Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan 20 hasil

Show sidebar

Active filters

Close

Ikan-Ikan Dari Laut Merah – Diva Press

Rp 60.000

Membaca cerpen-cerpen Danarto, termasuk dalam antologi Ikan-Ikan dari Luat Merah ini (pernah diterbitkan bertahun silam dengan judul Kacapiring), bila kita siap menerima asful wujud (penyingkapan Realitas) melalui seranai makna sufistik di balik teks-teksnya, akan mampu menghantar pikiran dan batin kita melesat jauh ke semesta asketisme yang tak terbatas sekat-sekat lahiriah apa pun. (Edi AH Iyubenu)

Ada yang bilang jika seseorang ngobrol dengan saya, itu artinya saya sedang mewawancarai orang itu. Sementara itu ada pula yang bilang, jika seseorang ngobrol dengan saya, itu tanda-tanda orang itu mau meninggal. “Nistagmus”

Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? “Lauk dari Langit” 

Dari Laut Merah yang bergolak, saat itu ayah sedang tertidur pulas karena udara panas dan kelelahan, melompatlah seekor ikan besar ke dalam perahu kami. Saya kaget banget. Panjangnya dua lengan ayah yang terentang dan beratnya seberat tubuh saya “Ikan-Ikan dari Laut Merah”

Danarto bisa disebut sebagai pelopor genre realisme magis di Indonesia, bahkan ketika istilah ini belum dikenal luas. Selamat menikmati cerpen-cerpen yang cenderung menggambarkan hal tak nyata tapi begitu unik dan memukau.

-5%
Close

Malaikat di Batas Senja

Rp 40.000 Rp 38.000

… Berapa kali kamu mengatakan itu pada diri sendiri? Gerutu diri menolak takdir. Meluap amarah ketidakterimaan.. Bahkan tak jarang sumpah serapah terucap dari labial yang tak sadar. Menyalahkan Tuhan? Memvonis Tuhan? Mengatakan Tuhan tidak adil atas jalan hidupmu?…

Nayatul Aulia, gadis penderita sinutis sekaligus scoliosis. Seorang gadis yang mendapat kejutan istimewa di usianya ke tujuh belas. Awal sebuah vonis yang mengubah dunianya. sekian tahun hidup dalam ketidakterimaan pada takdir yang digariskan untuknya. Tenggelam dalam stigma negatif yang membuatnya melepas semua harapan yang awalnya tergenggam erat. Hingga pada akhirnya ia kembali menemukan dirinya yang telah lama hilang ditelan kepahitan. Melalui perjalanan panjang, ia banyak mendapatkan pelajaran berharga yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang peka akan isyarat alam. Karena dibalik semua itu ada rahasia mata yang tak nampak secara lahiriah namun perlu pemaknaan, perlu penerimaan untuk membaca rahasia itu …

-9%
Close

Khotbah

Rp 45.000 Rp 41.000
-8%
Close

Seikat Kisah Tentang yang Bohong – Indie Book Corner

Rp 60.000 Rp 55.000

Begitulah. Henry kecil terus berlari ke tengah hutan, diajaknya serta Susan yang terengah-engah mengikutinya dari belakang. Panas itu menjalar perlahan ke arah Susan. Dilihatnya mata Susan dipenuhi asap putih abu-abu bergumpalgumpal.

Hidung Susan mengeluarkan busuk belerang. Henry semakin mempercepat larinya. Rasa iba menjadijadi
pada dirinya. Ah, karena dia, Susan pun terbakar sekarang. Oh, Susan yang malang, gadis penyayang binatang yang tak paham rasa air hangat maupun air dingin kini terpaksa merasakan sengatan api di mulutnya. Terus berlari. Tak terasa ia punya kaki lebam-lebam.

Close

Para Bajingan yang Menyenangkan (Cover Baru 2019) – Mojok

Rp 58.000

Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

-8%
Close

Impala-Impala Hindia

Rp 200.000 Rp 185.000
Close

Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya – Mojok

Rp 68.000

Serial Cak Dlahom mulanya dimuat di situs mojok.co selama ramadan 2015 dan 2016. Telah dibaca lebih dari enam ratus ribu kali, kini sufi ala Madura ini hadir lewat buku untuk mengajak kita merenungkan kesombongan kita yang acap merasa lebih pintar.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan di suatu kampung bersama dengan penduduknya yang memiliki karakter yang beraneka ragam. Ada Mat Piti yang suka membantu tetangganya, Ada juga Cak Dlahom yang dianggap kurang waras sama orang dikampungnya, Ada juga Romlah putrinya Mat Piti yang menjadi kembang di desanya, Ada juga Pak Lurah dan lainnya.

