Showing 121–150 of 196 results

Show sidebar
-9%
Close

Malaikat Cacat

Rp 35.000 Rp 32.000

Elok parasmu hanyalah gerbang
“Voila! Masuklah ke dalam,” katamu.
“Akan kutunjukkan lebih banyak.”
Cadar jiwamu perlahan kau singkap
Endapan hasratku seketika meluap
Lelaki mana tak terperangah?
Iman siapa tak ‘kan goyah?
Alamak jang! Senandungmu bikin kapal oleng

-10%Hot
Close

Venolia Ordhit

Rp 80.000 Rp 72.000

Buku ini menceritakan tokoh “Aku” sebagai anak muda dalam usia menuju kedewasaannya memilih untuk berlari dari
masalahnya. Namun dalam pelarian itu, hidup justru menantangnya untuk bertarung antara hidup dan mati dari sebuah perjalanan dan petualangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Diiringi berbagai peristiwa-peristiwa unik tentang kehidupan dan bagaimana alam semesta menuntun dengan cara yang ajaib.

Pelariannya segera berubah menjadi pencarian tentang apa makna hidupnya dan perempuan bernama Venolia Ordhit. Apakah pencarian anak muda ini akan berujung pada penemuan?

Siapakah sosok Venolia Ordhit?

-5%Sold outHot
Close

Ketika Di Dalam Penjara

Rp 40.000 Rp 38.000

Berawal dari curhatan temannya yag terjebak dalam penjara bernama pornografi, Farhan mencoba membantunya melalui tulisannya ini. Buku ini mengurai seluk beluk pornografi, mulai dari awal mula kehadiran hingga dampak psikologis yang diderita pecandunya. farhan juga tak segan membagi pengalamannya untuk lepas dari jeratan konsumsi pornografi. Ditulis dengan gaya bertutur yang renyah dan plot yang sistematis membuat anda wajib memiliki buku ini.

-11%Hot
Close

Menjenguk Mantan

Rp 65.000 Rp 58.000

Dari Kisah-kisah jahatnya aku menyesal mendengar
bahwa negara ini adalah seorang perempuan
Menghamili negara

Kuutus puisi terakhir untuk menggantikan tubuhku
peluklah ia kapan saja kau butuh.
Puisi Terakhir

Kunikahi kau dengan seperangkat puisi tiap malam akan kuajari kau
Cara termanis memperlakukan soneta di atas ranjang.
Kunikahi Kau Dengan Seperangkat Puisi

-10%Hot
Close

Tertawa Sejenak

Rp 70.000 Rp 63.000
-9%Hot
Close

Nama Yang Tak Terpikirkan

Rp 55.000 Rp 50.000

Pikiran dan perasaan terpendam bukan sekadar menjadi tema utama dalam fiksi, mereka adalah penggerak kejadian, tragedi, dan kejutan dalam dinaamika hidup manusia sehari-hari.

melangkah menuju pelaminan dengan sakit hati yang mendalam, ladang padi yang mewadahi luapan emosi orang-orang yang melewatinya,imajinasi yang bersikeras menggantikan realitas dan berbagai cerita lain tentang sisi gelap manusia di balik senyumnya sehari-hari terangkum dalam kumpulan cerita pendek ini.

Dengan gaya penulisan dan sudut pandang yang memandang manusia sebagai mahkluk tidak bahagia mengajak pembaca untukmenengok pikiran dan perasaan terpendam keduanya.

-13%
Close

Kekristenan dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

Rp 40.000 Rp 35.000

Kemiskinan masih ad di sekitar kita. Orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani sesama termsuk yang mereka yang miskin.

Buku ini memaparkan pandangn Kekristenan mengenai kemiskinan dan juga membagikn sejumlh pengalaman orang-orang Kristen di berbagai tempat dan waktu dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Sold out
Close

Jiwa-Jiwa Yang Sakit

Rp 37.500

Hidup adalah tentang

Orang-orang yang berdamai

Dengan Tuhannya

Alamnya

Manusianya

Dan dirinya sendiri.

Sold out
Close

Sayang Tanpa Ng

Rp 150.000

Berbagai macam cara dilakukan orang untuk menyampaikan sebuah cerita. Ada yang menyampaikannya melalui kata, melalui gambar, atau melalui warna. Dan buku ini menyampaikan Ketiganya sekaligus.

Dilengkapi dengan ilustrasi visual yang menarik. Setiap halaman buku ini membebaskan serta menjembatani imajinasi pembaca.

Ada Warna, ada gambar, ada kata. Sebuah refleksi Nita Tracy yang lahir dari banyak cerita manusia. selamat menikmati cerita dalam kata, gambar dan warna dalam refleksi Sayang Tanpa Ng.

Nb: buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul Shame Without Sha.

Sold out
Close

Serendipity

Rp 40.000

Tapi terkadang aku benci
Aku benci dengan ketidakmampuanku
Ketidakmampuanku menyadari kau tidak ada di sini
Kau tidak sedekat saat sapamu ada pertama kali

Sold out
Close

Petuah Kinara Dan Kinari

Rp 50.000

Beberapa cerita pendek di buku ini pernah dimuat di majalah Bobo. Buku ini cocok untuk anak-anak karena banyak bercerita tentang pesan-pesan moral/kebaikan. Ada 9 cerita pendek yang kesemuanya bercerita tentang persahabatan, perundungan/bullying, liburan, mahkluk mitos dari abad ke-7, serta kepercayaan diri seorang anak, dan banyak lagi. Helmi menulis ceritanya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak kecil sekalipun. Buku yang pas untuk mengajarkan anak-anak untuk belajar menyukai buku dan cerita.

