Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan 26 hasil

Show sidebar

Active filters

-5%
Close

Identitas Hibrid Orang Cina

Rp 50.000 Rp 47.500

Buku ini mengajak kita untuk menginterogasi cara kita memahami apa yang kita sebut identitas. Tanpa interogasi-diri, kita mungkin mudah menjadi konsumen retorika-retorika baru yang sarat pesona, misalnya multikulturalisme, tapi isi kepala kita tentang mereka yang kita anggap si-Liyan (the Other), mungkin tak pernah berubah. Budiawan, Sejarawan Staff Pengajar pada FIB UGM).

Buku ini mengisi kekosongan yang sangat penting dalam kajian mengenai komunitas Cina. Dengan memanfaatkan konsep hibriditas identitas yang kerap diacu para penggiat cultural studies, penulis berhasil menangkap heterogenitas dan saling sengkarut identitas komunitas Cina peranakan Kristen. (Trisno S. Sutanto, Koordinator Penelitian Biro Litkom-PGI, Jakarta.)

Penulis menunjukkan adanya identitas hibrid (multiple identities): seseorang bisa menjadi orang Tionghoa, sekaligus orang Indonesia, serta di saat yang sama ia juga seorang Kristen. Seperti halnya kelompok lain, identitas orang Tionghoa adalah cair, dinamis dan heterogen. (Didi Kwartanada, Sejarawan Yayasan Nabil (Jakarta)

Buku ini akan menjadi pandu bagi semua orang Cina di Indonesia dan, terutama, bagi Indonesia untuk bersiap menyambutnya. Lalu semua suku dan semua agama di negeri ini berdiri dengan tangan kanan yang terkepal di dada sembari berkata lantang: Indonesialah poros bagi segala yang ada. (Muna Panggabean, Novelis).

Dengan bahasa yang jelas dan agumentasi cerdas serta menantang, buku ini menegaskan bahwa identitas merupakan routes, bukan root. Darwin mengajak kita melihat proses identifikasi diri menjadi sekaligus Cina Indonesia Kristen. (Albertus Patty, Pendeta GKI, aktivis Pluralisme).

-8%Hot
Close

Perahu Mabuk: Sepilihan Sajak Cinta

(1 ulasan pelanggan)
Rp 50.000 Rp 46.000
-12%Hot
Close
-7%Hot
Close

Sepak Bola Seribu Tafsir

(1 ulasan pelanggan)
Rp 55.000 Rp 51.000
-10%Sold out
Close

Jalan Lain ke Tulehu, Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar

Rp 49.000 Rp 44.000

Datang ke tengah konflik Maluku sebagai seorang jurnalis, Gentur kemudian terperangkap dalam berbagai situasi pelik. Gentur tak hanya menyaksikan korban-korban berjatuhan, tapi dia juga beberapa kali terjebak dalam situasi konflik yang membahayakan jiwanya.

Melalui cara yang penuh ketegangan, Gentur akhirnya tiba di Desa Tulehu, sebuah desa muslim yang terkenal sebagai kampung sepakbola. Persahabatannya dengan Said, seorang mantan pemain bola yang gagal, membawa Said pada berbagai petualangan yang berbahaya dan arus pikiran yang dinamis dan kadang menyakitkan. Di titik itulah sepakbola menjadi lorong waktu yang menuntun Gentur menemukan jalan penyelesaian atas semua trauma yang mengeram di kepalanya.

Novel ini bukan hanya bercerita tentang bagaimana sepakbola secara unik memainkan peranannya di tengah konflik. Novel ini juga menempatkan puisi, musik dan politik ingatan sebagai elemen penting yang bahkan sempat menyelamatkannya dari keganasan sebuah laskar rahasia yang hendak mengeksekusinya. (less)

-9%Sold out
Close

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Rp 58.000 Rp 53.000

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

-10%Sold out
Close

Pengantar Pemikiran Tokoh-tokoh Antropologi Marxis

Rp 50.000 Rp 45.000

“Marx, yang kepadanya kita berutang pembedaan antara infrastruktur dan suprastruktur, memusatkan perhatiannya terutama pada yang pertama dan paling-paling mengulas relasi antar keduanya hanya secara garis besar saja. Kepada teori suprastruktur inilah saya coba memberikan sumbangsih.” — Claude Lévi-Strauss