-14%
Close

Sayap Kupu-Kupu

Rp 35.000 Rp 30.000

Jika sayap kupu-kupu adalah aku
Bolehkan aku terbang melewati batas dengannya?
jika sayapnya hilang, biarlah terjaga bersamaku
Sayap kupu-kupu tetap terbanglah melewati
batasnya

Close

Sang Pengoceh

Rp 90.000

Llosa lewat El Hablador, barangkali adalah karya yang paling banyak menimbulkan perdebatan. Puluhan buku dan kajian ilmiah telah ditulis untuk mengurai dan menafsirkan novel tentang benturan antara ekspansi modernitas dan pertahanan hidup masyarakat adat dan pencarian jati diri pribadi, masyarakat, dan arti minoritas dalam sebuah bangsa-bangsa ini.

“Beberapa tahun lalu, saat pertama kali membaca novel menakjubkan Mario Vargas Llosa El Habrador, seketika saya merasa berpapasan lagi dengan rongrongan perbandingan; karena yang terlintas seketika di depan mata saya adalah Tetralogi Buru karya maestro Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dan dalam rentang yang lebih panjang dibarengi oleh novel-novel Spanyol besar karya pahlawan nasionalis Filipina, Jose Rizal […] Mahakarya nasionalis Amerika/Latin/Spanyol/Peru.” – Benedict Anderson, “El Malhaldado Pais”, The Spectre of Comparisons (1998)

“Apa yang dilakukan Hassan Fathy dalam arsitektur, […], Mario Vargas Llosa dalam novel El Habrador, misalnya, menyentakkan kita bahwa keangkuhan ilmiah tidak benar.” – Nirwan Dewanto, Pidato Kongres Kebudayaan 1991

“Intelek, etik, dan artistic, semuanya sekaligus dan brilian adanya. Bagi saya, inilah buku Vargas Llosa yang paling menarik.” – Ursula K. Le Guin, The New York Times Book Review

“Memikat dan menggugah pikiran… Jalinan rumit komentar politik dengan gaya naratif.” – Minneapolis Star-Tribune

-9%
Close

Kitab Pertanyaan Pablo Neruda

Rp 55.000 Rp 50.000

Pablo Neruda merampungkan Kitab Pertanyaan (The Book of Questions/El libro de las preguntas) hanya beberapa bulan jelang kematiannya pada September 1973. Melalui karangan ini, ia sepenuhnya menjadi manusia dan seniman. Seorang penyair berusia 69 tahun yang telah mencerap sumber esensial dari karya monumentalnya, meninjau kembali “kedalaman abadi”: imajinasi yang mengalami regenerisasi dan daya pandang. Puisi-puisi ringkas di sini, seluruhnya berbentuk pertanyaan, mengejawantahkan dedikasinya pada apa yang disebut Hayden Carruth sebagai “struktur perasaan” yang mendasari pengalaman. Pablo Neruda melakukan eksplorasi pada ragam pikir, gaya puitika, dan suara-suara, walaupun kecenderungan renjananya ia peradukan, dan pengembangan atas ritme dasar persepsi yang menguak kebenaran-kebenaran tak terucap atau yang tak dapat diucapkan.

Dari Crepusculario dan Venture of the Infinite Man, dua karya yang paling awal dan terakhir cukup dikenal, hingga pada seri buku ini hadir secara terlambat dan posthumous, Pablo Neruda mengalami peningkatan yang luar biasa dalam hal mempertanyakan siapakah hakikat dirinya. Ia juga yakin bahwa tahap pengesampingan hal-hal yang ia ketahui supaya ia dapat jelajahi ulang rahasia irama dan pengamatannya yang lain. Imajinasinya tidak pernah ditaklukkan oleh ketentuan umum dan, khususnya pada puisi sebelumnya, jarang sekali tampak suaka perlindungan, baik secara kepentingan politik maupun artistik. Pablo Neruda terus saja menantang dirinya sendiri sebagai manusia dan seorang seniman, sampai ia menjadi “pemburu yang cerdik”, mengutip Marjorie Agosin, yakni salah seorang berlapangan kerja mencari dan mencari “akar kepemilikan” di mana pun ia dapati kesimpulan atas dirinya.

