Gelanggang Kuda – Mufidz At-Thoriqs

Ada upaya ingin mengedepankan absurditas, ada pula upaya menawarkan kembal pada gagasan-gagasan realis. Upaya yang dikerjakan Mufidz ini, disengaja atau tidak, ingin menanamkan teror di benak pembaca. Selebihnya, ada dua hal yang membuat saya pada titik simpilan, bahwa absurditas dan realisme dalam kumpulan cerpen ini, sama-sama mengasyikan.

-Bode Riswandi, Sastrawan.

Enam belas peristiwa dengan jutaan deg-degan. Ah, manuskrip yang kumplit ini penting untuk dibaca siapa pun yang merasa riuh di luar dan hingar di dalam atau sepi sekalipun. Banyak hikmah dari hidup dan kehidupan itu sendiri.

-Ab. Asmarandana, Dramawan.

Kemarin, Mufidz masih berada di ruang-ruang tak berjejak. Hari ini, dalam kumpulan cerpen ini, Mufidz menyadari betul bahwa ia sejatinya adalah seorang ‘Ksatria Mistik’. Tunggangannya kenangan, senjatanya pedang, tak tajam tapi sanggup membunuh setiap pembacanya.

-Yana S. Atmawijaya, Pensyair.

Etalase harus ditata sedemikian rupa sehingga menarik orang yang lewat dan berkunjung. Begitu juga alinea pertama cerpen. Bagi saya, Mufidz memiliki gaya tersendiri dalam mengikat pembaca mulai paragraf pertama. Selain kerap memberi kejutan, baik di tengah atau akahir cerita. Salam satu frekuensi, cheers!

-Vudu Abdulrahman, Pegiat Literasi.

SKU: 38387
Berat0.3 kg
Format

Jilid Biasa

ISBN

978-602-50683-9-3

Penerbit

Langgam Pustaka

Tahun Terbit

2018

Close