-6%
Close

Wajah Kota, Wajah Kita

Rp 50.000 Rp 47.000

Berbagai hal menarik dituliskan di dalam buku ini. Mencakup Transportasi(perilaku, manajemen lalu lintas, infrastruktur), Permukiman(Sampah, Harga tanah, air bersih), maupun kebijakan pembangunan secara luas.

Wajah Kota, Wajah Kita merupakan potongan-potongan pengamatan yang dilakukan pada sebuah kota dengan berbagai dimensinya. pngamatan-pengamatan yang kemudian mengerucut pada satu gagasan bahwa wujud kota yang kita tinggali adalah representasi dari kita sebagai warganya.

-7%Hot
Close

Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut

Rp 60.000 Rp 56.000

“Begitulah karakter Miftah yang saya kenal: terbuka, berani, jujur, dan apa adanya. Begitu pula tulisan-tulisan dalam buku ini. Cerita-cerita seputar sepak bola tanah air coba ia sajikan dengan pembahasan yang ringan dan dengan bahasa yang mudah untuk dicerna. Namun demikian tetap dapat mencerminkan sisi-sisi idealismenya sebagai sebuah pribadi. Saya sangat menikmati apa yang tersaji dalam buku ini, semoga Anda sekalian juga merasakan hal yang sama.”–Bambang Pamungkas

-5%
Close

Tanpa Senja

Rp 50.000 Rp 47.500

TANPA SENJA merupakan diorama dari refleksi sebuah fase biologis seorang manusia yang disebut Hidup. Hidup berakar dari basis materi, dan Waktu adalah bagian kecil dari materi itu. Waktu menjadi ruang di mana sebuah langkah dan pikiran dibentuk.

Melalui Waktu itulah Senja menjelma sebuah titik temu yang terkadang dirindukan tapi juga menjemukan. Senja berdiri sebagai titik arbitrer antara siang dan petang. Tapi Senja tak mutlak, dia bisa saja abstain karena mendung menggantung. Senja, bagaimanapun dia hanya riak kecil dari Waktu.

Berangkat dari Waktumaka lahirlah langkah yang disebut Perjalanan. Perjalanan adalah perpanjangan tangan dari Waktu, dia melangkah dan menggambarkan setiap peristiwa menjadi pengalaman, hingga Waktu membekukannya sebagai kenangan.

Melalui Perjalanan seseorang akan keluar dari belenggu ruang dan kemudian berkembang. Melalui Perjalanan pula keberadaan seorang manusia menjadi nyata di hadapan manusia lainnya.Tapi tidak berhenti di situ, Perjalanan ini tanpa sadar telah membentuk seseorang untuk berinteraksi dengan keberadaan mereka yang lainnya dan mengobservasi keberadaannya terhadap mereka.

Semua hal itu akhirnya melahirkan Idealisme, sebuah fondasi dari pemikiran manusia. Dia melebur bersama laku dan napas relasi seseorang. Idealisme hanya akan menjadi Idealisme jika terhenti pada nalar dan tersangkut pada tenggorokan. Dia adalah apa yang tidak bisa dilihat tetapi bisa meledakkan hati orang lain. Oleh karena itu, melalui Tanpa Senja ini diharapkan ada hati yang beku kaku menjadi cair seiring larutnya siang oleh petang. Tanpa Senja bukan berarti melenyapkan senja itu sendiri, tetapi mencoba lepas dari dramatisir senja yang menggerus tulang.

Senja menandai akhir sebuah hari, tapi tidak untuk semangat yang harus digantung pada mimpi malam hari.

-5%Hot
Close

Kitab Pertanyaan Pablo Neruda

Rp 55.000 Rp 52.200

Pablo Neruda merampungkan Kitab Pertanyaan (The Book of Questions/El libro de las preguntas) hanya beberapa bulan jelang kematiannya pada September 1973. Melalui karangan ini, ia sepenuhnya menjadi manusia dan seniman. Seorang penyair berusia 69 tahun yang telah mencerap sumber esensial dari karya monumentalnya, meninjau kembali “kedalaman abadi”: imajinasi yang mengalami regenerisasi dan daya pandang. Puisi-puisi ringkas di sini, seluruhnya berbentuk pertanyaan, mengejawantahkan dedikasinya pada apa yang disebut Hayden Carruth sebagai “struktur perasaan” yang mendasari pengalaman. Pablo Neruda melakukan eksplorasi pada ragam pikir, gaya puitika, dan suara-suara, walaupun kecenderungan renjananya ia peradukan, dan pengembangan atas ritme dasar persepsi yang menguak kebenaran-kebenaran tak terucap atau yang tak dapat diucapkan.

