Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan hasil tunggal

Show sidebar
-13%Hot
Browse Wishlist
Close

Catastrophe 1965

Rp 150.000 Rp 130.000

Bagi Amien Kamil, tubuh adalah tanda. Demikian pula kiranya ia memperlakukan puisi. Sajak-sajak dalam buku ini, lahir sebagai akibat dari kesibukan-kesibukan tubuh dalam merancang tanda-tanda. Bukan dari upaya-upaya pikiran membuat sangkar bagi makna. Lalu, tanda-tanda itu makin membiak manakala puisi bertajuk ‘Sehabis Hujan Reda’ misalnya, dilisankannya dalam formula yang ia namai Music Poetry. Sedemikian banyaknya tanda-tanda yang bergentayangan, maka tak mungkin dibedakan lagi, mana yang berasal dari tubuh, mana yang brojol dari suara dan mana yang membersit dari bahasa …
-Damhuri Muhamad
Esais dan kolumnis
Pengajar Filsafat Universitas Darma Persada, Jakarta.

Spirit dan eksplorasi yang tak pernah padam aku rasakan pada puisi-puisi Amien Kamil dalam antologi ini. Seperti bara api; dalam dan sepi! Dalam sebuah puisinya ia menulis dengan puitik “Bagaimana mungkin angsa mengerti kapan harus terbang kembali ke matahari? Siapa beri tahu mereka lapisan musim demi musim?” Amien, angsa-angsamu selalu tahu akan terbang kemana. Karena disana ada persahabatan. Melalui kata Amien Kamil senantiasa ingin terbang dan terbang menjelajah ke bagian-bagian yang penuh kedalaman nan indah. Buku Puisi dan karya Senirupa mu selalu berbeda dari yang pernah hadir di perpustakaan hidupku. Nakal. Curam. Indah dan … Sepi. Tapi ada kenangan yang dalam untuk kita di abad 21 ini, untuk bisa melihat ke belakang sejenak dan tidak lupa akan diri kita saat ini.
-Restu Imansari Kusumaningrum
Artistic Director Bali Purnati Indonesia

Xpresi pemberontakan dari seorang Amien Kamil yang mencoba untuk menggali kesamaran Sejarah.
-Bimbim Slank
Musisi

Amien Kamil adalah kawan baik yang selalu hadir dalam karya dan rupa nya. Antologi puisi “Catastrophe 1965, Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer” ini bagi saya, begitu mendalam dan terasa ia hadir di dalam setiap rasa puisi yang ingin disampaikannya. Beringas, namun teduh dan terasa spiritual. Terus berkarya, Sobat! Jangan berhenti bersuara dan hadir dalam karya. Oh ya, yang paling saya suka dalam antologi ini adalah puisi yang berjudul “Surat Tanpa Tanggal & Alamat”
-Happy Salma
Aktris Film & Teater
Produser Seni di Titi Mangsa Production

Amien Kamil menulis puisi dengan gairah kesadarannya akan sejarah.
Ia pun melesat dengan kata kata yang polos dan jujur untuk menghidupkan waktu.
-Tommy F Awuy
Kurator Senirupa, Dosen Filsafat
Universitas Indonesia & Institut Kesenian Jakarta

Puisi Amien Kamil – juga musik puisi – adalah memoar perjalanan sepi, kelam, absurd. Dari 58 puisi yang terserta dalam kitab ini, kita merasakan dentum teriakan protes, namun suara-suara itu parau dalam kesunyian anonimus-anonimus sejarah yang dihelatnya. Puisi “Pao, Last Song For Refugee” dan “Catastrophe 1965, Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer”, 2 puisi yang sangat saya suka – memperlihatkan sebarisan imigran menuju tanah harapan yang tak pernah dijanjikan negara bangsa yang lahir di abad 20. Mereka sebarisan manusia yang terseok-seok mencauk nasib sejarahnya yang jelaga. Amien Kamil berada dalam barisan orang-orang yang tertolak itu ; yang suaranya gemetar berhadapan dengan dunia yang berlari tiada tiada henti dan terus menerus berpesta. Suara puisi Amien Kamil adalah gremengan manusia terlantar dan sia-sia. Anonimus yang nasibnya blur dalam statistik milik Badan Pusat Statistik (BPS).

Muhidin M Dahlan
Sejarawan, Novelis, Kerani di I:BOEKOE