Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan 10 hasil

Show sidebar
-10%Sold out
Close

Eros dan Peradaban – Pojok Cerpen

Rp 85.000 Rp 76.500

Eros dan Peradaban adalah salah satu karya utama Herbert Marcuse, atau bahkan dalam pandangan dia sendiri: yang paling utama. Di dalamnya dia berbicara sebagai intelektual yang menggabungkan dua pemikiran besar, Marxisme dan Psikoanalisis. Judulnya sendiri terhubung pada salah satu karya terbesar Freud, Peradaban dan Kekecewaan-kekecewaannya.

Marcuse menutup karya ini dengan epilog yang menghantam para revisionis Psikoanalisis. Epilog itu dibalas tak lama kemudian oleh Erich Fromm melalui tulisannya di majalah intelektual sayap kiri Dissent. Terlepas dari adanya kritik yang mengatakan bahwa dalam satu dua poin. Marcuse keliru, satu fakta yang tak terbantahkan adalah ini: Eros dan Peradaban adalah karya yang enak dibaca dan perlu.

-10%Sold out
Close

Ulama Bercanda, Santri Tertawa – Pojok Cerpen

Rp 55.000 Rp 49.500

Ulama Bercanda, Santri Tertawa, Hamzah Sahal

Humor Pesantren, dari Kiai Wahab hingga Gus Dur

Humor, di kalangan pesantren dan NU, bukan saja menjadi alat penyegar suasana dan pemecah keseriusan, tapi juga menjadi ‘dalil’ atau argumentasi untuk mematahkan dalil-dalil kawan atau lawan bicara. Oleh karena menjadi dalil, dalam memainkan humor mereka serius, bukan cuma iseng.

Di NU dan pesantren, humor telah menjadi ‘tanda’, sebagaimana sarung atau kopyah. Bahkan ada yang berseloroh begini, humor itu menyempurnakan ke-NU-an dan kesantrian seseorang, persis seperti salat sunah rawatib yang menyempurnakan sembayang wajib. Subhanallah!

Almarhum Gus Dur sering dianggap jago pelontar humor, bahkan dinilai kiai pertama yang mengenalkan humor ala NU dan pesantren ke dunia luar. Bukan. Gus Dur bukan kiai pertama yang memperkenalkan humor ke dunia luar, meski memang sepertinya sampai hari ini, kiai yang bernama asli Abdurrahman Ad-Dakhil ini kualitas humornya kelas wahid, tidak ada bandingnya.

Lalu siapa orang pertama yang mengenalkan humor pesantren atau NU ke dunia luar? Saya tidak tahu. Susah menjawab pertanyaan ini, dan mungkin tidak penting juga untuk dijawab.

-10%Sold out
Close

Tentang Menulis – Pojok Cerpen

Rp 45.000 Rp 40.500

Deskripsi Tentang Menulis, Bernard Batubara
Tentang Menulis memuat sebelas tulisan non fiksi Bernard Batubara. Sebagai buku non fiksi perdana, ia membeberkan detail tentang apa dan bagaimana ia menulis. Proses kreatif yang terangkum atas empat belas judul buku yang pernah terbit.

Dalam salah satu tulisannya, Bernard mengatakan:

“Saya ingin jadi penulis. Namun, pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan ke diri sendiri adalah: ingin menjadi penulis seperti apakah saya?”

-10%Sold out
Close

Saya, Jawa dan Islam – Pojok Cerpen

Rp 79.000 Rp 71.100

Saya Jawa dan Islam, Irfan Afifi

Jika boleh mengingat, pertemuan saya dengan Islam dan Jawa mungkin sejenis pertemuan dengan diri yang mengetarkan. Hingga hari ini, saya masih merasakan getaran itu.

***

Di masa itu saya benar-benar terbenam dalam penghayatan/ Saya mulai menyadari saya harus mulai mengenali diri saya sendiri (baca: man arofa..). Mengenali saya ini siapa, dari mana dan hendak ke mana. Saya menemui faktisitas diri: saya orang jawa yang beragama Islam itu harus rela menerima kemestian bahwa saya “terpaksa” lahir di sebuah dusun di Jawa, yang dengan seluruh perangkat tradisi, budaya, dan praktik keseharian yang membentuk diri, berusaha memandang dan memberi makna hidup, bahkan terhadap ajaran agamanya. Pencarian itu berujung: saya Jawa, saya Islam! Sejak itu, saya seperti baru memulai sebuah perjalanan.

-10%Sold out
Close

Musyawarah Burung – Pojok Cerpen

Rp 100.000 Rp 90.000

Musyawarah Burung (Edisi Tanda Baca), Fariduddin Attar
Sajak-sajak ini berkisah tentang keinginan sekelompok burung untuk mengenal Simurg yang agung, dan yang, dengan bimbingan seekor burung pemimpin, memulai perjalanan mereka menuju Simurg. Seekor demi seekor, mereka berhenti melanjutkan perjalanan itu karena tak lagi kuat memikul lelah, dan masing-masing dari mereka mengungkapkan dalihnya. Setiap Burung memiliki makna dan kesalahan tersendiri, yang bisa menjadi pelajaran bagi pembaca. Burung yang menjadi pemimpin adalah burud Hudhud, sementara burung Bulbul melambangkan pecinta. Burung Bayan mencari sungai keabadian alih-alih Tuhan, dan burung Merak melambangkan “jiwa yang jatuh”, yang bersekutu dengan Setan.

