Beranda » Toko Buku Online

Tampilkan 11 hasil

Show sidebar

Active filters

-5%
Close

Pengakuan Pejuang Khilafah – Ed Husain

Rp 70.000 Rp 66.500

Buku ini ditulis dalam rangka refleksi diri sekaligus bahan tawaran dari pertimbangan mendasar atas alasan-alasan kenapa ia keluar dari organisasi yang didalamnya mengkordinir kelompok ekstrimis-radikal Islam yang selama ini ia yakini dan percayai sebelum kemudian insyaf dan taubat dari pembodohan yang dipraktikan. Karena itu, bagi Ed Husain, buku ini adalah sebuah tugas untuk “mengutarakan kebenaran, bahkan andai kata hal itu harus menentang kaum (nya) sendiri”.
Masa kecil dan lingkungan keluarga Ed Husain dalam berislam sangatlah terbuka, moderat dan memahami agama Islam sebagai kultur yang kental akan tradisi sufi, seperti pembacaan maulid Nabi, majlis dzikir, semaan al-Qur’an, dan kegiatan-kegiatan tarekat lainnya. Hal ini disebabkan ayah dan kakek Ed Husain merupakan salah satu pengikut tarekat dan secara rutin menggelar kegiatan-kegiatan tarekat di rumahnya.
Keterlibatan Ed Husain dengan organisasi Islam bersama Hizbut Tahrir dimulai ketika ia dekat dengan seorang teman lalu mulai aktif dalam kegiatan masjid dan kampus, hingga pada puncaknya, ia menempel kutipan Hasan al Banna di dinding kamarnya “Allah adalah Tuhan kami, Muhammad adalah pemimpin kami, al-Qur’an adalah konstitusi kami, jihad adalah jalan kami, Syahid adalah keinginan kami.”
Kutipan tersebut dibaca oleh ayahnya sambil bercucuran air mata seraya menjelaskan “Anakku, Nabi Muhammad bukanlah pemimpin kita, dia adalah guru junjungan kita, sumber santapan ruhani kita… al-Qur’an bukanlah dokumen politik. Islam bukan pula sebuah konstitusi, melainkan sumber kedamaian bagi hati yang beriman…” Ayahnya telah merasa kehilangan anaknya sendiri.

-5%
Close

Kelisanan dan Keaksaraan – Walter J. Ong

Rp 85.000 Rp 80.750

Lisan dan Tulisan bukan semata soal media, sarana, yang dipakai untuk berkomunikasi, lalu yang satu menggeser dan menggantikan yang lain. Benar bahwa memandangnya semata sebagai sarana, tampak apa yang disebut tulisan demikian Berjaya. Tetapi menengoknya dengan lebih mendalam, akan terlihat bahwa kelisanan dan keberaksaraan adalah fenomena yang rumit, kompleks dan tindih menindih, serta silang menyilang.

Walter J. Ong menyajikan kepada kita topik yang jarang disentuh ini melalui pendekatan historisnya yang jauh dan luas. Ia menunjukkan bagaimana sistem tulisan yang kemudian diiringi teknologi cetak memang mengurangi dan menurunkan tradisi kelisanan. Namun semua itu tak memerosotkan pengaruh kelisanan sebagai suatu mentalitas. Dalam tradisi tulis membayang terus cara berpikir lisan. Kelisanan hadir seperti teror terhadap pemikiran yang sedemikian rupa ditata dan dirapikan dalam teknologi tulisan.

-5%
Close

Namaku Asher Lev – Chaim Potok

Rp 79.000 Rp 75.050

Dari judul buku sudah terjelaskan gambaran sudut pandang tokoh Aku bernama Asher Lev, sudut pandang yang cukup meyakinkan untuk mengungkapkan konflik-konflik batin dari seorang tokoh fiktif. Di buku ini, Asher Lev dibangun Potok dengan konflik batin sebagai akibat dari jalan pemikiran yang berseberangan dengan relijiusitas yang dianut keluarganya. Keluarga Yahudi nan taat.

Novel ini menarik, berbicara tentang kebimbangan, pergumulan batin seorang pelukis bernama Asher Lev yang musti berkawan dengan ketegangan, pergesekan antara individualitasnya sebagai seorang pelukis dengan relijiusitas yang sudah bersemayam lama di dalam rohaninya.

