Beranda ยป Toko Buku Online

Tampilkan 4 hasil

Show sidebar
-6%Hot
Close

Perlawanan, Pemberontakan, Kematian

Rp 85.000 Rp 80.000

“Seorang penulis, saat ini tidak dapat meiayani orang-orang yang membuat sejarah; ia harus melayani orang-orang yang menjadi sasaran sejarah itu.”

– Albert Camus, dalam sambutan pada acara penerimaan

Hadiah Nobel bidang sastra tahun 1957 — Perlawanan, Pemberontakan, Kematian membeberkan permasalahan intelegensi moral Camus dari perang kolonial di Aljazair hingga permasalahan sosial yang akut akibat sistem kapitalistik yang menindas. Meskipun demikian, dua puluh tiga esai politik ini lebih merupakan hasil refleksi atas
masalah kebebasan.

Buku ini menjadi saksi akan kecermatan rasa pertanggungjawaban Camus yang membuatnya menjadi manusia dan penulis yang baik.
– Christian Science Monitor

Close

Orang Aneh

Rp 45.000

Bayangkan, Anda yang sebenarnyanya tidak bersalah dalam sebuah kasus tiba-tiba dijatuhi vonis hukuman mati oleh pengadilan. Sisa hidup Anda terhenti di kamar penjara yang pengap, menanti hari penentuan ajal. Tak ada cinta, tak ada senyum kekasih. Mungkin saat itu Anda akan mengutuk dunia atau menuntut keadilan Tuhan. Tapi tidak demikian dengan Mersault, tokoh utama dalam novel ini. Baginya, orang yang dijatuhi hukuman mati lebih bebas daripada mereka yang melakukan bunuh diri, karena mereka telah menanggalkan kehidupannya sendiri.

Orang Aneh adalah novel terbaik Albert Camus yang memantulkan keterasingan dan absurditas manusia. Lewat karakter Mersault, Camus mencitrakan dirinya: citra absurditas dan paham eksistensialisme!

-6%
Close

Caligula – Albert Camus

Rp 80.000 Rp 75.000

“Aku telah membuktikan bahwa siapa pun, tanpa berlatih sebelumnya, jika dia menggunakan pikirannya, dapat memainkan perannya yang absurd menuju kesempurnaan.”

Tiga drama yang terkumpul dalam buku ini ditulis antara tahun 1938 sampai 1950. Yang pertama, Caligula, ditulis tahun 1938 setelah membaca Twelve Caesar karya Suetonius. Drama ini saya tulis untuk kelompok teater kecil yang saya dirikan di Aljazair, dan saya sendiri yang ingin memerankan tokoh Caligula. Aktor yang belum berpengalaman memang sering suka tampil seperti itu. Di samping itu, saya waktu itu baru berumur dua puluh lima tahun, usia ketika seseorang meragukan segala sesuatu kecuali dirinya sendiri. Perang memaksa saya untuk rendah hati, dan Caligula pertama kali dipentaskan pada 1945 di Theatre Hebertot di Paris.

Sold out
Close