Dalam Kitab Pertanyaan, Pablo Neruda mencapai suatu kedalaman akan kerentanan dan daya pandang dibanding karya-karya sebelumnya. Puisi-puisi dalam buku ini terintegrasi antara keajaiban masa kanak-kanak dan pengalaman kedewasaan. Orang dewasa umumnya bergumul dengan pertanyaan anak-anak “yang irasional” semata-mata bertolak dari pikiran masuk akal. Sementara itu, Pablo Neruda membutuhkan kejernihan  yang tersumbangkan dari kehidupan nyata, ia menolak hanya terkungkung pada pikiran rasionalnya saja. Dari sekitar 316 pertanyaan yang terangkum dalam 74 puisi dengan bentuk ini, tak ada sama sekali yang jawabannya masuk akal. Pertanyaan berikut memberi contoh refleksi pada permukaan, yang salah satunya bagiannya membedakan.

Jika semua sungai manis
dari manakah laut dapatkan asinnya?

Satu hal yang harus terpenuhi, bagi pembaca, dari citraan sungai, lautan, rasa manis, dan asin yang gaung artinya lebih dalam ketimbang makna harfiahnya. Di satu pihak, kita mesti bersabar, daripada terburu-buru untuk melakukan penentangan tanya dengan makna yang beralaskan pikiran.
Menatap ke langit malam hari dari dek kapal atau lantai padang pasir, kita lihat sekelebat bintang di kejauhan pada ujung-ujung mata. Saat kita memandanginya langsung ke sana, mereka seolah kabur dari pandangan. Sebagaimana bintang, pertanyaan-pertanyaan di sini sepenuhnya menyibak dirinya sendiri kepada pikiran yang berulang-ulang, yakni pikiran yang terlibat dengan intuisi dan persepsi emosi.

Pablo Neruda mengarang pertanyaannya yang kebanyakan berasal dari objek-objek alam –seperti awan, roti, limun, unta, teman, dan musuh. Kesemua substansi dan bentuk itu berjalin-jalin dalam kehidupan sehari-hari kita; kematian kemudian kelahiran lagi, keterbatasan itu menjadi nyata sebagai pancaran luaran yang merujuk kepada dunia yang lebih besar lagi. Mereka tampak misterius karena, meskipun secara fisik ada dan “konkret”, padanya tiada keputusan atau penyelesaian. Agaknya, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda membuka misteri-misteri baru yang berkaitan dengan kebenaran fisik hingga kebenaran metafisik. Dengan mempersilakan pertanyaan itu mengambil alih, kita akan sampai pada tempat-tempat yang belum pernah dipetakan sebelumnya.

Puisi-puisi di buku ini, bagaimanapun juga, tidak bisa dipertimbangkan sebagai “peta jalan” bagi jalur intuitif, emosional, dan spiritual. Mereka mengarahkan kita pada suatu hidup yang menjamak: mereka menjala kata-kata ke dalam jiwa kita sehingga kita dapat mencerap pemahaman, dan masih secara jelas berada dalam suatu Tempat Tak Dikenal, di mana segala jawab tak memberi nama-nama. Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda sangat dekat dengan semangat kōan. Kōan merupakan sebuah pertanyaan (atau pertanyaan samar laiknya sebuah pernyataan) dalam kontruksi suatu paradoks, yang membantu murid Zen mempraktikkan zazen (meditasi). Sebuah penjabaran mengenai paradoks ini dapatlah ditemukan dalam puisi Zen guru Mumon, yang berkomentar mengenai dua biksu yang saling terlibat perdebatan dengan enam kepala keluarga di mana tergeraklah–angin, panji, atau pikiran.

Angin, panji, pikiran yang bergerak,
pemahaman yang sepadan
ketika mulut terbuka
segalanya adalah kekeliruan

Begitulah cara kerjanya: pikiran menjadi jebakan, sedangkan mulut menjelma kegelapan. Bilamana salah seorang melontarkan suatu anggapan dan ketentuan-ketentuan yang bakal memburu lamunan masa lalu dan masa depan, pikiran dibebaskan untuk menyimak dan ada dalam kemenjadiannya. Selanjutnya, di lain pihak akan tersadar bahwa nilai suatu pertanyaan yang diutarakan penyair Sufi Jalaludin Rumi pada abad ke-13: “Seberapa jauh cahaya ke bulan?/dari bulan?” Dan mengapa ia, setelah tak menumu jawab, kembali kepada bulan tersebut dan berkata, “Di manakah Tuhan?”