Dari Crepusculario dan Venture of the Infinite Man, dua karya yang paling awal dan terakhir cukup dikenal, hingga pada seri buku ini hadir secara terlambat dan posthumous, Pablo Neruda mengalami peningkatan yang luar biasa dalam hal mempertanyakan siapakah hakikat dirinya. Ia juga yakin bahwa tahap pengesampingan hal-hal yang ia ketahui supaya ia dapat jelajahi ulang rahasia irama dan pengamatannya yang lain. Imajinasinya tidak pernah ditaklukkan oleh ketentuan umum dan, khususnya pada puisi sebelumnya, jarang sekali tampak suaka perlindungan, baik secara kepentingan politik maupun artistik. Pablo Neruda terus saja menantang dirinya sendiri sebagai manusia dan seorang seniman, sampai ia menjadi “pemburu yang cerdik”, mengutip Marjorie Agosin, yakni salah seorang berlapangan kerja mencari dan mencari “akar kepemilikan” di mana pun ia dapati kesimpulan atas dirinya.

Dalam Kitab Pertanyaan, Pablo Neruda mencapai suatu kedalaman akan kerentanan dan daya pandang dibanding karya-karya sebelumnya. Puisi-puisi dalam buku ini terintegrasi antara keajaiban masa kanak-kanak dan pengalaman kedewasaan. Orang dewasa umumnya bergumul dengan pertanyaan anak-anak “yang irasional” semata-mata bertolak dari pikiran masuk akal. Sementara itu, Pablo Neruda membutuhkan kejernihan  yang tersumbangkan dari kehidupan nyata, ia menolak hanya terkungkung pada pikiran rasionalnya saja. Dari sekitar 316 pertanyaan yang terangkum dalam 74 puisi dengan bentuk ini, tak ada sama sekali yang jawabannya masuk akal. Pertanyaan berikut memberi contoh refleksi pada permukaan, yang salah satunya bagiannya membedakan.

Jika semua sungai manis
dari manakah laut dapatkan asinnya?

Satu hal yang harus terpenuhi, bagi pembaca, dari citraan sungai, lautan, rasa manis, dan asin yang gaung artinya lebih dalam ketimbang makna harfiahnya. Di satu pihak, kita mesti bersabar, daripada terburu-buru untuk melakukan penentangan tanya dengan makna yang beralaskan pikiran.
Menatap ke langit malam hari dari dek kapal atau lantai padang pasir, kita lihat sekelebat bintang di kejauhan pada ujung-ujung mata. Saat kita memandanginya langsung ke sana, mereka seolah kabur dari pandangan. Sebagaimana bintang, pertanyaan-pertanyaan di sini sepenuhnya menyibak dirinya sendiri kepada pikiran yang berulang-ulang, yakni pikiran yang terlibat dengan intuisi dan persepsi emosi.

Pablo Neruda mengarang pertanyaannya yang kebanyakan berasal dari objek-objek alam –seperti awan, roti, limun, unta, teman, dan musuh. Kesemua substansi dan bentuk itu berjalin-jalin dalam kehidupan sehari-hari kita; kematian kemudian kelahiran lagi, keterbatasan itu menjadi nyata sebagai pancaran luaran yang merujuk kepada dunia yang lebih besar lagi. Mereka tampak misterius karena, meskipun secara fisik ada dan “konkret”, padanya tiada keputusan atau penyelesaian. Agaknya, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda membuka misteri-misteri baru yang berkaitan dengan kebenaran fisik hingga kebenaran metafisik. Dengan mempersilakan pertanyaan itu mengambil alih, kita akan sampai pada tempat-tempat yang belum pernah dipetakan sebelumnya.

Puisi-puisi di buku ini, bagaimanapun juga, tidak bisa dipertimbangkan sebagai “peta jalan” bagi jalur intuitif, emosional, dan spiritual. Mereka mengarahkan kita pada suatu hidup yang menjamak: mereka menjala kata-kata ke dalam jiwa kita sehingga kita dapat mencerap pemahaman, dan masih secara jelas berada dalam suatu Tempat Tak Dikenal, di mana segala jawab tak memberi nama-nama. Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda sangat dekat dengan semangat kōan. Kōan merupakan sebuah pertanyaan (atau pertanyaan samar laiknya sebuah pernyataan) dalam kontruksi suatu paradoks, yang membantu murid Zen mempraktikkan zazen (meditasi). Sebuah penjabaran mengenai paradoks ini dapatlah ditemukan dalam puisi Zen guru Mumon, yang berkomentar mengenai dua biksu yang saling terlibat perdebatan dengan enam kepala keluarga di mana tergeraklah–angin, panji, atau pikiran.

Angin, panji, pikiran yang bergerak,
pemahaman yang sepadan
ketika mulut terbuka
segalanya adalah kekeliruan

Begitulah cara kerjanya: pikiran menjadi jebakan, sedangkan mulut menjelma kegelapan. Bilamana salah seorang melontarkan suatu anggapan dan ketentuan-ketentuan yang bakal memburu lamunan masa lalu dan masa depan, pikiran dibebaskan untuk menyimak dan ada dalam kemenjadiannya. Selanjutnya, di lain pihak akan tersadar bahwa nilai suatu pertanyaan yang diutarakan penyair Sufi Jalaludin Rumi pada abad ke-13: “Seberapa jauh cahaya ke bulan?/dari bulan?” Dan mengapa ia, setelah tak menumu jawab, kembali kepada bulan tersebut dan berkata, “Di manakah Tuhan?”

