Ilmu Ngglethek Prabu Minohek

Oleh:

BARU-baru ini, Dr. Sindhunata, budayawan serba bisa kelahiran Kota Batu, meluncurkan buku berjudul Ilmu Ngglethek, Prabu Minohek. Buku ini mengupas kiprah dan sosok grup ludruk Kartolo Cs yang sudah tak asing lagi di Jawa Timur, dari sudut pandang perjalanan kehidupannya dengan gaya features.

Ilmu ngglethek adalah kesimpulan Sindhunata setelah menafsir gagasan dan banyolan Kartolo Cs, baik atas pencermatan lakon yang dipentaskan maupun dari jula-juli yang didendangkan. Ilmu ngglethek merupakan cermin akhir segala perjalanan kehidupan manusia. Dalam berbagai cita-cita dan harapan, manusia sering diperhadapkan dengan suatu kebetulan yang sering terjadi begitu saja. Proses hidup manusia sering diwarnai dengan serba kebetulan, aksidential, tidak selalu bisa direncanakan dengan akal sehat sebagaimana ajaran kompetisi hidup dalam filosofi kapitalisme dan modernisasi yang menggurita saat ini. Dan ajaran terbaik dari ludruk Kartolo adalah bagaimana menyikapi hidup dengan kesederhanaan, bukan dengan pongah dan penuh nafsu.

Contohnya adalah dalam salah satu lakonnya, Ratu Cacing Anil, di mana Kartolo berperan sebagai Prabu Minohek. Sebagai penguasa dan orang yang memiliki berbagai kasekten dan keistimewaan, ternyata Prabu Minohek hanyalah mimpi. Prabu Minohek hanyalah dagelan, ia sering bukan merupakan realitas yang diperankan manusia sesungguhnya. Prabu Minohek hanyalah segumpalan arogansi untuk menguasai segala sesuatu, sementara dirinya sendiri tidak tahu bahwa itu semua hanyalah angan-angan. Ngglethek itu hanya mimpi.

Begitulah dalam kehidupan sehari-hari kita. Lurah, kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, anggota DPR/DPRD, penguasa ini-itu, menteri sampai presiden sering tidak menyadari bahwa kekuasaan hanyalah salah satu peran kecil dari proses berkehidupan yang lebih luas. Mereka terlalu sering berpikir bahwa menjadi penguasa adalah menjadi segalanya. Mereka tidak tahu bahwa pada akhirnya ngglethek jugalah yang ditemukan. Sering kesadaran untuk berbuat maksimal untuk melayani rakyat kecil, ternyata ngglethek baru disadari ketika kesempatan sudah usai. Kesadaran yang seperti ‘burung hantu’, selalu datang petang dan terlambat ketika semua pertunjukan sudah selesai dilakukan.

Mendengarkan kaset-kaset Kartolo dalam berbagai lakon dan jula-julinya kita senantiasa diberi pelajaran mengenai bagaimana menjalani kehidupan dengan sederhana, tidak neko-neko. Saya kira ini bukan bentuk skepisme atas perjalanan hidup yang dirasakan makin berat, sebuah eskapisme yang mengarah pada fatalisme dan hanya menunggu keajaiban dari langit. Namun, memang itulah inti kehidupan, hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa kerja keras, tidak neko-neko juga bukan berarti hidup tanpa cita-cita. Ada saat-saat bagaimana kita harus arif memperlakukan kehidupan secara wajar dan sesuai dengan kapabilitas dan kemampuan kita.
***
JAWA Timur memang negeri ludruk. Berbagai kelompok dan jenisnya sering memberikan pelajaran bertuah untuk menyiasati hidup yang sering semakin terjerembab pada nafsu dan angkara murka, kompetisi yang menindas, keserakahan yang mematikan nurani. Kapitalisme kehidupan, yang terlihat jinak padahal buas, itulah yang sering menjadi sasaran para seniman untuk melampiaskan penat, melepaskan beban, dan untuk sejenak mengarifi kembali kehidupan. Untuk apa kita hidup dan dengan cara bagaimana.