Akar sejarah Anglo-Saxon menyebutkan kata “pertanyaan” adalah kuere, yang artinya untuk meminta atau mencari, sebab itulah berhasil atau menang. Dalam bahasa Latin, ini disebut quaerere dan questum; dalam bahasa Inggris kemudian menjadi quaestor dan selanjutnya “pencarian (quest)”, “pemeriksaan (inquest)”, dan “pertanyaan (question).” Cabang akar bahasa lainnya menyebut  “penaklukkan (conquest)”, “menanyakan (inquire)”, dan “memperoleh (acquire)”.
Pablo Neruda mempunyai ketertarikan dalam menanyakan (inquire) perihal kebendaan alamiah, yakni proses inisiasi dari menyatakan tanya yang berasaskan pengalaman, yang diajukan kepada kita atas apa yang ia intuisikan sebagai kebenaran dan perkara yang tidak bisa dipahami. Ketimbang tetap berada dalam kontrol, ia menyelami dirinya sendiri dalam ketidak-tahuan, yang mana dalam ketidaktahuan pertanyaan lantas merasuki imajinasi. Sang penyair bermaksud membedakan antara apa yang ia yakini dalam hati serta jiwanya (gnosis), dan menerima pola-pola pikiran dan perasaan yang membatasi imajinasi serta perkembangannya.

Kitab Pertanyaan memenuhi peran tradisional sebagai puisi terbaik. Sumbangsih terbesarnya adalah menolong kita dalam mengajari masing-masing kita bagaimana cara melihat, secara terpisah membantu untuk terispirasi dan fokus terhadap pencarian inti. Kita berpartisipasi baik merespon pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda dengan “berlari di tempat” bersama citraan (meminjam frasa dari Roshi Charlotte Joko Beck), ketimbang melarikan diri dari pikiran yang rasional. Puisi-puisi di sini merupakan catatan-catatan penuh kata-kata atas imajinasi si penyair; mereka menyibak kebenarannya hanya jika kita hidup dengannya lagi mengalaminya apa adanya. Manakala kita melakukan hal tersebut, imajinasi kita kembali terbangunkan hingga mencapai kemungkinan yang paling tenang dari keheranan dan perasaan kagum. Dalam keadaan inilah, kita mengajukan pertanyaan yang tak berjawab. Dan kita senantiasa merasa, tercermin di antara kita, sifat duniawi yang melampaui, baik pikiran maupun penglihatan.

Buku unik ini merupakan testamen atas segala yang mengukuhkan Pablo Neruda sebagai seniman. Ia tak bisa diberi label sebagai penyair politis atau penyair cinta, penyair yang diakui atau penyair bakat, dan hanya ia seorang yang sanggup menuduh dirinyalah menjadi orang kebanyakan, dan tak pernah tahu  “siapakah aku,/maupun seberapa banyak diriku atau seterusnya.” (“who I am,/nor how many I am or will be”). Maka, untuk memahami tataran kepenyairan ini, penting rasanya menyimak dirinya dalam kerentanan momen-momen. Puisi berikut ini mengandung lebih kurang kemurnian jiwa seorang Neruda.

Burung pengecut manakah yang
mengisi sarangnya dengan limun?

Bagi mereka yang membaca puisi-puisinya mengenai kekalahan orang-orang di lain sisi dari patologi sosial dan politik, tak akan kaget dengan baris seperti ini:

Buruh seperti apakah
yang dipekerjakan Hitler di neraka?

Pablo Neruda ialah seniman kompleks, yang membaurkan gelap dan terang, serta yang merespon sepenuhnya kesatuan pengalamaan yang tersedia bagi manusia. Ia mengenali kontradiksi, bahkan terpagut dengannya, dan kerap kali membebaskan karyanya dari batasan-batasan, penyederhanaan yang berbahaya, agenda ideologi serta pembicaraan mengenai diri sendiri secara berlebihan meskipun tak penting sepenuhnya (egotisme). Dengan begitu, ia menciptakan keterjalinan keindahan, kumpulan karya yang luas cakupan.

Buku ini merupakan seri terakhir karya posthumous Pablo Neruda dari Copper Canyon Press, yang mengantarkan pada kita selubung pengetahuan di mana suatu pencarian dilanjutkan: apa yang dipelajari akan terlupa, maka ia dapat dipelajari kembali.

Dalam sebuah karya awalnya, Extravagaria, sang penyair bertanya-tanya dalam hati:

Anak dari anak atas anak–
akankah mereka membuat sebuah dunia?
Akankah mereka halau kebaikan atau keburukan?
Senilai lalat-lalat atau gandum bermanfaat?

Kau tak ingin menjawabku.

Namun pertanyaan-pertanyaan tak mati.

William O’Daly
Musim dingin, 1991

Close

Menagih Nyawa

Rp 40.000

Jangan sekalipun kamu bermain-main dengan nyawa! Nyawa seakan memiliki kemampuan tak kasatmata yang menagihmu tanpa lelah sampai kamu bisa menggantinya. Entah dengan nyawamu sendiri ataupun dengan nyawa orang lain yang kamu cintai. Camkan itu! Atau kamu maupun orang yang kamu cintai bakal selesai alias TAMAT!