Akar sejarah Anglo-Saxon menyebutkan kata “pertanyaan” adalah kuere, yang artinya untuk meminta atau mencari, sebab itulah berhasil atau menang. Dalam bahasa Latin, ini disebut quaerere dan questum; dalam bahasa Inggris kemudian menjadi quaestor dan selanjutnya “pencarian (quest)”, “pemeriksaan (inquest)”, dan “pertanyaan (question).” Cabang akar bahasa lainnya menyebut  “penaklukkan (conquest)”, “menanyakan (inquire)”, dan “memperoleh (acquire)”.
Pablo Neruda mempunyai ketertarikan dalam menanyakan (inquire) perihal kebendaan alamiah, yakni proses inisiasi dari menyatakan tanya yang berasaskan pengalaman, yang diajukan kepada kita atas apa yang ia intuisikan sebagai kebenaran dan perkara yang tidak bisa dipahami. Ketimbang tetap berada dalam kontrol, ia menyelami dirinya sendiri dalam ketidak-tahuan, yang mana dalam ketidaktahuan pertanyaan lantas merasuki imajinasi. Sang penyair bermaksud membedakan antara apa yang ia yakini dalam hati serta jiwanya (gnosis), dan menerima pola-pola pikiran dan perasaan yang membatasi imajinasi serta perkembangannya.

Kitab Pertanyaan memenuhi peran tradisional sebagai puisi terbaik. Sumbangsih terbesarnya adalah menolong kita dalam mengajari masing-masing kita bagaimana cara melihat, secara terpisah membantu untuk terispirasi dan fokus terhadap pencarian inti. Kita berpartisipasi baik merespon pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda dengan “berlari di tempat” bersama citraan (meminjam frasa dari Roshi Charlotte Joko Beck), ketimbang melarikan diri dari pikiran yang rasional. Puisi-puisi di sini merupakan catatan-catatan penuh kata-kata atas imajinasi si penyair; mereka menyibak kebenarannya hanya jika kita hidup dengannya lagi mengalaminya apa adanya. Manakala kita melakukan hal tersebut, imajinasi kita kembali terbangunkan hingga mencapai kemungkinan yang paling tenang dari keheranan dan perasaan kagum. Dalam keadaan inilah, kita mengajukan pertanyaan yang tak berjawab. Dan kita senantiasa merasa, tercermin di antara kita, sifat duniawi yang melampaui, baik pikiran maupun penglihatan.

Buku unik ini merupakan testamen atas segala yang mengukuhkan Pablo Neruda sebagai seniman. Ia tak bisa diberi label sebagai penyair politis atau penyair cinta, penyair yang diakui atau penyair bakat, dan hanya ia seorang yang sanggup menuduh dirinyalah menjadi orang kebanyakan, dan tak pernah tahu  “siapakah aku,/maupun seberapa banyak diriku atau seterusnya.” (“who I am,/nor how many I am or will be”). Maka, untuk memahami tataran kepenyairan ini, penting rasanya menyimak dirinya dalam kerentanan momen-momen. Puisi berikut ini mengandung lebih kurang kemurnian jiwa seorang Neruda.

Burung pengecut manakah yang
mengisi sarangnya dengan limun?

Bagi mereka yang membaca puisi-puisinya mengenai kekalahan orang-orang di lain sisi dari patologi sosial dan politik, tak akan kaget dengan baris seperti ini:

Buruh seperti apakah
yang dipekerjakan Hitler di neraka?

Pablo Neruda ialah seniman kompleks, yang membaurkan gelap dan terang, serta yang merespon sepenuhnya kesatuan pengalamaan yang tersedia bagi manusia. Ia mengenali kontradiksi, bahkan terpagut dengannya, dan kerap kali membebaskan karyanya dari batasan-batasan, penyederhanaan yang berbahaya, agenda ideologi serta pembicaraan mengenai diri sendiri secara berlebihan meskipun tak penting sepenuhnya (egotisme). Dengan begitu, ia menciptakan keterjalinan keindahan, kumpulan karya yang luas cakupan.

Buku ini merupakan seri terakhir karya posthumous Pablo Neruda dari Copper Canyon Press, yang mengantarkan pada kita selubung pengetahuan di mana suatu pencarian dilanjutkan: apa yang dipelajari akan terlupa, maka ia dapat dipelajari kembali.

Dalam sebuah karya awalnya, Extravagaria, sang penyair bertanya-tanya dalam hati:

Anak dari anak atas anak–
akankah mereka membuat sebuah dunia?
Akankah mereka halau kebaikan atau keburukan?
Senilai lalat-lalat atau gandum bermanfaat?

Kau tak ingin menjawabku.

Namun pertanyaan-pertanyaan tak mati.

William O’Daly
Musim dingin, 1991

Close

Seribu Rindu untuk Bulan

Rp 45.000

Maafkan kelancangan bibir ini, bertemu, mengecap, mengeja nama-Mu. Maafkan kelancangan pena ini, menulis makna hijaiah milik-Mu. Sungguh tak pantas kami memulai, dengan selain nama-Mu. Engkau yang dengannya, kami menjadi ada. Perkenankan hamba, meminjam dua dari yang sembilan sembilan. Demi pena Ar-Rahman, Maha Pengasih, demi tinta Ar-Rahim, Maha Penyayang Izinkan mengalir dalam makrifat jiwa jiwa yang tenang, seribu rindu untuk bulan.

