Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni

Peristiwa G30S tahun 1965 merupakan kelokan penting dalam perjalanan bangsa ini. Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu dari empat partai terbesar era tersebut, dilarang menyusul pecahnya peristiwa tersebut. Lalu ribuan, bahkan jutaan, anggota, simpatisan, dan mereka yang dipandang terkait dengan PKI, diburu, dibunuh, ditangkapi, ditahan, dan yang tersisa kemudian hidup sebagai eks-tapol, warga negara kelas dua, selama pemerintahan Orde Baru.
Telah banyak kajian dibuat, baik oleh peneliti dalam negeri maupun luar negeri, mengenai apa sebenarnya yang terjadi pada tahun tersebut. Puluhan memoar, biografi, otobiografi, dan sejenisnya dari para korban dan saksi hidup akan peristiwa tersebut telah diterbitkan. Karya-karya seni, sastra dan senirupa, tak kalah banyaknya mengenangkan apa yang terjadi pada era tersebut. Semua telah membentuk historiografi tersendiri mengenai peristiwa 1965.
Buku ini adalah biografi salah seorang saksi sekaligus korban dalam peristiwa tersebut. Ia adalah Misbach Tamrin, pelukis dan aktivis Sanggar Bumi Tarung (SBT), sebuah kelompok perupa muda yang berafiliasi dengan Lekra di Yogya, di paro pertama tahun 1960an.
Misbach turut ditangkap dan kemudian ditahan tanpa pengadilan selama 13 tahun di kota kelahirannya. Setelah bebas dari penjara, menariknya ia bekerja untuk mendirikan dan membuat monumen, taman kota, tugu, relief, dan lain-lain di kota-kota Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Setelah reformasi, ia kembali ke dunia seni rupa dan mengikuti sejumlah pameran, serta menghidupkan lagi SBT
Buku ini berisi riwayat perjalanan hidupnya sebagai pelukis dan aktivis kebudayaan kiri. Selama ini kisah tragik peristiwa 1965 ini banyak muncul di Jawa dan Bali. Yang menarik dari buku ini adalah karena ia mengangkat sosok di wilayah Kalimantan Selatan

SKU: 34480
Berat0.2 kg
ISBN

978-602-0809-20-5

Tahun Terbit

2015

Format

Jilid Biasa

Penerbit

Gading

Jumlah Halaman

xviii + 170

Close