POE(LI)TICS: Esai-esai Politik Kritik Sastra di Indonesia

Di Indonesia, kritik sastra, baik sifatnya akademis dan non-akademis merupakan suatu praktik. Setiap praktik mengimplikasikan dampak-dampak politis tertentu terhadap pembacanya, dalam bentuk suatu pembentukan opini tertentu, legitimasi tertentu, relasi kuasa tertentu dan seterusnya. Kritik sastra di Indonesia tidak berdiri terpisah dari publiknya. Ia merupakan ranah politis di mana kepentingan kritikus, sastrawan, media, pembaca dan pasar dikontestasikan. Sejarah sastra Indonesia tidak lepas dari politik kritik di dalamnya. Politik tersebut bahkan sudah lahir sebelum Indonesia merdeka. Sejak konflik Balai Pustaka dan “batjaan liar” Melayu Tionghoa tahun 1920n, kritik itu terus bermunculan tanpa henti mulai dari konflik Pujangga Baru dan komunisme, Lekra vs Manikebu, konflik sastra wangi, TUK vs Boemiputera, sastra koran dan sastra pedalaman hingga penolakan terhadap berbagai festival dan penghargaan sastra semacam Ubud, KLA, DKJ dan sebagainya. Semuanya saling berebut, saling umpan ideologis, hingga yang terakhir munculnya berbagai kritik sastra terkait kontroversi 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh dalam polemik Frankfurt Book Fair 2015. Dibutuhkan suatu pembacaan teoretis atas semua peristiwa itu. Meski sejarah selalu berlangsung tak linear, terputus-putus dan tak jarang tumpang tindih, upaya pembacaan semacam ini dirasa masih dibutuhkan setidaknya untuk para akademisi, sastrawan dan masyarakat umum agar mereka ‘melek’ politik sastra. Yang terhimpun dalam bunga rampai ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan oleh para kontributor daam acara seminar bertajuk “Politik Kritik Sastra di Indonesia” yang dilaksanakan di PKKH pada 24 – 25 November di UGM Yogyakarta.

SKU: 35623
Berat0.3 kg
Format

Jilid Karton

Tahun Terbit

2015

ISBN

2477-3425

Jumlah Halaman

320

Close