Puisi-Puisi Tiara Dianita

Puisi Untuk Budi

Untuk Budi yang terbebani dengan maskulinitas

Tarik nafas

Menjadi laki-laki bukan hanya soal mengangkat berat

 

Untuk Budi yang terganggu dengan iklan televisi

Jangan sangsi

Ideal kaum Adam bukan hanya perkara dollar atau ferrari

 

Untuk Budi yang juga mengutuk patriarki

Jangan cepat marah

Biar Siti bantu memangku beban

Tapi jangan lihat Siti hanya dari lekuk badan

 

Untuk Budi yang sedang kesepian

Nikmati

Ada waktunya Siti menghampiri

Membawa jiwa juga hati

 

Namanya Alicia

Alicia berkaca

Pipinya kurang berwarna

Ditambahnya perona

Siapa tahu bertemu jodoh di kereta

 

Alicia berangkat ke tempat kerja

Sepatu tinggi dipakainya

Pegal tak apa

Yang penting dilirik dari atas sampai bawah

 

Alicia mengetik laporan kerja

Tak ada waktu untuk berkaca

Ia serahkan pada Tuhan yang Mahakuasa

Semoga tidak ada cabai merah di giginya

 

Alicia menyerah

Pulang kerja menyetel ganteng-ganteng serigala

Bermimpi akan pria idamannya

Menaiki Ninja sambil membawa bunga ke rumah

 

Alicia tertidur

Mimpinya indah

Wajahnya lebih indah

Tak ada perona

Hanya senyum tersungging di bibirnya

 

Diskusi Raina Kecil & Raina Besar

A: Apa yang lebih panas dari matahari?

B: Sepi.

A: Apa yang lebih dingin dari batu es yg kuhisap tadi?

B: Sepi.

A: Apa yang lebih harum dari bunga melati?

B: Sepi.

A: Aku bosan. Sepi lagi, sepi lagi. Apa yang lebih seru dibanding sepi?

B: Bahkan sepi itu sendiri. Sepi dapat menciptakan bait demi bait menjadi sebuah puisi, kata demi kata yang ditulis menjadi lirik lagu oleh kekasih. Tapi bisa juga membuat manusia ingin mati dan kembali kepada ilahi.

Mau tau yang lebih hebat lagi?

A: Apa?!

B: Kamu diciptakan dari sepi.

A: Bukannya aku keluar dari rahim ibu?

B: Sembilan bulan sebelumnya kamu dibuahi oleh sepi bapak dan ibumu

 

Perempuan itu

Perempuan itu mati rasa

Sialan

Tiba-tiba menjadi ada bukan pilihannya

Ditelan bumi atau langit sekalian saja

Atas nama moralitas dan agama

Mereka lupa dan terus lupa

Tak sudi untuk kembali membuka ingatan lama

Jadilah perempuan itu hanya kumpulan repetisi murka

Murka

Murka

Murka

Murga

Surga

Kamu di mana

 

N…ur?

Aku menemuinya di hotel untuk kesekian kali. Ia bukan pelanggan biasa, tapi bukan karena kaya raya. Ia membuat jantungku terpacu bukan hanya karena nafsu, jiwaku terasa diajak bercinta. Biasanya sehabis transaksi, mereka langsung pergi. Tapi ia tidak, ia menyeduh kopi untuk dinikmati berdua. Kopi hitam tanpa gula di pagi hari membuat kami berdua kembali bercinta. Yang kali itu tidak masuk hitungan, kuberikan cuma-cuma. Lalu kami berbicara tentang berita pagi di televisi, segera kutahu ia bukan cuma pintar di ranjang. Pantas saja ternyata lulusan S2, sedangkan aku hanya lulusan kehidupan dunia. Teleponnya berdering… katanya ia harus kembali bekerja. Tiba-tiba dadaku sesak, aku pun harus kembali bekerja dengan laki-laki yang bukan dia.

 

Namaku Nur. Aku pelacur. Yang penting tidak menganggur.

Artikel ini diposting pada Puisi dengan tag .

Tinggalkan Balasan

Close