Ketika Matamu Terbuka – Adhe Junaedi Sholat

Mengenal manusia adalah mengenal karyanya. Baik bentuk dan metodenya. Jelek dan bagus. Semua karya punya rasa tersendiri untuk dinikmati lalu dikenang. Saya tahu betul pertemuan beliau dengan puisi-puisinnya. Sering bersama, lempar tanya jawab, sampai bicara soal kesusatraan, sehingga beliau berteman dengan sepi, sunyi, tatapan kosong, dan segala hal yang asli. Buku puisi ini memiliki banyak pesona perempuan dan gambaran wajah sosial yang terjadi, dengan cerita yang mengalir begitu saja, aneh.
—Sofyan Haris M, pegiat literasi makassar.

Jadi saya dapat menyimpulkan kalau adhe seperti gusmus. Ia memiliki ragam corak bertutur dan tidak diikat oleh satu cara berpuisi saja. Bisa jadi, cara menulis puisinya dipengaruhi oleh kondisi keresahan dan kejiwaanya. Jika kersehannya seputar persoalan cinta maka adhe akan menulis puisi liris dengan cara berpuisinya seperti yang saya sebut di awal tulisan ini, namun jika keresahannya seputar kehidupan sosial maka cara berpuisinya akan seperti rendra atau thukul yang lebih lantang, dengan makna yang lebih eksplisit.
—Syafri A. Masser, penulis buku unjuk rasa, kumpulan sajak-sajak politik.

setiap hari aku membaca buku resep yang kucuri dari kamar ibuku
agar nanti, kelak aku bisa buatkan makanan kesukaanmu
aku mau bisa memasak seperti ibuku
aku biasa melihatnya di dapur—berkeringat

meramu rempah demi rempah
meracik bumbu demi bumbu
merasakan tubuh seorang ibu
dapur adalah kantor baginya
tidak pernah mengenal hari libur—
semakin libur kantornya semakin sibuk

SKU: 39163
Berat0.1 kg
Format

Jilid Biasa

ISBN

978-602-309-375-5

Penerbit

Indie Book Corner

Tahun Terbit

2018

Close