Sold out
Close

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Rp 60.000

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea 1990)

-7%Sold out
Close

The God Delusion

Rp 96.500 Rp 90.000
-10%Sold outHot
Close
-10%Sold out
Close

Thesis–Tan Malaka

Rp 50.000 Rp 45.000

Melalui “Thesis”, Tan Malaka membatalkan Putusan Prambanan, sebuah rencana pemberontakan PKI pada 1926. Di masa itu Tan adalah Ketua Komintern (Komunis Internasional) untuk Wilayah Asia Timur. Menurutnya, kondisi obyektif dan subyektif PKI belum memenuhi syarat untuk suatu aksi revolusi. Tapi, Alimin tidak menyerahkan keputusan pembatalan oleh Tan itu kepada Sardjono, Musso, dan kawan-kawannya di Singapura.

-14%Sold out
Close

Hikayat Kadiroen-Semaoen

Rp 55.000 Rp 47.500

Jalan hidup Kadiroen, pejabat lokal di pemerintahan Hindia Belanda, berubah setelah dia mendengar pidato Tjitro, seorang tokoh Partai Komunis. Tjitro bicara tentang kapitalisme, perlunya berserikat, serta komunisme.

Idealisme Kadiroen sejalan dengan konsep Partai Komunis. Dia pun bersimpati dan mendukung partai itu secara diam-diam. Dia melepas kariernya di pemerintahan kolonial dan menjadi penulis pada Sinar Ra’jat, harian Partai Komunis, bahkan pernah terkena pasal delik pers (persdelict).

Novel yang ditulis Semaoen ketika dirinya di penjara pada 1919 ini menunjukkan sosok Kadiroen sebagai borjuis yang menjadi pahlawan karena berupaya memakmurkan kaum tertindas. Selain itu novel ini juga menyelipkan cerita cinta Kadiroen dan Ardinah, istri seorang lurah yang terkena kawin paksa. Romansa mereka menjadi penutup seluruh kisah.

-10%Hot
Close

OBROG OWOK-OWOK EBREG EWEK-EWEK

Rp 45.000 Rp 40.500

Naskah teater di Indonesia tergolong jenis penulisan yang paling jarang diterbitkan, padahal kegunaannya tidak sebatas dibaca, tetapi bisa langsung dipentaskan. Naskah Obrog Owok-Owok Ebreg Ewek-Ewek karya Danarto ini, seorang penulis dan berupa gardadepan, adalah bagian dari kebangkitan teater kontemporer Indonesia di tahun 1970an, dengan tokoh-tokoh yang karyanya telah menjadi perbendaharaan klasik seperti Rendra, Teguh Karya, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan Sardono W. Kusumo.

Dengan latar Pasar Beringharjo, Yogyakarta, tahun 1970an tersebut, Danarto mempermainkan konsep ruang dan waktu, sehingga bebas dari ikatan konvensional, sekaligus tetap kritis kepada peranan ekonomi pasar maupun orientasi ilmiah terhadap kebudayaan: melahirkan berbagai peristiwa panggung serba hiruk-pikuk, lucu, sekaligus ajaib, khas “guyonan mistik” Danarto.

-12%Sold out
Close

Yogyakarta Sister City

Rp 60.000 Rp 53.000

Dalam masyarakat internasional dewasa ini, perjanjian internasional memainkan peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan dan pergaulan antarnegara. Dalam dunia yang ditandai saling ketergantungan dewasa ini, tidak ada satu negara yang tidak diatur oleh perjanjian dalam kehidupan internasionalnya.

Buku ini menjelaskan tentang kewenangan dan status pemerintah daerah dalam melakukan hubungan internasional dan dalam membuat perjanjian internasional. Seiring dengan berlangsungnya otonomi daerah, kini pemerintah daerah di Indonesia telah banyak menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah di luar negeri yang kemudian dituangkan ke dalam perjanjian internasional. Buku ini khususnya berisi tentang perjanjian kota atau provinsi kembar (sister city/sister province) yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

 

Sold out
Close

Get Ready? This is K-Pop

Rp 40.000

Di antara banyak musik di dunia ini, K-Pop adalah salah satu musik yang gue suka. K-Pop juga yang mau gue bahas di sini. Gue sebenernya juga suka musik-musik Jepang meski ga maniak, suka music Barat juga terutama aliran FolkRock. Gue juga suka R&B dan HipHop. Gue orang Indonesia dan ada juga musisi Indonesia yang gue suka yaitu J-Flow. Gue juga suka musik tradisional. Gue rasa music tradisi itu punya aura khusus, yang ngebuat gue lebih care sama sekitar meskipun asupan music modern juga gue terima. Ibaratnya musik tradisi itu penyeimbang di tengah hiruk pikuk musik modern saat ini. Intinya gue suka musik lah, banyak genre yang gue suka.