Selain “Menagih Nyawa”, buku ini memuat sembilan belas cerita pendek beserta puisi lainnya yang mengusung dua bahasa universal umat manusia, yakni karma dan cinta. Dikisahkan dengan gaya penceritaan yang sederhana membuat kisah-kisah dalam buku ini tak cuma menarik namun juga sarat akan pembelajaran hidup.

-10%
Close

wo(W)man: Tuhan Tidak Membuat Rencana yang Tak Sempurna

Rp 65.000 Rp 58.500

Membaca buku ini, membuat kita yakin bahwa kesempatan untuk menjadi baik selalu ada. Kita juga diingatkan waktu yang berlalu tidak akan terulang. Cara kita memaknai setiap peristiwa dalam hidup akan membuat waktu yang terlewati menjadi tidak sia-sia. Dengan bahasa yang lugas Merlyn mengingatkan bahwa
banyak tindakan kita dalam hidup ini yang berlandaskan cinta, kejujuran, dan keberanian menjadi diri sendiri.

Andy F Noya, Host Kick Andy di Metro TV

Saya selalu percaya, untuk menjadi jujur itu tidak mudah, that’s why “Jujur” adalah satu hal yang paling saya kagumi dari membaca buku ini. Merlyn dengan luar biasa memaparkan isi kepalanya dengan sangat jujur dan tanpa tedeng aling-aling.

Saya seperti sedang belajar lagi tentang bagaimana sederhananya memaknai hidup dan sedemikian sederhananya cinta.Merlyn mengajak saya dan kita semua untuk memulai kembali menata hidup dengan sederhana, apa adanya tapi penuh dengan cinta. Dan saya mau berterima kasih untuk masih peduli itu semua. By the way, “Mimpi Tentang Ibu” adalah bagian favorit saya, yang membuat saya sadar bahwa bagian terpenting tubuh kita adalah… baca aja 🙂

Hally Ahmad, Film Publicist, Event Spesialist

Sejauh yang saya kenal, Mbak Merlyn di segala keanggunan dan kejudesannya juga tergambar di kalimat yang ia pilih. Lugas, berani, jujur, tanpa tedeng aling-aling. Itu yang saya suka. Tak ada basa-basi. Membuat kita malu, gerah, tapi asyik untuk mengintip. Dengan beberapa kali gaya bertutur yang ‘keluar dari jalur’ tapi tetap menarik. Dan tanpa modal kecerdasan, Mbak Merlyn takkan mampu menelaah dan mengangkat hal yang sederhana di depan mata.

Dedy Darmawan, ST, Tarot Reader (Solusi Tarot Darma)

 

Mbak Merlyn yang kukenal adalah sosok yang cerdas, inspirasional, dan selalu positif. Setiap ngobrol dengannya, saya selalu kagum dengan semangatnya menciptakan kebaikan, kedamaian, optimisme, dan cinta kasih kepada sesama. Dan semua itu ia tuangkan dengan sangat apik dalam buku ini. Gaya bertutur di
tiap-tiap cerita mengalir lancar sehingga mudah dicerna. Katakatanya inspiratif, namun tak menggurui. Ceritanya blak-blakan, tapi tetap punya kelas. Buku ini mengungkapkan kejujuran hati seorang Merlyn Sopjan dengan tanpa basa-basi. Bagi saya, ini adalah refleksi diri yang jujur, cerdas dan humanis

Rizka Azizah (Chika), Features Editor Femina Magazine, @rizchik

Tanpa perlu menggurui dan menyebut inilah cita-cita atau harapan setiap orang, melalui buku ini yang ditulis dengan bahasa manis dan getir silih berganti, Merlyn mengingatkan bahwa kita perlu lebih beradab untuk memperbaiki kehidupan yang mulai melunturkan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta sejati. Merlyn ingin dirinya lebih bermakna bagi sesama manusia dan kehidupan ini.

Inang Winarso, Antropolog UNPAD Bandung

Cinta kasih yang jauh melampaui tubuh. Sepotong kerinduan pada waktu yang lalu dan keberanian menjejak pada bumi yang absurd, dihidangkan dengan indah di setiap lembarnya oleh sang penulis.This fascinating book is so smart, sexy, entertaining. What an elegantly written.

