Sebuah Kitab yang Tak Suci (Spesial Hard Cover)

Oleh:

Kedua belas cerita pendek Puthut EA tidak lahir dari jarak dan keterasingan penulis terhadap realitas yang bergerak di luar dirinya, tapi justru dialektika dari sejumlah pengalaman empiris. Absurditas dalam karya-karya Puthut dapat dikategorikan dalam kesimpulan Gabriel Brunet pada kata pengantar Ubu Roi (1961), ketika merumuskan pemikiran Alfred Jarry, tokoh teater absurd Prancis.

“Setiap orang berusaha menunjukkan kebenciannya terhadap kezaliman dan keabsurdan alam semesta dengan menjadikan kehidupannya sendiri sebagai sebuah puisi tentang ketidakpastian dan keabsurdan.”

–Linda Christanty

Sebuah Kitab yang Tak Suci adalah buku kumpulan cerpen pertama Puthut EA, pernah diterbitkan oleh Penerbit Sumbu—Jogjakarta, Desember 2001. Buku ini terbit kembali bersama Indie Book Corner dengan editor Arman Dhani, setelah pada edisi sebelumnya diedit oleh Lida Christanty.

Saya memaksa Puthut untuk menerbitkan ulang karya ini dengan tiga alasan. Alasan pertama adalah ia perlu kembali menyegarkan ingatan kreatifnya tentang bagaimana seharusnya sebuah cerita disusun. Belakangan Puthut telah masuk dalam kategori penulis mapan yang bahkan “berak” pun akan dipuji sebagai sebuah karya yang indah. Ia perlu kembali menemukan alasan dan kegairahan yang dulu sempat total ia berikan dalam buku ini.

Alasan kedua karya ini merekam jejak bahwa pada satu titik Puthut pernah menjadi seorang yang pretensius. Yang terjebak pada panorama diksi dan menggali kata-kata sekadar untuk berakrobat kalimat. Pada pengantar buku ini Anda akan menemukan pecahan-pecahan pemikiran Puthut yang berserakan dalam pilihan lema yang ia pakai. Ia menjadi bukti bahwa ada perubahan fase antara Puthut sebagai penulis yang melalukan eksperimen karya dengan Puthut hari ini yang tinggal pada zona nyaman dan menolak menggali kembali khazanah kepenulisannya.

Alasan ketiga adalah generasi mapan hari ini perlu mengenal variasi bacaan yang melulu didominasi oleh penulis dari media sosial. Bahwa saat media sosial semacam Twitter, Facebook dan blog ditemukan. Penulis-penulis mempertaruhkan nasib mereka melulu pada seleksi ketat halaman sastra koran di hari Minggu. Berjibaku berkompetisi dengan puluhan atau bahkan ratusan penulis lain agar karyanya bisa dimuat di koran. Agar ia bisa bertahan hidup dari uang karya itu, agar ia memiliki kebanggaan bahwa telah lolos dalam seleksi maha ketat dari redaktur sastra yang terkenal keji dan tinggi seleranya itu. –Arman Dhani

Close