Close

Menagih Nyawa

Rp 40.000

Jangan sekalipun kamu bermain-main dengan nyawa! Nyawa seakan memiliki kemampuan tak kasatmata yang menagihmu tanpa lelah sampai kamu bisa menggantinya. Entah dengan nyawamu sendiri ataupun dengan nyawa orang lain yang kamu cintai. Camkan itu! Atau kamu maupun orang yang kamu cintai bakal selesai alias TAMAT!

Selain “Menagih Nyawa”, buku ini memuat sembilan belas cerita pendek beserta puisi lainnya yang mengusung dua bahasa universal umat manusia, yakni karma dan cinta. Dikisahkan dengan gaya penceritaan yang sederhana membuat kisah-kisah dalam buku ini tak cuma menarik namun juga sarat akan pembelajaran hidup.

-10%Sold out
Close

Jam Weker

Rp 46.000 Rp 41.400

Tulisan-tulisan di buku ini semuanya adalah pengalaman pribadi. Ada yang ditulis di ponsel saat perjalanan membosankan Jakarta-Bogor setiap hari. Ada juga yang ditulis ditemani secangkir coffee latte hangat favorit saya di sebuah kedai kopi. Ada yang ditulis di perjalanan panjang di pesawat. Banyak juga yang ditulis iseng di sela-sela menyiapkan materi presentasi di kantor. Bagi saya, menulis bisa di mana saja, kapan saja. Menulis pun tidak perlu dipikirkan rumit, detail, dan penuh teori canggih. Setelah kalimat pertama dimulai, maka kalimat-kalimat selanjutnya akan mengikuti dengan cepat

-10%Hot
Close

wo(W)man: Tuhan Tidak Membuat Rencana yang Tak Sempurna

Rp 65.000 Rp 58.500

Membaca buku ini, membuat kita yakin bahwa kesempatan untuk menjadi baik selalu ada. Kita juga diingatkan waktu yang berlalu tidak akan terulang. Cara kita memaknai setiap peristiwa dalam hidup akan membuat waktu yang terlewati menjadi tidak sia-sia. Dengan bahasa yang lugas Merlyn mengingatkan bahwa
banyak tindakan kita dalam hidup ini yang berlandaskan cinta, kejujuran, dan keberanian menjadi diri sendiri.

Andy F Noya, Host Kick Andy di Metro TV

Saya selalu percaya, untuk menjadi jujur itu tidak mudah, that’s why “Jujur” adalah satu hal yang paling saya kagumi dari membaca buku ini. Merlyn dengan luar biasa memaparkan isi kepalanya dengan sangat jujur dan tanpa tedeng aling-aling.

Saya seperti sedang belajar lagi tentang bagaimana sederhananya memaknai hidup dan sedemikian sederhananya cinta.Merlyn mengajak saya dan kita semua untuk memulai kembali menata hidup dengan sederhana, apa adanya tapi penuh dengan cinta. Dan saya mau berterima kasih untuk masih peduli itu semua. By the way, “Mimpi Tentang Ibu” adalah bagian favorit saya, yang membuat saya sadar bahwa bagian terpenting tubuh kita adalah… baca aja 🙂

Hally Ahmad, Film Publicist, Event Spesialist

Sejauh yang saya kenal, Mbak Merlyn di segala keanggunan dan kejudesannya juga tergambar di kalimat yang ia pilih. Lugas, berani, jujur, tanpa tedeng aling-aling. Itu yang saya suka. Tak ada basa-basi. Membuat kita malu, gerah, tapi asyik untuk mengintip. Dengan beberapa kali gaya bertutur yang ‘keluar dari jalur’ tapi tetap menarik. Dan tanpa modal kecerdasan, Mbak Merlyn takkan mampu menelaah dan mengangkat hal yang sederhana di depan mata.

Dedy Darmawan, ST, Tarot Reader (Solusi Tarot Darma)

 

Mbak Merlyn yang kukenal adalah sosok yang cerdas, inspirasional, dan selalu positif. Setiap ngobrol dengannya, saya selalu kagum dengan semangatnya menciptakan kebaikan, kedamaian, optimisme, dan cinta kasih kepada sesama. Dan semua itu ia tuangkan dengan sangat apik dalam buku ini. Gaya bertutur di
tiap-tiap cerita mengalir lancar sehingga mudah dicerna. Katakatanya inspiratif, namun tak menggurui. Ceritanya blak-blakan, tapi tetap punya kelas. Buku ini mengungkapkan kejujuran hati seorang Merlyn Sopjan dengan tanpa basa-basi. Bagi saya, ini adalah refleksi diri yang jujur, cerdas dan humanis

Rizka Azizah (Chika), Features Editor Femina Magazine, @rizchik

Tanpa perlu menggurui dan menyebut inilah cita-cita atau harapan setiap orang, melalui buku ini yang ditulis dengan bahasa manis dan getir silih berganti, Merlyn mengingatkan bahwa kita perlu lebih beradab untuk memperbaiki kehidupan yang mulai melunturkan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta sejati. Merlyn ingin dirinya lebih bermakna bagi sesama manusia dan kehidupan ini.

