” Sutanto Mendut, Budayawan

 

-5%
Close

Malaikat di Batas Senja

Rp 40.000 Rp 38.000

… Berapa kali kamu mengatakan itu pada diri sendiri? Gerutu diri menolak takdir. Meluap amarah ketidakterimaan.. Bahkan tak jarang sumpah serapah terucap dari labial yang tak sadar. Menyalahkan Tuhan? Memvonis Tuhan? Mengatakan Tuhan tidak adil atas jalan hidupmu?…

Nayatul Aulia, gadis penderita sinutis sekaligus scoliosis. Seorang gadis yang mendapat kejutan istimewa di usianya ke tujuh belas. Awal sebuah vonis yang mengubah dunianya. sekian tahun hidup dalam ketidakterimaan pada takdir yang digariskan untuknya. Tenggelam dalam stigma negatif yang membuatnya melepas semua harapan yang awalnya tergenggam erat. Hingga pada akhirnya ia kembali menemukan dirinya yang telah lama hilang ditelan kepahitan. Melalui perjalanan panjang, ia banyak mendapatkan pelajaran berharga yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang peka akan isyarat alam. Karena dibalik semua itu ada rahasia mata yang tak nampak secara lahiriah namun perlu pemaknaan, perlu penerimaan untuk membaca rahasia itu …

-9%Hot
Close

Khotbah

Rp 45.000 Rp 41.000
-8%Hot
Close

Seikat Kisah Tentang yang Bohong – Indie Book Corner

Rp 60.000 Rp 55.000

Begitulah. Henry kecil terus berlari ke tengah hutan, diajaknya serta Susan yang terengah-engah mengikutinya dari belakang. Panas itu menjalar perlahan ke arah Susan. Dilihatnya mata Susan dipenuhi asap putih abu-abu bergumpalgumpal.

Hidung Susan mengeluarkan busuk belerang. Henry semakin mempercepat larinya. Rasa iba menjadijadi
pada dirinya. Ah, karena dia, Susan pun terbakar sekarang. Oh, Susan yang malang, gadis penyayang binatang yang tak paham rasa air hangat maupun air dingin kini terpaksa merasakan sengatan api di mulutnya. Terus berlari. Tak terasa ia punya kaki lebam-lebam.

Sold out
Close
Sold outHot
Close

Candide

Rp 77.000

Candide – Roman ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Candide yang, seperti karakter utama dua novel Voltaire yang lain, Zadig dan L’Ingenu, amat jujur, baik, hati, dan lugu. Dan seperti mereka pula, keutamaan Canidide tidak membuatnya terhindar dari berbagai macam musibah. Penderitaan Candide dimulai ketika ia, laksana Adam yang harus meninggalkan Taman Eden, diusir dari istana baton Thunder-ten-tronckh, di mana Cunegonde, gadis yang dicintainya, tinggal. Selanjutnya, Candide harus mengalami kesialan demi kesialan dalam petualangan lintas benuanya demi bersatu kembali dengan Cunegonde. Meski novel ini hakekatnya adalah satir–paragraf pertamanya saja sudah sarkastik, ia juga dipandang sebagai cerita coming-of-age yang menceritakan pertumbuhan karakter utamanya, dalam hal ini secara filosofis.

Sold out
Close

Jiwa-Jiwa Yang Sakit

Rp 37.500

Hidup adalah tentang

Orang-orang yang berdamai

Dengan Tuhannya

Alamnya

Manusianya

Dan dirinya sendiri.

-11%
Close

Lara Karuna

Rp 45.000 Rp 40.000

Joko Kumboro, seorang pemuda yang sedang mengalami dorongan perasaan yang dalam pada Dewi Sharmila putri. Dorongan perasaan yang membuatnya merasa tak berdaya dengan kedalaman perkembangan perasaannya sendiri yang coba ia redam di dalam hatinya selama bertahun-tahun. Joko Kumboro merasakan begitu fluktuatifnya hidup.

Pertemuan dengan seorang lelaki paruh baya membukakan mata dan nurani Joko Kumboro untuk melihat realitas kehidupan yang membuatnyamulai memahami bahwa cinta tak sebatas gairah asmara.

Lalu, bagaimanadengan perasaannya terhadap Dewi Sharmila Putri yang telah membuatnya terombang-ambing dalam gelisah?

Sold out
Close

Sayang Tanpa Ng

Rp 150.000

Berbagai macam cara dilakukan orang untuk menyampaikan sebuah cerita. Ada yang menyampaikannya melalui kata, melalui gambar, atau melalui warna. Dan buku ini menyampaikan Ketiganya sekaligus.

Dilengkapi dengan ilustrasi visual yang menarik. Setiap halaman buku ini membebaskan serta menjembatani imajinasi pembaca.

Ada Warna, ada gambar, ada kata. Sebuah refleksi Nita Tracy yang lahir dari banyak cerita manusia. selamat menikmati cerita dalam kata, gambar dan warna dalam refleksi Sayang Tanpa Ng.

Nb: buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul Shame Without Sha.

Sold out
Close

Serendipity

Rp 40.000

Tapi terkadang aku benci
Aku benci dengan ketidakmampuanku
Ketidakmampuanku menyadari kau tidak ada di sini
Kau tidak sedekat saat sapamu ada pertama kali

-9%Sold out
Close

Rumah Delima

Rp 44.000 Rp 40.000

Rumah Delima berisikan empat cerita pendek: “Sang Raja Muda”, “Ulang Tahun Sang Infanta”, “Si Nelayan dan Jiwanya”, dan “Anak Bintang”.

Kumpulan dongeng ini diterbitkan tahun 1891. Tak seperti kebanyakan dongeng, Rumah Delima menawarkan gaya bahasa yang indah, dan buku inilah salah satu dari sekian banyak karya Oscar Wilde yang membuatnya dikenal sebagai pelopor sastra estetis.

Sold out
Close

Aesop

Rp 49.000

Ada seratus lima puluh fabel dimuat dalam buku ini. Di antaranya fabel-fabel terkenal seperti: Angsa Bertelur Emas, Keledai Berulu Singa, dan Serigala Berbulu Domba. Konon fabel Aesop telah ada sejak abad 6 SM. Bukan sekadar kisah moral, fabel Aesop sesungguhnya adalah alegori politik, yang menggambarkan betapa golongan yang kuat selalu berusaha menguasai, mengendalikan, dan bahkan menghancurkan golongan yang lebih lemah.

-8%Sold outHot
Close

Menulis Itu Indah

Rp 65.000 Rp 60.000

Para penulis tak juga berhenti merangkai kata. Umberto Eco bahkan menganggap menulis sebagai kewajiban politis-nya. Jika tak punya kendali atas otoritas politik, maka tuliskan keesahan itu bagi orang lain. Inilah tugas yang sebenarnya bagi para sarjana, juga warga negara lainnya, tutur Eco. Kita harus terus berpendapat karena kita wajib menyatakan sesuatu, dan bukan dimestikan karena kita punya kepastian ilmiah yang tanpa boleh dibantah.

Bukan maksud para penulis di buku ini untuk menjadi yang paling tahu. mereka sekadar memberitahu, sudah lama melalui karya mereka dan kini–dalam buku ini–melalui esai-esai mereka tentang dunia kepenulisan. Maka dari itulah,gatra-gatra tentang tulisan dalam kumpulan esai ini pun hadir dengan beragam perspektif. Bahkan, latar belakang disiplin kerja mereka secara ilmiah pun beraneka rupa.