Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping cd audio tersebut. Selain itu penjualnya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi karena makin banyaknya tersedia kamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis, misalnya karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tesebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik . Di banyak negara, praktik self-publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self-publishing semakin dipenuhi oleh angota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalty penulis pemula hingga 8%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulisĀ marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakalĀ best seller. Karena itu ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Bagaimana hasil akhirnya? Hasil harus dilihat berdasarkan tujuan. Ada yang bertujuan agar bukunya sekadar terpajang di toko buku, ada yang sadar bahwa pasarnya sempit sehingga penerbit pasti tidak mau menerbitkan, ada yang punya tujuan ekonomi, ada yang ingin menjadikannya kado persembahan dan ada banyak tujuan lain. Dalam praktik semua tujuan itu selalu ada, dan banyak pula yang berhasil. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova-nya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan buku melalui jalur indie label.

Lalu, kenapa Anda belum memulai? Belum tahu atau belum berani? Indie Book Corner ada untuk membantu anda. Jangan ragu untuk segera mengontak kami. Kami akan membantu siapapun yang ingin menulis dan menerbitkan bukunya. Segera selesaikan buku Anda, hubungi kami. Kita diskusikan buku Anda, dan segera kita eksekusi supaya cepat tersaji di hadapan pembaca. Apakah melihat orang-orang terdekat, sahabat, orang tua dan kerabat lainnya membaca buku Anda bukan merupakan sebuah kebanggaan?