Inang Winarso, Antropolog UNPAD Bandung

Cinta kasih yang jauh melampaui tubuh. Sepotong kerinduan pada waktu yang lalu dan keberanian menjejak pada bumi yang absurd, dihidangkan dengan indah di setiap lembarnya oleh sang penulis.This fascinating book is so smart, sexy, entertaining. What an elegantly written.

Chrissy Siahaan, Women Activist

Melalui buku ketiganya, Merlyn kembali mengajak pembaca untuk berdialog tentang hidup dan kehidupan, yang sarat dengan ketidak-adilan akibat sekat yang tajam. Merlyn berusaha memaknai hidup dengan berpikir melampaui sekat yang masih sangat dominan dalam masyarakat kita. Bukan hal yang mudah dan tanpa tantangan, tetapi Merlyn secara konsisten terus melakukannya. Dan, semuanya dilakukannya melalui
tutur kata yang lugas, tanpa basa-basi.

Muhadi Sugiono, Staf pengajar Ilmu Hubungan Internasional, UGM, Mantan Konvener Jaringan Hak-hak Azasi Manusia Asia Tenggara (SEAHRN)

Close
Hot
Close

Mariana

Rp 42.600

Sudah kukatakan kepada lelaki itu untuk jangan nekat mengejar-ngejar mariana, tapi lelaki itu sangat keras kepala. Sulit untuk percaya bila perempuan itu akan meluluhlantakkan hatinya seperti meremahkan roti tanpa peduli.

Aku pun tidak begitu mengerti mengapa Mariana begitu sering menolak cinta para lelaki. Menghancurkan harapan mereka berkeping-kepingbegitu mudahnya seolah tak pernah memiliki arti. Terkadang, hal itu membuatku kerap berpikir jika Mariana tak ubahnya wanita dengan sejuta sihir yang hidup dari masa lalu, dan satu-satunya jalan keabadian baginya adalah dengan mendapatkan air mata lelaki yang begitu mencintainyademi bisa berumur panjang dan awet muda.

“Membaca cerita-cerita Shandy adalah memasuki dunia yang serba ambigu namun menggairahkan. Dunia keseharian yang berkelindan, dengan fantasi, berbaur membentuk petualangan yang bisa menyesatkan. Seru dan menegangkan. Jalinan kisah dan alurnya bisa membuat pembaca hanyut.” (Aris Kurniawan-Cerpenis)

-13%Hot
Close

Aidit, Marxisme-Leninisme, dan Revolusi Indonesia

Rp 52.000 Rp 45.000

Buku ini memberikan gambaran ringkas yang baik mengenai sejarah kehidupan DN Aidit, sejarah pemikirannya mengenai Marxisme-Leninisme yang di-Indonesiakan, revolusi Indonesia, serta nasib revolusi dan politik nasional di kemudian harinya. Sejarah pemikiran Aidit adalah sejarah mempelajari proses seorang manusia dalam mencapai angan-angan revolusionernya. Ini sebenarnya adalah sebuah episode yang menarik dan kalau saja ada novelnya, tentu akan menjadi sangat menarik. Seorang pribadi yang elegan dan cerdas, dibentuk oleh Islam sejak kecil, dan selalu membela nasib kaum buruh dan rakyat kecil. Siapa yang menyangka kalau Aidit di masa kecilnya adalah muazin masjid dan telah khatam (menamatkan) Alquran sebanyak tiga kali. Ayahnya adalah tokoh Islam di kampung halamannya, Belitung, dan pernah menjadi anggota DPRD dari Partai Masyumi. Bagi yang menganggap Aidit sebagai musuh Islam, tentu belum paham mengenai siapa sebenarnya Aidit. Mungkin saja niat Aidit memilih masuk PKI dikarenakan amalannya akan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan membela kaum duafa (tertindas). —Bonnie Setiawan

 

-8%Hot
Close

Bicara Besar – Kumpulan Puisi Kezia Alaia

Rp 65.000 Rp 60.000

Bicara Besar adalah buku kumpulan puisi pertama, sekaligus buku pertama yang ditulis oleh Kezia Alaia (@keziaalaia) Buku ini berisi sekitar 40 puisi dengan tema beragam yang kesemuanya adalah usaha mendengarkan (dan membungkam) diri sendiri di tengah hiruk pikuk di sekeliling. Beberapa puisi berbicara tentang diri dan pertentangan di dalamnya, sementara beberapa lainnya tentang perenungan tentang tuhan dan cara-cara manusia untuk memahami sosok yang dituhankannya. Puisi lainnya berbicara tentang kekuasaan dengan bentuk-bentuknya yang beragam di keseharian, dan beberapa yang paling disukai Penulis bicara soal cinta. Puisi dalam buku ini sarat juga akan pandangan Penulis soal isu sosial.

Puisi-puisi dalam buku ini diilustrasikan oleh Reyna Clarissa (@reynaclarissa) yang juga mengerjakan sampul buku.