-10%Sold out
Close

Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa – Pojok Cerpen

Rp 50.000 Rp 45.000

Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa, J.V. Stalin

Marxisme dan Problematika Ilmu Bahasa adalah kumpulan pamflet dari Joseph Stalin, yang saat itu dikenal sebagai pemimpin pemerintah sekaligus pemimpin Partai Komunis Uni Soviet. Dalam buku ini juga terdapat tulisan-tulisannya yang ditulis untuk Koran Pravda di tahun 1950. Sebuah surat kabar resmi Partai Komunis Uni Soviet, dan merupakan surat kabar paling berpengaruh saat itu. Dengan berpusat pada pertanyaan-pertanyaan terkait bahasa, Stalin menyerang dogma “Marxis” yang dianggap basi dan menunjukkan bahwa Partai Komunis Uni Soviet telah merevisi Marx dan Engels dibeberapa bagiannya. Sekaligus secara diam-diam merevisi Marxisme pada titik yang paling fundamental.

Dalam konteks ilmu bahasa, teori Marx merupakan wujud penerapan teori Marxis tentang perjuangan kelas secara vulgar ke dalam ilmu bahasa. Marx berpendapat bahwa bahasa, dalam kerangka materialisme historis Marxian merupakan bagian dari suprastruktur yang merupakan cerminan dari kondisi basis. Artinya, bahasa memiliki karakter kelas. Implikasi politis dari hipotesis Marr tersebut adalah bahwa ketika revolusi terjadi dan moda produksi kapitalis digantikan oleh moda produksi sosialis, maka harus juga dilakukan revolusi terhadap bahasa —karena bahasa merupakan bagian dari suprastruktur. Teori Marx sempat menjadi doktrin utama ilmu bahasa Uni Soviet hingga terbitnya Marxisme dan Problem 11mu Bahasa pada tahun 1950.

-10%Sold out
Close

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson Tentang Bahasa dan Kuasa – Pojok Cerpen

Rp 75.000 Rp 67.500

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang Bahasa dan Kuasa, Joss Wibisono

Buku ini berkisar tentang pemikiran Benedict Anderson perihal bahasa. Dan itu bukan hanya bahasa Indonesia, melainkan pula bahasa secara umum, terutama peran bahasa dalam kebangkitan nasionalisme, baik itu di Eropa maupun di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina. Di sinilah muncul gagasan untuk menulis satu bab khusus tentang bagaimana persisnya dasar-dasar pemikiran Anderson tentang bahasa. Maka lahirlah bab berjudul “Bahasa bagi Benedict Anderson”, yang diharapkan bisa memberi arah pada tiga bab berikut yang mengembangkan lebih lanjut gagasan Anderson ini.

-10%Sold out
Close

Esai Tentang Pembebasan – Pojok Cerpen

Rp 60.000 Rp 54.000

Esai Tentang Pembebasan, Herbert Marcuse

Dalam masyarakat makmur, kapitalisme datang dengan sendirinya. Dua dorongan utama dinamikanya-eskalasi produksi komoditas dan eksplotasi yang produktif-menyertai dan menyerap ke dalam semua dimensi ruang publik dan privat. Sumber daya material dan intelektual yang tersedia (potensi pembebasan) telah berkembang jauh melebihi Penguasa yang ada, sehingga hanyalah peningkatan sistematis dalam pembuangan, penghancuran, dan pengaturan yang mampu menjaga sistem tetap berjalan.

-10%Sold out
Close

Ego dan ID – Pojok Cerpen

Rp 65.000 Rp 58.500

Ego dan Id, Sigmund Freud
Pada tahun 1923, dalam buku ini, Freud menyusun implikasi-implikasi penting dari teori struktural pikiran yang pertama kali dia ketengahkan tiga tahun sebelumnya dalam Beyond the Pleasure Principle. The Ego and The Id memiliki kedudukan penting dalam karya Freud setelahnya. Buku ini menyoroti Ego sebagai bagian esensial dari manusia dan bagaimana ia dipengaruhi oleh Id, Super-ego, dan dunia luar.

Sold out
Close

Tentang Menulis

Rp 50.000

Buku ini memuat sebelas tulisan non fiksi Bernard Batubara.

Sebagai buku non fiksi perdana, ia membeberkan detail tentang apa dan bagaimana ia menulis. Proses kreatif yang terangkum atas empat belas judul buku yang pernah terbit.

Dalam salah satu tulisannya, Bernard mengatakan

“Saya ingin jadi penulis. Namun, pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan ke diri sendiri adalah: ingin menjadi penulis seperti apakah saya?”