Kenapa gue pengen nulis tentang K-Pop? Gue rasa ada “something” di musik yang bakal keren kalo gue jabarkan lebih dalam apalagi tentang musik K-Pop, musik yang gue suka. K-Pop bagi gue adalah fenomena musik yang menggugah rasa keingintahuan gue untuk tahu lebih dalam. Gue sebenernya banyak berpikir ketika mendengar lagu-lagu mereka hampir 10 tahun ini, memori tentang lagu Korea kuat di ingatan gue karena ga cuman setahun dua tahun gue ngedengerin lagu-lagu itu, tapi udah sekitar 10 tahun, sejak gue SMP bahkan sampai saat ini tahun 2014. Dan gue rasa ini saat yang tepat untuk membaginya di sini.

Di sini gue pengen ngasih semacam penjelasan kalo K-Pop itu luas, beyond dari apa yang mayoritas orang tahu secara umum. Banyak hal yang bias dieksplor dari K-Pop sehingga pada akhirnya kita akan mengerti kalo K-Pop bukan hanya berakhir di kata “fun, pretty/handsome”, tapi kita bias “respect & inspire” sama karya2 seputar K-Pop itu sendiri.

Part 1 ini gue kasih nama “Introducting KPOP” karena gue pengen ngejabarin apa sih sebenernya K-Pop itu. Nama-nama part di buku ini gue ambil dari nama-nama bagian lagu yang sedikit gue plesetin dari mulai intro, verse, chorus, bridge sampai outro kecuali untuk big 3. Karena ini buku tentang musik, jadi menurut gue nyambung kalo part2 di sini gue kasih judul seperti ini, hehe.

-10%Sold out
Close

Saiman dan Cerita-Cerita Lainnya

Rp 50.000 Rp 45.000

KINI SEMUA ORANG BISA MENULIS, BEBAS MENULIS. Di buku harian, di media sosial, di media online, di tembok-tembok kota, di mana saja. Lebih bebas dari bertahun-tahun silam, meski tentu akan selalu ada batasan walau sedikit. Orang bisa menulis tentang dirinya, pengalamannya tentang apa saja, tentang orang lain, bercerita tentang segala sesuatu, atau mengarang. Menulis menurut banyak orang adalah sebuah kegiatan yang membebaskan. Saya yakin, penulis buku ini juga setuju. Itulah mengapa ia mengabadikan cerita-ceritanya dalam sebuah buku.

Ketika kumpulan cerpen ini saya baca, saya menemukan wajah asli kehidupan masyarakat daerah di Indonesia. Dengan persoalan yang masih seputar sosial dan ekonomi. Hubungan antartetangga dalam lingkungan kampung, bagaimana warga yang satu membicarakan warga yang lain entah karena jabatannya atau keburukannya. Istri yang punya anak dengan tetangga karena suami pergi jauh mencari nafkah, dan sebagainya. Potret kehidupan seperti inilah yang masih banyak terdapat di negara kita, yang ingin ditunjukkan penulis lewat cerita-ceritanya.

Saya rasa tak ada yang salah dengan menulis cerita- cerita yang apa adanya. Meskipun memang bikin miris hati. Tapi toh itulah faktanya, bahwa negara kita masih miskin moral, masih di bawah garis kemiskinan, masih kurang peka bahwa selalu ada realitas seperti ini di pinggir-pinggir kota dan di daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Dengan membaca kumpulan cerita ini, diharapkan para pembaca dapat lebih peduli dengan realitas sosial yang ada di sekitar dan lebih bijaksana dalam menyikapi setiap persoalan hidup yang muncul. Pada akhirnya, saya ucapkan selamat membaca dan mempelajari setiap segi kehidupan manusia.