Bersamaan dengan ini, dibuka pula pre-order/pemesanan buku. Buku yang dibeli dalam jangka waktu pre-order akan mendapatkan harga khusus (Rp 60.000, harga asli Rp 65.000) + bonus pembatas buku + tanda tangan.

-7%Sold outHot
Close

Simulakra Sepakbola – Zen RS

()
Rp 70.000 Rp 65.000

Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola kini dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?

-6%Hot
Close

Restoran Lee

Rp 80.000 Rp 75.000

Novel ini enak dibaca dengan bahasa yang mengalir, mudah dimengerti, dan menggambarkan situasi kota Wolfenbuttel dan Braunshweig di jerman dengan detail. Restoran Lee adalah novel keseharian hidup yang selalu berulang tentang cinta, cita-cita, dan keluarga. Jika Anda membaca novel ini, maka banyak nilai kehidupan yang akan menginspirasi tujuan hidup ini. Novel Restoran lee adalah novel pertama dari trilogi novel yang akan berlanjut pada novel Roullette dan novel Zuhud.

Close

Mutiara dari Lembah Sunyi

Rp 45.000

Tak usah ragu membagi dukamu denganku
Begitulah adanya kehidupan ini
perjuangan tak selalu menghadirkan kemenangan
aku hanya ingin kau mengerti,
pada suatu hari nanti
kau pun akan pahami
bahwa kau tak sendiri meramu letih, perih, dan pedih ini
melainkan hitam sudah menjadi milik setiap orang
tidak terkecuali aku…
bertahanlah rayakanlah musim-musim kelu ini
dengan bersabar
karena mungkin sebentar lagi
kita akan mati
pada peti nanti
pada ujung hari
yang masih belum pasti…
tapi sudah pasti kita akan mati…

-19%Hot
Close

Politik 3.0

Rp 80.000 Rp 65.000

Dalam suasana elektoral sedemikian pekat dengan intensitas lintang pukang seperti yang kerap kita alami, sebuah pertanyaan penting diajukan: ketika kompetisi elektoral tengah berlangsung, adakah rakyat telah menjadi subjek yang sesungguhnya? Pertanyaan ini bukan remeh, meski sebagian akan menjawabnya sebagai hal yang telah usai. Pertanyaan itu sendiri masih menyimpan kemungkinan jawaban yang beragam, namun satu hal yang pasti adalah ketika suara telah selesai dihitung dan kotak suara telah ditutup, rakyat tak ada lagi.

POLITIK 3.0 ini, hendaknya ingin  menyajikan  bahwa semua politikus sebenarnya bisa berpolitik  di pangung demokrasi dan selama itu  pun mereka juga  akan tetap dicintai oleh rakyatnya. Bahwa politik bisa dikelolah menjadi upaya untuk menggapai mimpi-mimpi melalui program dan langkah-langkah strategis. Semua orang bisa menggapainya sepanjang memiliki asa dan tekad yang kuat untuk menghadirkan warna baru ditengah jagad perpolitikan kita yang cendrung seragam.

Yang dipotret di buku ini bukan sekadar perjalanan seorang Politisi muda, tetepi bagaiman para relawannya menjadi bagian penting  dari semua proses politik yang dilalui seseorang.

Para relawan  tak banyak dicatat, mereka kerap dilupakan.  Padahal peran merka tidaklah kecil. Mereka adalah kekuatan utama yang menjadi garda terdepan para politisi. Suka dan duka sudah dirasakan oleh mereka, tetapi dibalik sudak dan duka para relawan itu kemudian muncullah sosok politikus kita yang sesungguhnya.

-5%
Close

Mbah Sjukur dan Cerita Lainnya yang Tak Patut Kau Percayai

Rp 45.000 Rp 42.750

“Membaca cerpen-cerpen Ade Ubaidil ini terasa ‘ajaib’. Seperti bukan karya Ade yang biasanya saya baca. Di kumcernya ini Ade sudah dewasa. Saya seolah membaca gaya bercerita dan menulis dari penulis luar negeri. Ade sudah bisa memadukan setting lokasi cerita di wilayah lokal dan setting lokasi entah di mana. Ini satu lompatan besar bagi karir kepenulisannya. Terus menulis, Ade.”

(Gol A Gong, Penulis dan Pendiri Rumah Dunia)

“Dunia penceritaan di tangan Ade Ubaidil menjadi dongeng yang kian lindap, hitam, dan kental. Ia seperti mau menulis seenak jidatnya saja, tanpa ingin bertanggungjawab apakah ceritanya masuk akal atau tidak. Namun demikian, surealisme dalam cerpen-cerpen Ade Ubaidil merupakan pilihan kerja kreatif yang dilakoni dengan spirit the adventure of ideas. Pembaca, oleh karenanya, perlu juga untuk menangkap ide-ide apa yang sekiranya telah ditanam pengarang di belantara ceritanya. Selamat untuk Ade. Maju terus! Banten ke depan semakin butuh generasi muda yang kreatif, cerdas, dan berani.”

(Chavchay Syaifullah, Penyair dan Ketua Dewan Kesenian Banten)

“Kalau cerpen adalah oase, kita bisa menikmati dari indahnya bahasa dalam buku ini. Kalau cerpen adalah sumur, kita bisa menimba banyak hal dari buku ini. Selamat menikmati sajian Ade kali ini.”

