Puisi-Puisi Politik Syafri Arifuddin

1. Lihatlah ke Bawah Sekali Saja, Tuan

Aku melihat gelembung-gelembung keresahan
membuncah di wajah lelaki renta tepat pukul dua belas malam
saat lampu jalan juga pamit kepada pejalan kaki di desa. Mereka
adalah masa kecilku yang hanya memikirkan makanan.

Aku melihat gelombang-gelombang pemberontakan
yang tumbuh satu-persatu dalam lorong-lorong
di kota yang terabaikan keramaian. Mereka
adalah masa remajaku yang ditumbuhi rasa tidak mudah percaya.

Aku melihat matinya seorang anak kecil di kota.
Dibungkam dengan teknologi abad dua puluh satu.
Mereka termasuk aku juga dan seperti biasa
kau pura-pura buta di gedung yang telah ramai ditumbuhi basa-basi.

2. Dalam Bilik Suara

Aku memutuskan memanggil kembali diriku
yang terlanjur kau bawa pergi tahun lalu.
Aku belum siap, ternyata segala resah selalu menjadi mimpi buruk.
Kau salah satunya, seperti kisah Titanic yang tak berakhir bahagia.

Aku harus menunggu empat tahun lagi.
Sesal selalu menjadi aib bagi diri sendiri.
Kau telah membunuh mimpi seorang lelaki
yang ingin mati bahagia di rumahnya.
Buldoser berwarna kuning jadi kado
yang paling mengejutkan. Aku tidak lahir hari ini.

Diriku telah pergi bersama paku
yang menembus kertas bergambar wajahmu.
Dalam waktu lima menit kau telah mengambil semuanya, termasuk
seluruh harapanku juga mimpi-mimpiku.
Sekarang aku meminta itu kembali. Tolong.

“TANAH INI MILIK NEGARA”
kata papan pengumuman
yang bau catnya masih menyengat di hidung.

3. Gara-Gara Pemilu

Air di mataku mengalir seperti air bersih di Larantuka
dan air mata ibuku seperti menunggui
setetes susu dari kaleng yang nyaris habis.
Air mata ternyata tak pernah menyelesaikan apa-apa.

Bantuan tak kunjung datang karena berbeda dalam hal pilihan.
Orang-orang sibuk melanggengkan kepentingan
jauh dari mengakrabkan kekeluargaan setelah pilkada.

Semenjak kami percaya demokrasi, hal-hal yang tak diduga terjadi.
Senyum tak pernah lagi terlontar kala waktu pasar di hari Jumat tiba.
Kerabat tak lagi datang berkunjung untuk sekadar menanyakan kabar
dan teh juga kopi tak pernah lagi hangat di ruang tamu.

Semuanya terasa asing oleh sebab orang-orang asing
datang berwisata dan membangun rumah. Ternyata
kita sangat ramah kepada tamu tapi tidak dengan keluarga sendiri.
Tamu diberikan tanah agar merasa nyaman.
Tak butuh pintu belakang untuk membeli gula agar tak terlihat.
Semuanya lebih kasatmata sekarang dan tidak punya etika.

Ucapan selamat berbelanja yang sering terdengar di mini market
diucapkan dengan dibubuhi tanda tangan—dengan senyum pula.

Aku semakin merasa kesepian sebab
bahasa tak mampu mengakrabkan kita lagi.
Aku tidak menganggap paku yang terlepas dari sebuah pohon
setelah lama tertancap adalah sebuah luka yang membekas dan susah hilang.
Orang-orang datang dan pergi, begitupun segala kekuasaan yang menyertainya.
Tapi sesungguhnya, aku tak pernah menyukai hal-hal yang menjauhkan anak dari bapaknya.

4. Sudah Waktunya Pulang

–kepada : Arifuddin Masser

Sudah waktunya pulang,
rambutmu kian memutih dan meninggalkan kulit kepala.
Rapikanlah perkakasmu. Usia lima puluh delapan tahun
sudah cukup untuk berbakti. Dunia yang kau geluti
sekarang mirip serigala yang memangsa apa saja, siapa saja.
Aku takut hanya karena tanda tangan engkau masuk bui.

Sudah waktunya pulang,
lepaskanlah rindu yang telah lama meradang
istri dan anak-anakmu butuh doa
yang engkau pandu saat makan malam.
Kembalilah, semua orang punya waktu kedaluwarsa.
Tempat kerjamu tak kenal tua atau muda,
yang ada kepentingan menjelma dewa.

5. Generasi Anti Tabayyun

Banyak kepala yang lebih dekat
ke bibirnya sendiri daripada
bibir orang lain.

Banyak kepala yang sibuk
dengan sudut pandangnya sendiri
tanpa mau berpindah posisi.

Banyak yang suka jadi hakim
buat orang lain. Padahal
tanpa sadar ia juga seorang
tersangka.

Artikel ini diposting pada Puisi dengan tag .

Tinggalkan Balasan