-10%Hot
Close

“SARELGAZ” dan cerita-cerita lainnya

(1 ulasan pelanggan)
Rp 50.000 Rp 45.000
-10%Sold out
Close

Sakrama Samaya

Rp 50.000 Rp 45.000

Mengangkat tema cinta degan sudut pandang yang berbeda, jelas butuh lebih dari sekadar menggunakan perspektif unik. Sakrama Samaya, merupakan judul yang dipilih dari 16 cerpen untuk menggambarkan kegelisahan kedua penulis dalam memahami cinta secara spiritual, konseptual, maupun horisontal. Cinta seorang ibu kepada anaknya, kepada Tuhan, bahkan cinta dengan jenis kelamin yang tak berbeda. Beberapa kisah terasa anomali memang, tapi di sanalah kekuatan kumpulan cerpen (kumcer) yang sedang berada dalam genggaman Anda ini. Nikmati saja perbedaan itu dan—akhir kata—selamat membaca.

-10%Hot
Close
-20%Hot
Close

Mengantar dari Luar

Rp 94.500 Rp 75.600

Tidak berbeda dengan karya-karya fiksinya esai-esai Puthut EA dalam buku ini menawarkan pengalaman rasa yang beraneka. Pada esai-esainya kita akan menemukan rasa yang berjalin dan berkelindan dengan fakta, wacana dan pengalaman yang terangkum dalam bahasa lincah, mengalir tak membosankan membawa kita pada pengalaman serta perkenalan yang dalam, hangat dan menyenangkan atau kadang-kadang mengganggu tentang apapun bahasan yang dikupas.

Puthut EA mencatat fakta, baik dari hasil reportase, riset dan wawancara dengan kecermatan kerja seorang wartawan. Ia lalu menuliskannya dengan kepiawaian seorang penulis fiksi. Kita akan dibuat hanyut detil adegan, plot, dan terbenam oleh aneka anekdot. Begitulah cara ia mengantarkan kisah para tokoh , aneka manusia ditengah peristiwa, dan bahkan sejarah sebuah wadah.
Beberapa artikel dalam buku yang ditulis dengan sederhana dan mudah dibaca ini akan memaksa kita berpikir keras untuk mengevaluasi kembali berbagai strategi yang selama ini banyak dipergunakan dalam gerakan sosial di Indonesia.

-10%Sold out
Close

Drama itu Berkisah Terlalu Jauh

Rp 40.000 Rp 36.000

Ada yang janggal, ketika orang hilang, pembantaian,pembunuh misterius dan penindasan kaum minoritas di sebuah negara begitu saja bisa dilupakan. Kejahatan kemanusiaan seperti sebuah tren yang telah berlalu. Konon Reformasi membawa kita ke sebuah zaman keterbukaan. Dan di sini kita sering mendengar slogan serta kampanye melawan lupa, menolak lupa, menolak bungkam dan sebagainya. Tapi sedikit sekali yang bisa menjelaskan, sebenarnya apa yang kita tolak dan siapa yang kita lawan?

Jargon, slogan dan pamflet lantas hanya berhenti pada sekadar usaha merayakan sesuatu yang berulang sebulan sekali atau setahun sekali. Lewat buku ini Puthut Ea menjadi juru bicara bagi korban, manusia yang dikalahkan lantas dipaksa menyerah. Namun jangan berharap ada herosisme di sini. Kisah-kisah ini hanya fiksi, hanya kisah “kebohongan” dari kebenaran.

-10%Sold out
Close

Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta

Rp 40.000 Rp 36.000

Buku ini tidak hanya bercerita tentang kisah kisah cinta yang indah namun lebih daripada itu: menyingi luka. Manusia tidak selamanya melulu hidup dengan kasih sayang.

Kisah-kisah didalam buku ini mengambil tragedi sebagai napas; percaya untuk kemudian mengutuk pertemuan yang hanya berujung kepergian. kumpulan cerita ini juga bicara tentang rindu, simpati, cemburu, hal remeh temeh yang dimiliki oleh manusia yang gagal memahami bahwa hidup tak hanya perihal cinta.

Puthut Ea tahu bagaimana caranya menghadirkan rupa luka. Ia bicara dengan sendu saat di mana kita benar-benar merasa sunyi, benar-benar merasa takut dalam kesendirian, benar-benar tak bisa bertahan lagi; bahwa ada perasaan yang menolak ditahan dan harus segera diutaran, dan menghadirkan kenang-kenangan yang semena-mena datang, menyaru rupa kebencian dengan rindu yang teramat.