Chrissy Siahaan, Women Activist

Melalui buku ketiganya, Merlyn kembali mengajak pembaca untuk berdialog tentang hidup dan kehidupan, yang sarat dengan ketidak-adilan akibat sekat yang tajam. Merlyn berusaha memaknai hidup dengan berpikir melampaui sekat yang masih sangat dominan dalam masyarakat kita. Bukan hal yang mudah dan tanpa tantangan, tetapi Merlyn secara konsisten terus melakukannya. Dan, semuanya dilakukannya melalui
tutur kata yang lugas, tanpa basa-basi.

Muhadi Sugiono, Staf pengajar Ilmu Hubungan Internasional, UGM, Mantan Konvener Jaringan Hak-hak Azasi Manusia Asia Tenggara (SEAHRN)

-7%
Close

Yang Tertinggal

Rp 75.000 Rp 70.000

Yogyakarta adalah kota yang romantis. Di sana, seorang pemuda bernama Rizzi bekerja sebagai fotografer studio. Ia punya keinginan untuk mendatangi tempat dari tiga foto yang menempel di dinding kamarnya. Itulah cara ia mengenang sesosok perempuan, yang tak lain adalah pemilik panti asuhan yang berada di Semarang. Setelah tiga tahun bekerja di luar pulau, ia kembali. Selain merindukan keluarganya di panti, ia juga berniat menyelesaikan apa yang sempat dimulainya, bersama seorang perempuan bernama Nadia.

-8%
Close

Bicara Besar – Kumpulan Puisi Kezia Alaia

Rp 65.000 Rp 60.000

Bicara Besar adalah buku kumpulan puisi pertama, sekaligus buku pertama yang ditulis oleh Kezia Alaia (@keziaalaia) Buku ini berisi sekitar 40 puisi dengan tema beragam yang kesemuanya adalah usaha mendengarkan (dan membungkam) diri sendiri di tengah hiruk pikuk di sekeliling. Beberapa puisi berbicara tentang diri dan pertentangan di dalamnya, sementara beberapa lainnya tentang perenungan tentang tuhan dan cara-cara manusia untuk memahami sosok yang dituhankannya. Puisi lainnya berbicara tentang kekuasaan dengan bentuk-bentuknya yang beragam di keseharian, dan beberapa yang paling disukai Penulis bicara soal cinta. Puisi dalam buku ini sarat juga akan pandangan Penulis soal isu sosial.

Puisi-puisi dalam buku ini diilustrasikan oleh Reyna Clarissa (@reynaclarissa) yang juga mengerjakan sampul buku.

Bersamaan dengan ini, dibuka pula pre-order/pemesanan buku. Buku yang dibeli dalam jangka waktu pre-order akan mendapatkan harga khusus (Rp 60.000, harga asli Rp 65.000) + bonus pembatas buku + tanda tangan.

-14%
Close

Pencuri Budiman: Lima Serangkai Pahlawan Pembela Kebenaran

Rp 70.000 Rp 60.000

CERITA ini merupakan suatu cerita fiksi yang diangkat sebagai ungkapan kepedulian terhadap perjalanan suatu bangsa yang semakin terpuruk, terseok-seok laksana harimau luka terkena peluru, berjalan tanpa mempunyai arah tujuan yang jelas. Kekerasan, kekejaman, perselisihan, perpecahan, dan sebagainya.

Telah menjadi suatu kenyataan yang tampak setiap hari. Memang pahit karena segalanya terjadi justru setelah lahirnya reformasi yang bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak sempurna. Ada yang mengatakan bahwa reformasi yang dilakukan oleh rakyat Indonesia merupakan suatu reformasi yang kebablasan, artinya suatu reformasi yang terlalu jauh dari tujuan utama; yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran yang selama ini telah terinjak-injak.

-10%
Close

Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu

Rp 50.000 Rp 45.000

Buku ini berisi 33 puisi pilihan ditulis sepanjang tahun 2004-2015. Sosial-politik, cinta & kuasa antara yang berlegar di dalamnya dan menjadikan tiap satu darinya bermakna. Masa lalu penyair telah membentuk puisi-puisinya kini juga mewarnai kecenderungan masa hadapannya. Perspektif, ideologi dan sejarah digauli membentuk definisi apa yang dipanggil sebagai cinta. Sesungguhnya “Masa Lalu Jatuh Ke Senyumanmu” memberitahu kita bahawa sejarah masa lalu indah apa adanya.

Kedung Dharma Romansha telah mengabdikan diri pada sastera, teater juga filem bersama cinta & perjuangan disampingnya. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Jogja-Jateng dari Ernawaty Literary Foundation 2013 ini telah tampil dalam beberapa filem progresif seberang termasuk Soekarno (2013), Mata Tertutup (2011), “Habibi & Ainun (2012) dan Sang Kyai (2014). Buku puisi pertama beliau Uterus (2014).