Tokoh Asher Lev adalah seorang pelukis. Novel ini juga menceritakan perjumpaan-perjumpaan Asher Lev dengan perupa dan karya-karya Van Gogh, Picasso, Matisse dll. Lewat para tokohnya cukup banyak Potok menyajikan perihal teknis melukis dan sebagainya.

-5%Sold out
Close

Awan Theklek Mbengi Lemek – Hersri Setiawan

Rp 20.000 Rp 19.000

Hersri dalam buku ini menunjukan selain potret pengalaman memilukan “pulau buru” dalam “satu wajah dua haribaan”, ia juga menjelaskan minatnya yang mendalam terhadap bahasa, gender, sejarah dan antropologi etnis atau etnologi.Tulisannya “Perempuan alas kaki”, menyoroti fakta mengejutkan dalam etimologi. Menurut Hersri, kata “cewek” berakar dari kata sunda “awewe”, yang berarti “perempuan”. Kata dalam bahasa “ngewe” dalam bahasa jawa “madon” atau bermain perempuan. Kata “cewek” ini, dengan pasangan “cowok”, berdasarkan telaah Hersri, dipopulerkan oleh surat kabar Berita Yudha pada pertengahan 1960-an.
.
Dia juga menjelaskan kehadiran kata “wanita” dalam kosakata bahasa kita, yang dijiplak dari tafsir paksa (“jarwa-dhosok”) panggung ketoprak atas kata itu : “wanita ditata”, sanggup untuk diatur laki-laki, Hal itu menggambarkan posisi perempuan menurut selera maskulinitas. Disana menjadi alat permainan seksual, dan di sini menjadi siap untuk ditata laki-laki, siang sebagai theklek atau alas telapak-kaki, dan malam hari sebagai lemek atau alas tidur.

-5%
Close

Wajah Terlarang

Rp 60.000 Rp 57.000

Wajah Terlarang (Latifa), ditulis dari sudut pandang korban dan menceritakan tentang seorang gadis yg hidup di bawah rezim Taliban.

-5%Sold out
Close

Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942)

Rp 90.000 Rp 85.500

Karya Steenbrink merupakan kajian yang cukup komprehensif mengenai mispresepsi, prasangka, dan antipati Belanda terhadap islam. Aspek yang digunakannya adalah aspek hubungan antaragama dengan mengkajian presepsi mereka tentang Islam dan kaum Muslim. Kekurangannya tidak mengulas banyak tentang sejauh mana “perkawanan” diantara kedua kelompok keagamaan ini terjadi sepanjang sejarah karena penting untuk meningkatkan hubungan antar agama khususnya Kristen-Islam.

Karya ini mengulas banyak mengenai Islam dan hubungannya dengan Kristen. Kolonialisasi memberikan pengaruh Kristen yang hingga sekarang masih eksis di Indonesia. Buku ini berisi kumpulan laporan orang Barat mengenai pengalamannya langsung, yang membicarakan Muslim dan masyarakat pribumi Nusantara. Dalam kumpulan karya di dalamnya mengandung unsur yang menjelek-jelekkan Islam sebagai agama yang aneh dan menyesatkan. Namun Karel Steenbrink tidak menerima dengan mentah, adakalanya ia mengkritisi bahwa karya itu telah dibumbui karena kebenciannya terhadap Islam.

-5%Sold out
Close

Adam & Wawan? Ketegangan antara Iman dan Homoseksualitas

Rp 79.000 Rp 75.000

Ketegangan antara iman (agama) dan seksualitas selalu menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai ketika pendekatan yang digunakan dengan cara pandang agama (saja). Buku ini mencoba untuk memberikan penjelasan yang lebih ilmiah sekaligus menjembatani pemahaman antara homoseksualitas yang tidak melulu tentang kecenderungan seks, akan tetapi terdapat juga benang merah antara seksualitas dan agama.

-5%
Close

Identitas Hibrid Orang Cina

Rp 50.000 Rp 47.500

Buku ini mengajak kita untuk menginterogasi cara kita memahami apa yang kita sebut identitas. Tanpa interogasi-diri, kita mungkin mudah menjadi konsumen retorika-retorika baru yang sarat pesona, misalnya multikulturalisme, tapi isi kepala kita tentang mereka yang kita anggap si-Liyan (the Other), mungkin tak pernah berubah. Budiawan, Sejarawan Staff Pengajar pada FIB UGM).