Jika Anda sedang merayakan kepedihan, ingatlah: Anda tak sendiri

-10%
Close

Impian di Tepi Bakaro–Kumpulan Cerpen Manokwari

Rp 40.000 Rp 36.000

Pengantar Editor–Faiz Ahsoul

Kali pertama membaca draf naskah kumpulan cerita pendek (cerpen) ini, saya merasa gugup, gagap, bahkan keder. Sebuah karya kumpulan cerpen yang lahir dari rahim para penulis muda yang sebagian besar tumbuh kembang di pinggiran pantai Manokwari, Papua Barat. Sementara saya, lahir di Cirebon, Jawa Barat, tumbuh kembang di pinggiran pantai utara Laut Jawa, (sekarang mukim di Yogyakarta). Sesama anak pantai,—tumbuh kembang dalam buaian angin laut, buih ombak, galangan kapal-kapal, dan perahu nelayan, serta asinnya air laut—namun bentukan sosio-kultural kami berbeda. Ada jarak, ada batas, ada garis tradisi yang tidak sama. Inilah salah satu hal yang membuat saya gagap dan keder ketika menghadapi bacaan dengan gaya bahasa, struktur kalimat, bentuk narasi, dialek dan pola tutur sehari-hari para penulis muda Papua Barat. Kesamaannya hanya satu, kami anak-anak bangsa Indonesia.

Meski para penulis cerpen dalam buku ini menetap, tinggal dan menjadi warga Manokwari, Papua Barat, namun ada beberapa di antara mereka kelahiran tanah Jawa seperti Indah Anggun Mawarni, kelahiran Cilacap, Jawa Tengah. Begitu juga dengan Bunga Nieta Putri Vidanska, kelahiran Yogyakarta. Selain tanah Jawa, ada juga yang kelahiran Sulawesi seperti Yuliana, dia kelahiran Mamuju. Mereka bertiga, berbaur dan menyatu bersama sebelas penulis lainnya. Mencoba mewakili generasi zamannya untuk mengabarkan dan menyuarakan keindahan alam, tradisi, bahasa, identitas, gaya hidup, cita-cita dan jejak cinta anak muda lewat karya cerpen yang kental dengan nilai lokalitas Manokwari, salah satu kota di sudut tanah Papua. Untuk itu, suara bunga rampai identitas mereka saya ikat dalam sub judul buku: Kumpulan Cerpen Manokwari.

Setiap kali mengedit buku, khususnya buku karya sastra, saya selalu berusaha untuk mengetahui asal usul dan identitas penulisnya. Minimal mengerti informasi dasar bentukan lingkungan sosial dan latar belakang pendidikannya. Syukur kalau bisa ‘mengintip’ pola pendidikan keluarga, hobby dan buku-buku yang biasa dibacanya. Informasi dasar tersebut, kemudian menjadi salah satu pijakan saya dalam membaca dan mempelajari draf naskah karyanya.

Para penulis cerpen dalam buku ini rata-rata anak muda; ada yang masih kuliah di UNIPA, tapi ada juga yang sudah sarjana, bahkan asisten dosen dan karyawan perusahaan swasta. Namun yang mengejutkan, di antara mereka ada yang masih duduk di Sekolah Menengah Atas seperti Ida Fitriyaningsih dan Febty Dwi Jayanti, mereka berdua masih sekolah di SMAN I Prafi. Sementara Bunga Nieta Putri Vidanska, SMAN I Manokwari. Asal-usul yang cukup beragam, mengimbas pada tema cerita yang terselip dalam karya cerpen mereka beragam pula. Begitulah, untuk bisa menangkap pesan dalam cerpen yang ingin disampaikan kepada pembaca, salah satu caranya adalah berusaha untuk mengetahui dan mengenali lebih dekat, bahkan lekat—baik latar penulisnya maupun teks karyanya. Tapi seorang editor, harus bisa objektif dan jaga jarak, agar keotentikan dan orisinilitas karya tetap terjaga. Untuk mengenali dan memahami teks karya, langkah pertama yang saya ambil adalah membaca seluruh tubuh draf naskah dari awal sampai akhir; memberi tanda-tanda khusus pada bagian-bagian yang masih menyimpan tanda tanya dan perlu revisi.

