Skenario Menyusun Antena

Oleh:

 

Nanah orang-orang kalah ada pada doa yang menuntut segara jawaban. Sedang kita berlindung di letupan pasrah. Oh, sayang jangan seperti itu. Aku ingin bunuh dirimu. Aku ingin bunuh diriku. Kita berdua mati bersama, ya?

(Layar Itu Tak Sempat Mengunjungi Kabar Engkau)

 

“Jangan lupa dompetmu dijemur, matahari sebentar lagi kabur.”

(Skenario Menyusun Antena)

 

“Tolong, kenalkanku pada hutan, daun dan gunung-gunung itu

Aku masih antena yang mencari sinyal nyinyirmu

Seorang sinyal yang belum pada pertemuan.”

(Manifesto Pseudo)

 

**

 

 

“Puisi-puisi yang terdapat pada Skenario Menyusun Antena, lebih mirip keyakinan Galeh dalam mengolah permainan mengelak dari tema sengit sosial. Ada nada lelucon yang sengaja dibiarkan berkembang menjadi pengalaman personal dan dramatik. Galeh dalam puisi-puisinya berperan banyak menjebak rasa iba, simpatik, kenaasan, nyinyir, gerah, rusuh, teror dan suasana-suasanya lainnya yang khas dialami anak nongkrong Kota Besar. Tidak menutup, ia menulis puisi di atas bacaannya yang selama ini begitu ia akrabi. Baik bacaan teks hidup sebagai puisi kembali, maupun teks sengaja dibunuh untuk sebuah narasi. Saya percaya, Skenario Menyusun Antena, telah ada di antara kita sebagai bayangan huruf yang berusaha keluar dari catatan hidup kita yang biasa. Saya juga merasa bahaya, ada anak muda dengan gerombolan begundal bahasa, siap mengobrak-abrik panggung basa-basi diksi kita.”

[Faisal Syahreza, Penyair, tinggal di Bandung]

 

 

“Jika tujuan membaca Skenario Menyusun Antena untuk mencari ‘kekuatan’ Galeh, saya pikir Anda akan menemukannya di sajak-sajak pendek yang ada di dalam buku ini. Seperti, Ruang Operasi, Galeri, Pulau 1, Kamar Gosok dan sajak pendek yang lain. Ia berhasil menciptakan banyak hal dengan sedikit kata, itu yang saya temukan.”

[Faisal Oddang, Penulis, tinggal di Makassar]

 

 

“Galeh tak sekadar menyusun skenario untuk pemasangan antenanya. Lebih dari itu, ia paham benar jenis gelombang, besaran frekuensi dan radius energi yang ia akan transmisikan. Berbagai keresahan, sindiran dan pengalaman puitiknya membuat saya betah menjadi seseorang yang duduk berlama-lama menghadapi sebuah layar yang menampilkan banyak imaji. Jika sesekali layar imaji itu buram, tak jadi soal. Toh skenario bisa salah, tapi upayanya sudah benar.”

[Adimas Immanuel, Penyair, tinggal di Jakarta]

 

 

“Fenomena yang ingin ditawarkan oleh Galeh kepada pembaca; menyoal laku puitik masyarakat elektronika yang merembes ke dalam kata-kata. Pembaca bisa merasakan bagaimana kata-kata yang disusunnya bisa terganggu oleh jaringan sinyal sehingga menimbulkan kesal, kata-kata itu terkadang macet, melaju pelan, kencang, melompat lalu teriris demi kebutuhan tayangan. Kesan dari puisi-puisi Galeh bagi masyakat elektronika mungkin hal biasa, namun bagi masyarakat kampung seperti saya menyisakan renungan kengerian.”

[Peri Sandi Huizche, Pembaca puisi, bergiat

di komunitas Celah-Celah Langit, Bandung]

 

SKU: 978-602-3091-17-1
Berat0.35 kg
Close