Memorabilia

Oleh:

Sebagai seorang praktisi patah hati, saya merasa “Memorabilia” mewakili kaum saya. Yang ingin bermain mesin waktu kembali ke masa lalu, silakan beli buku ini.

Dwiyan Al Rasyid – Mahasiswa, Yogyakarta.

 

Masih tentang cinta, masih tentang kerinduan, masih tentang kehilangan, masih tentang ketaktermiliki, masih tentang rasa sakit. Buku kumpulan puisi memoribilia karya  Kiki Ramadhani ini semacam diary tentang rasa sakit yang bermula agak menggebu gebu lama kelamanan menjadi sedikit lirih. Puisi puisi di awal saya membacanya seperti lirik lagu rap yang seperti tanpa jeda memuntahkan rasa sakit tapi perlahan lahan mulai sedikit menahan emosi yang meluap luap. Tapi intinya sih sama, Kiki Ramadhani mengamuk dengan kata kata puitisnya, berteriak diam diam menggugat cinta yang seringkali membuat kita semua sama sama lemah dihadapannya.

Saya suka puisi puisi di bagian In The Mean Time, terasa lebih matang saja sih. Secara keseluruhan puisi puisi di buku ini banyak yang sangat kuat tapi ada juga yang masih lemah, semacam puisi patah hati anak sma yang ditulis terburu buru. Tapi inti dari puisi saya kira adalah kejujuran, dan saya kira Kiki Ramadhani sudah begitu jujur dengan mengerikan di buku ini. Saya sendiri kaget, tidak menyangka kalau rasa sakit yang dipendam kiki sebesar ini, mengingat sehari-harinya dia begitu tenang dan kalem. Ternyata, ada magma yang bergejolak di bawah permukaan.

Sigit Haryo Seno – Pengusaha dan Komika, Yogyakarta.

 

Aku penyuka hujan dan petrichor di sore hari. Lengkap dengan keriangan dan kehangatannya. Selama air masih menggantung di langit. Terima kasih sudah diizinkan untuk basah kuyup.

Dityo P. Yuwono – Petani dan Pengusaha, Yogyakarta.

SKU: 978-602-3090-63-1
Close