Kolom

Pengumuman Pemenang #KuisBukuIndie Edisi Angsa-Angsa Ketapang

Halo!
Buat yang sudah menunggu-nunggu pengumuman #KuisBukuIndie Maret lalu, berbahagialah! Kami datang membawakan pemenang!
14 Maret 2014 yang lalu, kami menerima cukup banyak kiriman puisi yang diikutkan dalam #KuisBukuIndie yang menjadi rangkaian acara Peluncuran Buku “Angsa-Angsa Ketapang”, sebuah kumpulan puisi Bernard Batubara. Sekilas bercerita, acara peluncuran bukunya yang digelar pada tanggal 17 Maret 2014 di Warkop Bardiman itu berjalan sukses dan asyik sekali. Nah, puisi-puisi tentang angsa yang tiba di redaksi kami ternyata tidak kalah meriah. Setelah melalui proses pemilihan, bersiaplah, ini dia puisi angsa yang mencuri perhatian.

Pemenang ketiga:

Kepak Sayap Angsa

Kepada deras yang terjadi
Semua basah terhadapanya
Segala jenis rintiknya sama
Membasahi dan menyakiti

Wanita muda, bertatap teduh itu
Datang lalu pergi
Ibarat kedua bola matanya
Berisi kosong

Masih sama seperti sepuluh menit yang lalu
Deras ini masih membasahi
Segala kering tak lagi terwujud
Basah

Jejak wanita muda itu yang basah
Jutaan anak rambutnya menjelma hitam
Segala aromanya yang tak lagi membau
Mungkin wanita itu mati kedinginan

Hembusan anginnya kencang menerpa segala apa pun
seluruh rintiknya menjelma busur panah
yang mencium raut wajahnya
tepat di dahinya tidak ada nama seorang lelaki yang mencintainya.

Selamat pada @nebulasenja!
Puisinya juga bisa dilihat di http://skyrainbowsky.blogspot.com/2014/03/basah.html

Pemenang kedua:

Bagai Angsa Mendamba Selaksa

Manakala pelukis tua mulai mengotori tepi bibirnya dengan cerutu
Sebelum jemarinya kerasukan roh kunang-kunang
Terlebih dahulu ia memainkan asap yang melayang-layang
Dan perempuan berparas ayu tak lagi merasa pilu
Semenjak laki-laki berpakaian serba beledu datang membawa syair
Lama nian lelaki itu tak mengucap salam pada dermaga
Mengembara entah ke mana
“Mencari sesuap nasi,” tukas lelaki itu terlalu klise
Kepada sebuah hari yang kian lapuk
Ingar bingar rindu menggelayuti senja
Riak-riak amor lenyap di ujung nestapa
Sedang pelukis tua telah larut dalam sketsanya
Barangkali berlaga demi senja terakhir kali baginya
Melukis dua sejoli yang tampak begitu memesona
Duduki tubir telaga di ujung jalan setapak
Seperti biasa, angsa putih tampil sebagai pemeran utama
Ia merasakan kedinginan
Semestinya semesta kembalikan matahari di pucuk langit
Namun, kedua sejoli masih mendamba senja
Yang baru saja mereka tinggalkan lima tahun lamanya
Lalu bagaimana sayap-sayap angsa itu?
Alam pasti kan menutup retina jika angsa mati terkapar
O pelita…
Kini pelukis tua siap pentaskan lukisannya
Di depan mereka sang pemuja roman rindu
Lukisan tua oleh pelukis kawakan
Terlukiskan sebuah telaga yang tampak mencekam
Bulir panji-panji semesta tak ia lukiskan
Hanya satu angsa yang seolah-olah memuja kematian
Sendirian dalam air payau
Kedua mata mungilnya tak lagi setenang tengah malam
Bukan lagi seolah biduk tuk menggembalakan bintang
Sedang sejoli tampak meratapi masa-masa saat mereka menuai jarak
Tak marah karena wajah keduanya bukan pelakon di sana
Bahwasanya pelukis tua memberi sayap pada kata di bawah tangisan angsa
“Bagai Angsa Mendamba Selaksa”

Jumat, 14 Maret 2014
14.20 WIB

Ini karya @Cpramugari lewat lamannya http://elsaanismonika.tumblr.com/post/79538924928/bagai-angsa-mendamba-selaksa

Maka, inilah pemenang pertamanya!

Katakanlah Kami Ini Angsa Di Ujung Sekarat Telaga Semesta

:kami perlahan mati disiksa hati nurani
aku mati, boleh kau sebut juga tak hidup. tapi aku berharga, ini bukan mauku karena aku tak sanggup berkata, apalagi berbohong. semesta di mataku itu kalian para manusia, semua tanpa pilih termasuk yang sombong. hargaku mutlak setara miliaran nyawa kalian. mereka anggap aku anugerah semenjak poros ini berputar sampai sekarang ketika kau berkelakar.
kadang mereka mengakui aku ini ladang, tapi sesekali aku mereka kutuk karena ulah salah satu pecundang. di sela gersang ada secuil doa merajut namaku, di terjang gelombang ada segunung maki yang tak lagi terucap namun berlari menujuku.
sementara, di sudut telaga aku rumah bagi segerombol angsa. aku abiotik yang katanya tak hidup tapi menggelitik dan bisa mencekik. kalian biotik yang memang hidup tapi kadang bisu dan tak malu karena lewat bisik.
lihatlah angsa-angsa itu. mereka minum airku, mereka bermain di pelataranku. mereka tak semu, kalian yang batu.

manusia seperti aku pantas bertemu rindu, sombong yang kita simpan beradu di ujung ranu. aku dan sejarah rumit mengenai dinding telaga di sandar yang seperti parit. kalian sembunyi, aku bangga walau tak bisa berdiri. aku bahkan tak berkaki.
angsa-angsa itu, berdiam di ujung sakit yang terlalu berlebihan diutarakan. kita lumpuh, mungkin mencoba bangkit di tatar agitasi yang tersemukan di dahan sungkan. beberapa di antara kami memiliki bulu yang indah. sombong yang kubilang tadi tak salah, tak coba pula berbenah.
kami hanya angsa, dalam ingatan kalian menjelma indah yang bertaut terpaku masa lalu. aku mencoba bertanya pada malam, pada siang. mereka tak menjawab, kami bersumpah diam, seikat menyimpul lubang. kami angkuh yang bergantung pada sokong, kami rima dalam puisi yang sombong .

Solo, 14 Maret 2014

Yihuuu… selamat untuk @kolorjingga! Puisi ini juga dapat dibaca pada http://serpihanjigsaw.wordpress.com/2014/03/14/287

Seperti yang dijanjikan dengan manis, kami akan mengirimkan hadiah buat ketiga pemenang yang dicantumkan di atas. Maka dari itu, para pemenang dimohon mengirimkan data diri dan alamat ke bagustian@bukuindie.com. Pemenang pertama akan mendapatkan buku “Angsa-Angsa Ketapang“ dan dua buah buku lainnya; pemenang kedua akan menerima dua buah buku; dan pemenang ketiga akan kami kirimi satu buah buku.

Terima kasih untuk yang sudah berpartisipasi dalam #KuisBukuIndie kali ini. Nantikan dengan gembira #KuisBukuIndie selanjutnya, ya! Tetap sehat, semuanya!

– Pita, editor Indie Book Corner.

Tinggalkan Balasan