-19%
Close

Politik 3.0

Rp 80.000 Rp 65.000

Dalam suasana elektoral sedemikian pekat dengan intensitas lintang pukang seperti yang kerap kita alami, sebuah pertanyaan penting diajukan: ketika kompetisi elektoral tengah berlangsung, adakah rakyat telah menjadi subjek yang sesungguhnya? Pertanyaan ini bukan remeh, meski sebagian akan menjawabnya sebagai hal yang telah usai. Pertanyaan itu sendiri masih menyimpan kemungkinan jawaban yang beragam, namun satu hal yang pasti adalah ketika suara telah selesai dihitung dan kotak suara telah ditutup, rakyat tak ada lagi.

POLITIK 3.0 ini, hendaknya ingin  menyajikan  bahwa semua politikus sebenarnya bisa berpolitik  di pangung demokrasi dan selama itu  pun mereka juga  akan tetap dicintai oleh rakyatnya. Bahwa politik bisa dikelolah menjadi upaya untuk menggapai mimpi-mimpi melalui program dan langkah-langkah strategis. Semua orang bisa menggapainya sepanjang memiliki asa dan tekad yang kuat untuk menghadirkan warna baru ditengah jagad perpolitikan kita yang cendrung seragam.

Yang dipotret di buku ini bukan sekadar perjalanan seorang Politisi muda, tetepi bagaiman para relawannya menjadi bagian penting  dari semua proses politik yang dilalui seseorang.

Para relawan  tak banyak dicatat, mereka kerap dilupakan.  Padahal peran merka tidaklah kecil. Mereka adalah kekuatan utama yang menjadi garda terdepan para politisi. Suka dan duka sudah dirasakan oleh mereka, tetapi dibalik sudak dan duka para relawan itu kemudian muncullah sosok politikus kita yang sesungguhnya.

-5%
Close

Mbah Sjukur dan Cerita Lainnya yang Tak Patut Kau Percayai

Rp 45.000 Rp 42.750

“Membaca cerpen-cerpen Ade Ubaidil ini terasa ‘ajaib’. Seperti bukan karya Ade yang biasanya saya baca. Di kumcernya ini Ade sudah dewasa. Saya seolah membaca gaya bercerita dan menulis dari penulis luar negeri. Ade sudah bisa memadukan setting lokasi cerita di wilayah lokal dan setting lokasi entah di mana. Ini satu lompatan besar bagi karir kepenulisannya. Terus menulis, Ade.”

(Gol A Gong, Penulis dan Pendiri Rumah Dunia)

“Dunia penceritaan di tangan Ade Ubaidil menjadi dongeng yang kian lindap, hitam, dan kental. Ia seperti mau menulis seenak jidatnya saja, tanpa ingin bertanggungjawab apakah ceritanya masuk akal atau tidak. Namun demikian, surealisme dalam cerpen-cerpen Ade Ubaidil merupakan pilihan kerja kreatif yang dilakoni dengan spirit the adventure of ideas. Pembaca, oleh karenanya, perlu juga untuk menangkap ide-ide apa yang sekiranya telah ditanam pengarang di belantara ceritanya. Selamat untuk Ade. Maju terus! Banten ke depan semakin butuh generasi muda yang kreatif, cerdas, dan berani.”

(Chavchay Syaifullah, Penyair dan Ketua Dewan Kesenian Banten)

“Kalau cerpen adalah oase, kita bisa menikmati dari indahnya bahasa dalam buku ini. Kalau cerpen adalah sumur, kita bisa menimba banyak hal dari buku ini. Selamat menikmati sajian Ade kali ini.”

(Teguh Afandi, Penggiat Klub Baca)

“Ade Ubaidil mengolah kenyataan dan fantasi menjadi kritis, kemudian mengejutkan. Baca dan rasakan gejalanya.”

(Eko Triono, Penulis Buku, “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-Pohon?”)

“Ide-ide yang diangkat sederhana tapi dieksekusi dengan sangat matang. Banyak adegan-adegan yang filmis ketika dibaca, ditambah racikan dialog yang ciamik dan menggugah. Salut buat penulisnya yang muda dan kreatif.”

(Sahrul Gibran, Sutradara dan Produser Film, “Mars”)

“Bagi saya, menulis adalah tentang bagaimana caramu mengatur emosi—dan karya ini terlahir atas hasil pergulatan pikiran serta emosi diri sendiri. Namun, pada akhirnya pengarang telah mati. Sekumpulan cerita pendek dalam buku ini kini menjadi milik pembaca. Maka hal berikutnya yang saya sampaikan tak lain: selamat membaca dan menyelami kehidupan para tokoh yang berada di dalamnya—yang sebenarnya nyata dan ada di sekitar kita. Tetapi sungguh, kau boleh memilih untuk tidak memercayainya.”—hal.13.