(Teguh Afandi, Penggiat Klub Baca)

“Ade Ubaidil mengolah kenyataan dan fantasi menjadi kritis, kemudian mengejutkan. Baca dan rasakan gejalanya.”

(Eko Triono, Penulis Buku, “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?”)

“Ide-ide yang diangkat sederhana tapi dieksekusi dengan sangat matang. Banyak adegan-adegan yang filmis ketika dibaca, ditambah racikan dialog yang ciamik dan menggugah. Salut buat penulisnya yang muda dan kreatif.”

(Sahrul Gibran, Sutradara dan Produser Film, “Mars”)

“Bagi saya, menulis adalah tentang bagaimana caramu mengatur emosi—dan karya ini terlahir atas hasil pergulatan pikiran serta emosi diri sendiri. Namun, pada akhirnya pengarang telah mati. Sekumpulan cerita pendek dalam buku ini kini menjadi milik pembaca. Maka hal berikutnya yang saya sampaikan tak lain: selamat membaca dan menyelami kehidupan para tokoh yang berada di dalamnya—yang sebenarnya nyata dan ada di sekitar kita. Tetapi sungguh, kau boleh memilih untuk tidak memercayainya.”—hal.13.

 

-7%Sold out
Close

Wartawan Kerah Hitam

Rp 70.000 Rp 65.000

Idealisme kaum muda yang tinggi menjulang sampai nyaris menyentuh bulan sering tak berarti apa-apa karena begitu bersentuhan dengan realitas hidup yang keras, tak jarang sangat getir, apa yang ideal itu terasa begitu jauh, tanpa pijakan, dan rapuh. Meskipun begitu, tantangan keras dan sangat getir seperti itu masih sering bisa dikalahkan dengan apa yang disebut “prinsip”, diikuti penegasan: hidup harus dibangun di atas landasan dan prinsip yang jelas, agar kita tak mudah terbujuk.

Tapi ketika apa yang kita sebut realitas hidup itu tampil lembut, halus, dan agak menggoda, dengan tawaran yang menjamin kenikmatan hidup dan tambahan derajat lebih tinggi, maka penolakan terhadapnya hanya akan menjadi sikap yang bisa diejek ‘keras kepala’ dan ‘dungu’. Dan sering dengan tambahan bahwa yang bersangkutan hidup seperti di awang-awang. Bisa saja dia tidak peduli sama sekali. Boleh jadi idealismenya bisa bertahan sebulan, dua bulan, atau sedikit lebih lama lagi.

Namun bila bujukan itu begitu gigih dan tetap dalam kelembutan yang seolah tak memiliki kepentingan apa pun, maka seperti yang banyak terjadi, idealisme itu diam-diam takluk dan runtuh total. Dan orang berkata—mungkin dengan sedikit kecewa—bahwa di dunia fana ini barang apa yang punya harga bisa dibeli. Begitu juga ‘harga diri’.

Novel ini bermain di dalam setting moral yang kurang lebih mencoba menjelaskan bahwa idealisme itu rapuh, dan bagi banyak orang, daya hidupnya pendek. Banyak orang idealis yang tunduk pada keadaan. Kemudian berkhotbah mengenai realitas hidup yang memang sudah begitu adanya dan tak mungkin digoyah-goyah lagi. Kita harus realistis. Maka hidup dengan idealisme dianggap terkutuk. Atau dungu.

Tokoh kita, bukan tipe pribadi seperti itu. Dia tak ingin menjadi “yang terkutuk” dan dungu. Dia bermain di dalam situasi “rusuh” dunia media yang memalukan itu. Dan dia kelihatannya bermain dengan lihai. Apa yang sudah buruk dibikin menjadi lebih buruk. Apa yang sudah terlanjur “edan” dibuka sekalian agar yang edan tampak edan sungguhan tanpa rasa malu. Sikap munafik, sok suci, dan penuh sikap kongkalikong tak lagi ditutup-tutupi. Media tak lagi menjadi cermin hati nurani masyarakat, tak menjadi masalah. Dia telah memilih peran dengan penuh kesadaran.

(Mohamad Sobary, esais)

Dari sejumlah novel berlatar cerita dunia jurnalistik, Wartawan Kerah Hitam termasuk yang menarik untuk dibaca. Selain karena secara rinci mampu menggambarkan ruang dapur, kebijakan, dan situasi lapangan peliputan berita, ia juga mengisahkan tentang apa yang terjadi di balik berita. Termasuk rekayasa, intrik, dan pemerasan yang dilakukan para pewarta. Mulai dari pewarta bodreks sampai kebusukan para pemimpin media massa. Kecermatan pengarang menguraikan rincian, taktik pemerasan, teknik peliputan, dan penulisan berita menyebabkan novel ini cukup kredibel untuk dibaca. Tidak hanya untuk kalangan jurnalistik tapi juga oleh pejabat, para koruptor, manipulator, bahkan para penasihat spiritual dan pimpinan partai politik. Sebuah novel yang cukup menegangkan sebagai fiksi, tapi juga sangat meyakinkan sebagai realitas. Bagus!

(Noorca M. Massardi, pengarang dan pewarta)