Beranda » Yovi Sudjarwo

Tampilkan 4 hasil

Show sidebar

Restoran Lee

Rp 80.000 Rp 75.000

Novel ini enak dibaca dengan bahasa yang mengalir, mudah dimengerti, dan menggambarkan situasi kota Wolfenbuttel dan Braunshweig di jerman dengan detail. Restoran Lee adalah novel keseharian hidup yang selalu berulang tentang cinta, cita-cita, dan keluarga. Jika Anda membaca novel ini, maka banyak nilai kehidupan yang akan menginspirasi tujuan hidup ini. Novel Restoran lee adalah novel pertama dari trilogi novel yang akan berlanjut pada novel Roullette dan novel Zuhud.

Wartawan Kerah Hitam

Rp 70.000 Rp 65.000

Idealisme kaum muda yang tinggi menjulang sampai nyaris menyentuh bulan sering tak berarti apa-apa karena begitu bersentuhan dengan realitas hidup yang keras, tak jarang sangat getir, apa yang ideal itu terasa begitu jauh, tanpa pijakan, dan rapuh. Meskipun begitu, tantangan keras dan sangat getir seperti itu masih sering bisa dikalahkan dengan apa yang disebut “prinsip”, diikuti penegasan: hidup harus dibangun di atas landasan dan prinsip yang jelas, agar kita tak mudah terbujuk.

Tapi ketika apa yang kita sebut realitas hidup itu tampil lembut, halus, dan agak menggoda, dengan tawaran yang menjamin kenikmatan hidup dan tambahan derajat lebih tinggi, maka penolakan terhadapnya hanya akan menjadi sikap yang bisa diejek ‘keras kepala’ dan ‘dungu’. Dan sering dengan tambahan bahwa yang bersangkutan hidup seperti di awang-awang. Bisa saja dia tidak peduli sama sekali. Boleh jadi idealismenya bisa bertahan sebulan, dua bulan, atau sedikit lebih lama lagi.

Namun bila bujukan itu begitu gigih dan tetap dalam kelembutan yang seolah tak memiliki kepentingan apa pun, maka seperti yang banyak terjadi, idealisme itu diam-diam takluk dan runtuh total. Dan orang berkata—mungkin dengan sedikit kecewa—bahwa di dunia fana ini barang apa yang punya harga bisa dibeli. Begitu juga ‘harga diri’.

Novel ini bermain di dalam setting moral yang kurang lebih mencoba menjelaskan bahwa idealisme itu rapuh, dan bagi banyak orang, daya hidupnya pendek. Banyak orang idealis yang tunduk pada keadaan. Kemudian berkhotbah mengenai realitas hidup yang memang sudah begitu adanya dan tak mungkin digoyah-goyah lagi. Kita harus realistis. Maka hidup dengan idealisme dianggap terkutuk. Atau dungu.

Tokoh kita, bukan tipe pribadi seperti itu. Dia tak ingin menjadi “yang terkutuk” dan dungu. Dia bermain di dalam situasi “rusuh” dunia media yang memalukan itu. Dan dia kelihatannya bermain dengan lihai. Apa yang sudah buruk dibikin menjadi lebih buruk. Apa yang sudah terlanjur “edan” dibuka sekalian agar yang edan tampak edan sungguhan tanpa rasa malu. Sikap munafik, sok suci, dan penuh sikap kongkalikong tak lagi ditutup-tutupi. Media tak lagi menjadi cermin hati nurani masyarakat, tak menjadi masalah. Dia telah memilih peran dengan penuh kesadaran.

(Mohamad Sobary, esais)

Dari sejumlah novel berlatar cerita dunia jurnalistik, Wartawan Kerah Hitam termasuk yang menarik untuk dibaca. Selain karena secara rinci mampu menggambarkan ruang dapur, kebijakan, dan situasi lapangan peliputan berita, ia juga mengisahkan tentang apa yang terjadi di balik berita. Termasuk rekayasa, intrik, dan pemerasan yang dilakukan para pewarta. Mulai dari pewarta bodreks sampai kebusukan para pemimpin media massa. Kecermatan pengarang menguraikan rincian, taktik pemerasan, teknik peliputan, dan penulisan berita menyebabkan novel ini cukup kredibel untuk dibaca. Tidak hanya untuk kalangan jurnalistik tapi juga oleh pejabat, para koruptor, manipulator, bahkan para penasihat spiritual dan pimpinan partai politik. Sebuah novel yang cukup menegangkan sebagai fiksi, tapi juga sangat meyakinkan sebagai realitas. Bagus!

(Noorca M. Massardi, pengarang dan pewarta)

 

Surabaya Punya Cerita

Rp 70.000 Rp 60.000

Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semuanya berawal dari kebiasaan saya yang selalu diceritani ibu saya asli Surabaya, tentang masa muda dan keadaan kota ini di masa lalu (tentu saja berdasarkan yang beliau ingat).

Kenapa harus cerita? Saya yakin, tak ada seorang pun yang tak suka diceritani ataupun bercerita. Cerita ini bisa berwujud sejarah, nostalgia, pengalaman, kekinian bahkan bisa saja impian di masa depan, yang terekam secara dinamis melalui gaya hidup, dinamika masyarakat, seni, budaya, dan lain-lain, yang biasa disebut sisik melik. Surabaya Punya Cerita: Sudut Berbagi Cerita dan Sisik Melik Surabaya.

Tentang Pertemuan

Rp 60.000 Rp 45.000

Telingaku tergelitik suara guyuran air yang terdengar cukup jelas dari tempatku duduk. Memancingku untuk berdiri. Pura-pura melihat foto yang terpajang di dinding. Perlahan tapi pasti, aku sudah di depan pintu kamar mandi tempat kakak Nanda berada. Suara guyuran semakin jelas dan aku mengambil kursi di dekat sana. Berjinjit. Kepala kakak Nanda samar terlihat dari ventilasi di salah satu sisi di atas kamar mandi.

Seperti tahu ada mata asing diam-diam mengintipnya, tiba-tiba kakak Nanda menoleh. Habislah aku! Wajahnya tampak terkejut dan refleks mengempaskan segayung penuh air ke arahku. Tepat masuk ke mata. Keseimbanganku goyah dan…

“BRUK!”

***

Sesuai judulnya, buku ini merupakan kumpulan cerita yang berkisah tentang pertemuan. Berbagai macam pertemuan yang kadang memiliki akhir yang memilukan dan tidak terduga. Imajinasi penulis yang unik membuat kumpulan ceritanya berbeda dengan cerita kebanyakan yang itu-itu saja dan mudah ditebak. Dikemas dengan gaya yang manis dan penuh kejutan.

***

“Cerita-cerita ini seperti bertutur sendiri. Kekuatan yang bahkan membuat sebuah kisah masih terus berlangsung di benak pembaca. Siapa yang sanggup menahan laju penasaran seperti Pada Laju Kereta? Cerdik, runut nan menawan”. (Oddie Frente, Penuis Cemburu Itu Peluru)