Langkah kedua, membuat catatan-catatan terkait temuan awal membaca. Catatan-catatan ini berupa konfirmasi atau klarifikasi dan rekomendasi. Catatan konfirmasi untuk penulis dan penerbit, berisi data maupun informasi tentang konten naskah, asal usul dan tujuan diterbitkanya naskah. Kemudian catatan rekomendasi untuk penulis, penerbit, dan saya sendiri. Catatan rekomendasi untuk penulis dan penerbit berupa usulan-usulan revisi, mengurangi, menambal dan menyulam kembali untuk penyempurnaan naskah, konsep artistik buku dan desain cover buku hingga terbit. Khusus catatan rekomendasi untuk saya sendiri, adalah sederet literature baik berupa buku, visual, maupun audio visual (film dan video). Tergantung bentuk dan tema draf naskahnya. Langkah ketiga, saya berburu literature yang harus saya baca dan pelajari. Langkah keempat, eksekusi draf naskah atau mengedit teks naskah.

Ketika langkah-langkah kerja tersebut tidak dilakukan editor, bisa dipastikan yang terjadi adalah tindak ‘kekerasan’ terhadap teks dan sikap ‘banal’ terhadap karya maupun penulisnya. Orisinilitas karya akan hilang. Karakter karya berubah total dari bentukan penulisnya. Dan bisa jadi, pesan penulis yang ingin disampaikan ke publik pembaca lewat karyanya akan melenceng jauh. Karya pun menjadi ‘cacat’ atau ‘rusak’. Siapapun editor, penulis, dan penerbit, bahkan pembaca buku, jelas tidak menginginkan hal itu terjadi.

Berdasarkan cara kerja tersebut, saya mulai aktif komunikasi dan korespondensi dengan David Pasaribu, penggerak Komunitas Suka Membaca (KSM) Manokwari sekaligus pembawa draf naskah dan pemegang produksi penerbitan buku ini. Korespondensi antara ‘Tanah Papua’ dan ‘Tanah Jawa’ pun berjalan memakan waktu satu putaran purnama lebih sepekan. Sejak akhir Desember 2013 sampai awal Februari 2014. Antara kota Manokwari dan kota Yogyakarta. Antara David Pasaribu dan saya, juga beberapa orang yang terlibat dalam kerja kreatif penerbitan buku ini. Balik lewat telpon, sms, email, maupun media sosial lainnya.

Di luar korespondensi, saya mulai membekali diri. Saya hunting literature tentang Papua dan mempelajarinya. Kalau bukubuku tentang Papua yang pernah saya baca, cukup saya tengok dan baca kembali sebagai pengingat, di antaranya:“Papua, Jejak Langkah Penuh Kesan” yang ditulis Ahmad Yunus dan Frino Bariarcianur, “Limabelas Tahun Digul” karya I.F.M. Chalid Salim, “Pendingmas” karya Herlina, dan novel “Tanah Tabu” karya Anindita S. Thayf, pemenang pertama sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2008. Sementara buku yang belum pernah saya baca, khususnya terkait dengan sejarah, alam, budaya, tradisi sosiologi dan antropologi Papua, betul-betul saya pelajari. Dan saya cukup beruntung karena tidak perlu jauh-jauh berburu literature tentang Papua. Di Indonesia Buku/Gelaran Iboekoe, perpustakaan komunitas dan taman baca yang saya kelola bersama kawan-kawan di Yogyakarta, ada sekitar 1500-2000an judul buku, paper penelitian, jurnal, maupun majalah koleksi pustaka pribadinya George Junus Aditjondro, seorang doktor dan sosiolog sekaligus aktivis gerakan sosial yang konsen terhadap dinamika dan perkembangan Indonesia Timur. Di antara ribuan koleksinya, saya menemukan beberapa literature tentang Papua yang cukup membantu untuk mengedit draf naskah kumpulan cerpen ini.