Melalui optimalisasi dagelannya, Kartolo Cs mampu mengarahkan petuah dengan tepat sasaran. Meski untuk itu, kelompok dari Surabaya ini harus melakukan penyesuaian besar-besaran dengan cara menghilangkan cukup banyak unsur atau bagian dalam pertunjukan ludruk. Dalam kasetnya, unsur yang diambil hanyalah kidungan dan dagelan. Sementara pembabakan utuh dalam ludruk, misalnya tarian pembuka (ngremo), atraksi menari/menyanyi (bedhayan/tandhakan) tidak muncul. Kendati begitu akhir-akhir ini pembabakan cukup utuh dilakukan ketika grup ini mendapat kesempatan tampil dalam sebuah stasiun TV lokal di Surabaya.

Itulah strategi bertahan Kartolo Cs. Modifikasi yang dilakukan tetap mempertahankan orisinalitas gagasan. Memang gejala perubahan teknis banyak kita jumpai pada beberapa kesenian tradisional dan itu adalah hal yang sangat wajar. “…kesenian tradisional seringkali mengalami perubahan bentuk teknis dan cita rasa estetik, hal mana menunjukkan satu sisi keluwesan dalam pengolahan dan pengembangannya. Pada tingkat substansial yang menyangkut pandangan hidup, pikiran, struktur di balik kesenian itu, agaknya tak ada perubahan yang cukup berarti” (Kompas, 8/3/1999).

Kartolo dengan demikian telah “menyesuaikan diri” seperti yang dianjurkan zaman, justru ketika sinyalemen “ludruk harus menyesuaikan diri atau mati” muncul pada periode 1990an. Ia tetap memegang teguh substansi dan persebaran ajaran moral yang dijadikan prinsipnya. Ia tak perlu harus hidup di bawah kaki tangan partai dan politisinya, juga tak perlu mendapatkan santunan negara. Kiprahnya eksis karena masyarakat membutuhkan penyegaran dalam kehidupan yang serba ruwet ini.

Itu jelas, karena berakar dari sejarahnya, ludruk bukanlah kesenian istana. Ia dikembangkan oleh rakyat. Ludruk membawakan cerita dengan gerak laku yang realistis dan lebih mementingkan dialog serta banyolan. Ludruk tidak pernah mendapat sentuhan seniman dan budaya istana; sebaliknya, ia hidup dan berkembang di kalangan rakyat jelata sebagai hiburan. Karena keberadaannya yang lahir dari rahim kebudayaan rakyat jelata, ludruk dikatakan lebih merakyat daripada seni tradisional (Jawa) lain, terutama yang berasal dari kalangan istana. Dengan bahasa daerah sederhana-egaliter, sindiran atas kehidupan, serta pemilihan cerita yang tidak terbatas, ludruk memiliki kekuatan komunikasi yang sangat besar terhadap masyarakat.

Sampai kini, meskipun jumlahnya relatif sedikit dan dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, masih ada beberapa kelompok ludruk yang berkembang di Surabaya, Malang, Jombang, dan sekitarnya, yang tetap aktif mengadakan pertunjukan, termasuk grup Cak Kartolo Cs.
***
AKHIRNYA, siasat atas kehidupan yang makin keras, yang salah satunya bisa diajarkan melalui berkesenian ini, masih menunggu nama-nama legendaris seperti Ludruk Brata, Ludruk Dradjit, Ludruk Budi Utama, Ludruk Tjoleke, Ludruk Kolekturan, Ludruk Budidojo, Ludruk Karen, Ludruk Bakri, Ludruk Murba, Ludruk Arum Dalu, Ludruk Drais Ludruk Banteng Marhaen, Ludruk Suluh Marhaen, Ludruk Marhaen Muda, Ludruk Duta Masa, Ludruk Arum Dalu, Ludruk Putra Bahari, Ludruk Odadi Kari, Ludruk Marhaen, Ludruk Tresna Enggal, Ludruk Mari Katon, Ludruk Massa, Ludruk Sari Rukun, Ludruk Irama Enggal, Ludruk Massa Rukun, Ludruk Panca Bakti, Ludruk Djoko Muntjul, Ludruk Sido Dadi Slamet, Ludruk Mulya Kuntjara, Ludruk Aliran Baru, Ludruk Nusantara, Ludruk Bond Malang Selatan dsb yang tersebar di Jomban, Malang Surabaya dan sekitarnya.

SKU: 18520
Berat0.6 kg
Tahun Terbit

2004

Penerbit

Boekoe Petroek

Format

Jilid Biasa

Jumlah Halaman

240

Close