Buku ini mengisi kekosongan yang sangat penting dalam kajian mengenai komunitas Cina. Dengan memanfaatkan konsep hibriditas identitas yang kerap diacu para penggiat cultural studies, penulis berhasil menangkap heterogenitas dan saling sengkarut identitas komunitas Cina peranakan Kristen. (Trisno S. Sutanto, Koordinator Penelitian Biro Litkom-PGI, Jakarta.)

Penulis menunjukkan adanya identitas hibrid (multiple identities): seseorang bisa menjadi orang Tionghoa, sekaligus orang Indonesia, serta di saat yang sama ia juga seorang Kristen. Seperti halnya kelompok lain, identitas orang Tionghoa adalah cair, dinamis dan heterogen. (Didi Kwartanada, Sejarawan Yayasan Nabil (Jakarta)

Buku ini akan menjadi pandu bagi semua orang Cina di Indonesia dan, terutama, bagi Indonesia untuk bersiap menyambutnya. Lalu semua suku dan semua agama di negeri ini berdiri dengan tangan kanan yang terkepal di dada sembari berkata lantang: Indonesialah poros bagi segala yang ada. (Muna Panggabean, Novelis).

Dengan bahasa yang jelas dan agumentasi cerdas serta menantang, buku ini menegaskan bahwa identitas merupakan routes, bukan root. Darwin mengajak kita melihat proses identifikasi diri menjadi sekaligus Cina Indonesia Kristen. (Albertus Patty, Pendeta GKI, aktivis Pluralisme).

-5%Sold out
Close

Kudeta 1 Oktober 1965

Rp 80.000 Rp 76.000

Sejarah resmi menitahkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang peristiwa penculikan dan pembunuhan 7 jenderal pada subuh buta 30 September 1965. Bernaung di bawah nama Dewan Jenderal, partai ini melakukan upaya untuk menjatuhkan dan sekaligus merebut pemerintahan. Para Perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI), terutama dari sayap Angkatan Darat (AD), yang berseberangan dengan PKI disingkirkan untuk memuluskan langkah ini.

Setelah peristiwa itu, PKI dilarang. Para pemimpinnya, di semua tingkatan, diburu, disiksa, dibunuh, dan ditahan bertahun-tahun tanpa pengadilan. PKI segera menjadi banyak hal. Menjadi hantu. Menjadi lambang kebejatan moral. Menjadi masa silam. Dan terutama menjadi segala hal yang buruk, sumpah serapah, dan kekeraskepalaan. Citra ini kuat melekat, lebih-lebih pada warga Indonesia yang diasuh oleh pendidikan sejarah Orde Baru, dan terus meninggalkan jejaknya hingga kini. Dengan narasi demikian, tidak ada orang yang tak berakal sehat pun yang tak membenci PKI. Sejarah resmi yang ditulis belakangan menebalkan saja persepsi dan citra ini. Peristiwa ini telah menjadi suatu perspektif untuk memandang Indonesia masa lalu dan di masa mendatang.

-5%Sold out
Close

Seribu Bangau

(1 ulasan pelanggan)
Rp 48.000 Rp 45.600

Waktu dan sejarah barangkali merupakan salah seorang juri yang adil untuk menilai bermutu tidaknya sebuah karya sastra. Jika sebuah novel, cerpen atau puisi, yang telah bertahun-tahun silam ditulis, masih saja memesona dan memikat, serta masih saja menggugah untuk dibaca, bisa dikatakan bahwa karya tersebut hebat dan bermutu. Inilah yang disebut sebagai klasik: sebuah istilah yang menunjuk pada kebertahanan bahkan mungkin keabadian daya pikat sebuah karya melintasi zaman dan melampaui beberapa generasi pembacanya.

Yasunari Kawabata (1899-1972), pengarang Jepang, yang meraih penghargaan Nobel tahun 1968, bisa dikatakan sebagai salah seorang pengarang dengan novel- novelnya yang bernilai klasik. Hal itu ditunjukkan bahwa hingga sekarang, karya-karyanya masih saja dibaca secara luas, baik di Jepang maupun di luar Jepang. Karir Kawabata terentang sejak tahun 1920an, diselai Perang Dunia II, hingga tahun 196oan. Karya-karyanya terkenal liris, halus, dan sarkartis, menyentuh ruang-ruang dan celah-celah kehidupan antarmanusia yang tidak mungkin dipikirkan dan dibicarakan, tapi nyata adanya.