Merasa masih kurang dengan membaca buku, saya berburu film dan video tentang Papua. Lagi-lagi, saya cukup diuntungkan untuk kebutuhan literature tersebut. Perkembangan teknologi informasi, sangat membantu sekali. Tinggal buka youtube.com dan ketik Papua, lalu klik; bermunculan sudah film-film maupun video dokumenter tentang Papua. Baik yang hanya menggunakan tanah Papua sebatas latar cinema, maupun utuh tentang dunia keseharian masyarakat Papua, termasuk interaksi dan akulturasi antara warga asli Papua dan warga pendatang. Bahkan film tentang potret pendidikan di Papua, cita-cita serta impian anak-anak Papua, juga banyak dan bisa dijadikan referensi dalam mempelajari Papua. Ada film Di Timur Matahari, Denias Senandung di Atas Awan, Melody Kota Rusa dan filmfilm lain tentang Papua termasuk video-video komedi tanah Papua, MOP Epen kah-Cupen toh.

Film maupun video tentang Papua sangat membantu saya untuk memahami bahasa sehari-hari di Papua. Apalagi cerpencerpen dalam buku ini, menggunakan logika alur cerita, dialek dan struktur kalimat bahasa tutur atau bahasa lisan Papua. Pertama kali membacanya, saya butuh waktu dan proses yang menuntut kesabaran dan ketelitian: saya timang-timang, bolak balik saya baca berulang, bahkan beberapa kali saya perlu menarik nafas panjang dan menutup kembali draf naskah ketika terbentur titik jenuh. Tapi tidak kapok. Bahkan semakin penasaran. Sampai akhirnya, saya menemukan kenyamanan dan keasyikan membaca naskah kumpulan cerpen ini. Ada semacam aura lautan dan daratan Nusantara bagian ujung timur yang menguar kuat di setiap lembar ceritanya, sekaligus potensi kekayaan literasi yang belum diekplorasi dan digali pada setiap jejak goresan karya para penulis muda Papua. Ini salah satu tanda bahwa gerakan literasi di Papua Barat memang belum semarak.

Setelah berhasil menikmati dalam membaca, mengoreksi dan mengedit draf naskah, dari empatbelas cerpen yang ada, saya akhirnya mengantongi tiga judul cerpen bakal calon, untuk diajukan sebagai judul buku. Ketiga judul cerpen tersebut: (1) Asa di Ujung Senja karya Dyah Brigitta L. Ubyaan, (2) Impian di Tepi Bakaro karya Everista Iriani Ayaan, dan (3) Yakobus karya Fiona Luhulima. Begitu selesai saya diedit, saya lontarkan ketiga judul cerpen tersebut kepada David Pasaribu selaku pimpinan produksi penerbitan buku untuk mendiskusikan dengan kawan-kawan di Manokwari.

Pertimbangan mengajukan ketiga judul cerpen tersebut, salah satu argumentasinya saya sandarkan pada karakter cerpen dan pesan yang ingin disampaikan penulis lewat karyanya: Pertama, cerpen dengan judul Asa di Ujung Senja, sebuah cerpen yang cukup matang. Narasinya mengalir, punya karakter cerita tutur ‘Papua Banget’, sekaligus membawa pesan moral tinggi; semangat untuk cepat bangkit ketika mendapat musibah. Kedua, cerpen dengan judul Impian di Tepi Bakaro, menyelipkan nilai atau pesan dalam dunia pendidikan di Papua. Mengajak pembaca, khususnya anak muda Papua, untuk tergugah dan berani mempunyai mimpi, impian serta cita-cita tinggi, dalam bungkus kisah cinta yang samar dan edukatif. Ketiga, cerpen dengan judul Yakobus, dianggap sudah cukup familiar untuk publik media sosial khususnya facebook. Karena sebelumnya cerita ini memang pernah diungah dalam media sosial facebook. Selain itu, cerpen Yakobus adalah MOP dalam berbentuk tulisan. Dan MOP sendiri seperti halnya dongeng, salah satu bentuk karya sastra lisan Nusantara asal Papua.

Setelah didiskusikan bersama dengan berbagai pertimbangan yang berdasarkan pada niat awal penerbitkan buku, (mensuport dan memajukan gerakan literasi di Manokwari, Papua Barat), akhirnya dari tiga judul cerpen yang saya tawarkan, pilihan bersama untuk judul buku, jatuh pada judul cerpen Impian di Tepi Bakaro dengan anak judul Kumpulan Cerpen Manokwari. Bakaro adalah salah satu pantai di Manokwari dengan anak-anak Doreri (anak-anak lokal pantai), sebagai salah satu ikonnya. Harapannya, impian dan citacita anak-anak Doreri memajukan Manokwari dikemudian hari bisa mewujud dan menjadi kenyataan. Tabik.