 

-7%
Close

Wartawan Kerah Hitam

Rp 70.000 Rp 65.000

Idealisme kaum muda yang tinggi menjulang sampai nyaris menyentuh bulan sering tak berarti apa-apa karena begitu bersentuhan dengan realitas hidup yang keras, tak jarang sangat getir, apa yang ideal itu terasa begitu jauh, tanpa pijakan, dan rapuh. Meskipun begitu, tantangan keras dan sangat getir seperti itu masih sering bisa dikalahkan dengan apa yang disebut “prinsip”, diikuti penegasan: hidup harus dibangun di atas landasan dan prinsip yang jelas, agar kita tak mudah terbujuk.

Tapi ketika apa yang kita sebut realitas hidup itu tampil lembut, halus, dan agak menggoda, dengan tawaran yang menjamin kenikmatan hidup dan tambahan derajat lebih tinggi, maka penolakan terhadapnya hanya akan menjadi sikap yang bisa diejek ‘keras kepala’ dan ‘dungu’. Dan sering dengan tambahan bahwa yang bersangkutan hidup seperti di awang-awang. Bisa saja dia tidak peduli sama sekali. Boleh jadi idealismenya bisa bertahan sebulan, dua bulan, atau sedikit lebih lama lagi.

Namun bila bujukan itu begitu gigih dan tetap dalam kelembutan yang seolah tak memiliki kepentingan apa pun, maka seperti yang banyak terjadi, idealisme itu diam-diam takluk dan runtuh total. Dan orang berkata—mungkin dengan sedikit kecewa—bahwa di dunia fana ini barang apa yang punya harga bisa dibeli. Begitu juga ‘harga diri’.

Novel ini bermain di dalam setting moral yang kurang lebih mencoba menjelaskan bahwa idealisme itu rapuh, dan bagi banyak orang, daya hidupnya pendek. Banyak orang idealis yang tunduk pada keadaan. Kemudian berkhotbah mengenai realitas hidup yang memang sudah begitu adanya dan tak mungkin digoyah-goyah lagi. Kita harus realistis. Maka hidup dengan idealisme dianggap terkutuk. Atau dungu.

Tokoh kita, bukan tipe pribadi seperti itu. Dia tak ingin menjadi “yang terkutuk” dan dungu. Dia bermain di dalam situasi “rusuh” dunia media yang memalukan itu. Dan dia kelihatannya bermain dengan lihai. Apa yang sudah buruk dibikin menjadi lebih buruk. Apa yang sudah terlanjur “edan” dibuka sekalian agar yang edan tampak edan sungguhan tanpa rasa malu. Sikap munafik, sok suci, dan penuh sikap kongkalikong tak lagi ditutup-tutupi. Media tak lagi menjadi cermin hati nurani masyarakat, tak menjadi masalah. Dia telah memilih peran dengan penuh kesadaran.

(Mohamad Sobary, esais)

Dari sejumlah novel berlatar cerita dunia jurnalistik, Wartawan Kerah Hitam termasuk yang menarik untuk dibaca. Selain karena secara rinci mampu menggambarkan ruang dapur, kebijakan, dan situasi lapangan peliputan berita, ia juga mengisahkan tentang apa yang terjadi di balik berita. Termasuk rekayasa, intrik, dan pemerasan yang dilakukan para pewarta. Mulai dari pewarta bodreks sampai kebusukan para pemimpin media massa. Kecermatan pengarang menguraikan rincian, taktik pemerasan, teknik peliputan, dan penulisan berita menyebabkan novel ini cukup kredibel untuk dibaca. Tidak hanya untuk kalangan jurnalistik tapi juga oleh pejabat, para koruptor, manipulator, bahkan para penasihat spiritual dan pimpinan partai politik. Sebuah novel yang cukup menegangkan sebagai fiksi, tapi juga sangat meyakinkan sebagai realitas. Bagus!

(Noorca M. Massardi, pengarang dan pewarta)

 

Close

Jawaban

Rp 38.500

Dalam hening aku berdoa
Di antara yang terlelap dalam mimpi
Bulan sabit, benderang di luar sana
Kurasakan bunyi pada tiap helai daun bergesekan
Dan langkah kaki angin berbisik
Kupinta pada Ia
Sebuah damai
Dan berdua kita bercakap dalam doaku pada-Mu
Saat itu
Engkau
Benderang bersinar