Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan 4 hasil

Show sidebar

Active filters

Close

Malas Itu Perlu

Rp 75.000

Buku ini berisi kiat hidup bahagia dalam kondisi apa pun, terutama tentang bagaimana bisa tetap bahagia di lingkungan yang negatif atau tidak sesuai dengan keinginan kita.

Dodaeche mengemukakan kiatnya berdasarkan tema-tema yang sangat biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tentang perjalanan dari rumah ke kantor, bagaimana menghadapi rekan kerja, mengatasi rasa malas, dan sebagainya.

Tema-tema tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk komik dengan ilustrasi menarik dan kata-kata yang sederhana, lucu, namun sangat bermakna.

Pembaca akan dibuat tertawa dengan cerita-cerita dan gaya penulisan Dodaeche, dan pada akhirnya, mungkin akan mampu melihat bahwa masalah yang ada dalam kehidupan manusia sebenarnya tidak perlu dijadikan beban pikiran yang berat. Semua masalah dalam hidup (seberat apa pun) bisa disikapi atau diselesaikan dengan santai, sehingga kita pun akan selalu bahagia dalam keadaan apa pun.

Bagian 1 mengulas rutinitas sehari-hari dan berbagai masalahnya, terutama di tempat kerja. Mulai dari bangun pagi, menghadapi rekan kerja yang memiliki kegemarannya sendiri-sendiri, mendengar hal-hal menarik yang membuat kita pun ingin mendapatkan hal yang sama, melakukan kebodohan/kesalahan dalam pekerjaan, dsb. Ditutup dengan poin penting tentang jika ada orang yang tidak menyukai kita.

Bagian 2 mengulas bagaimana mengatasi rasa malas dan berbagai masalah lain dalam hidup, dan mengelola pekerjaan dan kehidupan dengan lebih baik dan teratur, namun tetap santai, dan tetap memiliki keyakinan bahwa setiap kehidupan tentunya memiliki kekhasan, tugas, dan ceritanya masing-masing yang menarik.

Bagian 3 mengulas hal-hal yang terjadi di luar keinginan kita. Dalam kehidupan, mungkin kita banyak mengalami hal yang tidak kita inginkan atau mengecewakan. Namun menurut penulis, semua itu jangan membuat kita menyerah terhadap keadaan. Kehidupan tonggeret bisa menjadi contoh yang baik bagi manusia dalam menjalani hidupnya dengan senang hati, apa pun keadaannya.

Bagian 4 memberi pelajaran kepada kita bahwa masalah bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan terlalu dalam. Kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, terpaksa melepaskan mimpi, dan sebagainya sebaiknya diterima saja dengan lapang dada, karena hidup adalah hidup. Ada hal-hal yang tidak perlu dicari jawabannya, Tugas kita hanyalah menjalaninya saja apa adanya.

Bagian 5 mengulas hal-hal membahagiakan yang harus dilakukan ketika kita merasa kosong dan sedih. Hal-hal tersebut bisa apa saja, termasuk berandai-andai menjadi orang kaya dan membeli gedung dengan papan reklame yang berisi tulisan tak berguna. Kita harus belajar untuk bisa bahagia dan tertawa.

Bagian 6 mengulas bagaimana bertahan hidup dan belajar tertawa bahagia di situasi yang tidak menyenangkan, Jangan pernah menyerah apa pun yang terjadi, dan harus terus berjalan mencapai tujuan dan terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Sold out
Close

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Rp 70.000

“Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap.”
―Milea

“Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama.”
―Dilan

Sold out
Close

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Rp 60.000

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea 1990)

-3%Sold out
Close

Tiada Ojek di Paris: Obrolan Urban

(1 ulasan pelanggan)
Rp 56.500 Rp 55.000

Pernah membayangkan nggak, ada ojek ngetem di Menara Eiffel? Senandung seruling di tengah-tengah deru dan debu metropolitan? Begitulah Jakarta, di tengah-tengah pencakar langit dan kawasan elit Sudirman, terselip deretan tukang ojek yang setia mengantarkan Anda dengan jaminan layanan yang lebih cepat dan tepat dibandingkan mobil yang harus berjuang melintasi kemacetan. Hanya di Jakarta-lah kita bisa menemui eksekutif muda berdasi naik ojek karena takut telat meeting di gedung perkantoran pencakar langit.

Tiada Ojek di Paris, kumpulan esai-esai bernas Seno Gumira Ajidarma tentang masyarakat urban dan kota metropolitan. Tingkah polah manusia yang berubah seiring berubahnya persepsi tentang dimensi ruang dan waktu mereka akibat tuntutan kehidupan perkotaan yang serbacepat dan tak memberikan waktu untuk berhenti sejenak. Tentang orang-orang modern yang tertipu dan terkungkung oleh “kemodernannya”. Tiada Ojek di Paris akan membuat Anda mengernyit, tertawa dan akhirnya menanyakan makna menjadi manusia urban dan manusia modern.