Cerpen

NAE

Kami kembar tiga. Aku berbeda dari kedua kembaranku. Mereka berwarna putih hitam, sementara aku cokelat hitam putih. Aku kadang berpikir kalau sebenarnya kami tidak kembar, tapi Ibu bilang kami lahir bersamaan.

Kenapa aku berbeda dari mereka? Entahlah, Ibu tidak pernah menjelaskannya pada kami.

Ibu kami baik. Dia sering menunggui kami makan dengan sabar, meski kadang kedua kembaranku yang serakah menghabiskan tanpa sisa untuk Ibu. Aku tidak seperti itu, aku tidak rakus. Aku makan untuk kenyang, hanya itu. Lagi pula Tuan akan memberi makanan lagi, tiga kali dalam sehari tidak lupa dengan susu juga.

Si sulung betina, sepertiku. Tapi dia sering dekat-dekat Tuan dengan manja dan si bungsu jantan pun begitu. Mereka suka mencari muka. Tidak salah, Tuan pun menyukai tingkah mereka. Mereka suka berkejar-kejaran di hadapan Tuan dan membuat Tuan senang atau sekadar menggelindingkan bola yang Tuan tinggalkan.

Aku Nae. Tuan memanggilku begitu. Tuan tidak mendiskriminasikanku, tapi aku memang sudah berbeda sejak lahir. Aku senang menjadi berbeda daripada munafik seperti kembaranku.

Kami normal, masih suka berjemur di pagi hari daripada Tuan yang kadang malah masih tidur atau kembali tidur setelah meninggalkan makanan untuk kami.

Aku tidak suka disentuh, juga tidak menurut kalau dipanggil. Pokoknya aku berbeda dari mereka. Tubuhku cantik dan keliaranku menarik, aku suka diriku seperti ini.

Satu hari yang jahat, Ibu hamil lagi. Mungkin kali ini bukan dengan Ayah, entahlah. Ibu memang cantik. Mungkin sepeninggal Ayah yang berubah jahat, Ibu kesepian. Hari itu Ayah pergi dengan Bibi Kuning, setelah berkelahi dengan Ibu karena ingin mengambil kembaran bungsu kami saat masih kecil.

Hari ini, aku mengintip Ibu dan Paman Abu-abu yang asyik pacaran, sementara kedua kembaranku saling bergumul di kaki Tuan. Ibu kami hebat dalam banyak hal, termasuk mencari Tuan yang baik untuk kami. Tapi, ibu sedikit jalang dengan paman-paman. Ibu sering gonta ganti pacar, menambah kecurigaanku tentang ‘ketidakkembaranku dengan mereka’.

Hari demi hari, Ibu juga mulai jahat. Dia sering marah-marah kepada kami, mulai makan tanpa menghiraukan kami dan mulai malas apa saja. Kerjaannya cuma tidur dan berhias. Mungkin calon adik baru nanti juga betina. Tidak masalah, karena kami hanya saudari tiri. Meskipun aku berharap tidak pernah memiliki saudara.

Lalu kehadiran si adik baru membawa petaka. Tuan marah, gara-gara Adik tidak tahu sopan santun, kencing sembarangan. Bukan cuma satu, tapi ketiganya. Yang putih polos seperti Ibu, yang cokelat polos dan yang abu-abu seperti Paman hari itu.

Sekarang Ibu dan kembaranku sedang diomeli, sementara si bungsu kembaran kami malah dipeluk Tuan dengan sayang. Aku di sofa, mendengarkan tanpa peduli. Aku hanya menikmati yang terpampang di depan mataku.

Aku juga sering disalahkan. Padahal aku yang paling bersih dan malas bersandiwara di depan Tuan, tapi siapa peduli. Tuan baik, tidak pernah memukul kami dan selalu memberi makan tepat waktu. Si bungsu kadang masih suka ngambek karena kurang puas makan dan dia akan merongrong ke mana saja Tuan pergi, benar-benar tidak tahu malu.

Bencana!

Tuan berencana membuang kami semua. Si bungsu kembaranku tidak ada, entah dia pergi atau dia diculik, aku tidak peduli tapi Tuan peduli, sangat peduli.

“Hilang! Aku benci kalian! Kalian yang betina hanya bisa memperbanyak anak!” Tuan murka.

Kami diberi makan hingga kenyang, lalu ketika tidur, kami dibuang. Ketika sadar, aku tidak tahu kami di mana. Hanya ada lapangan luas yang baunya seperti makanan kesukaanku.

Adik kecilku menangis dalam pelukan Ibu, si sulung kembaranku bersedih hati, sementara Ibu hanya sedikit khawatir. Ibu pasti sudah punya rencana di kepalanya, dia bisa menggaet satu paman dan membawa kami ke rumah yang ditinggali paman tersebut. Ibu selalu bisa mengandalkan kemolekan tubuhnya yang bersih untuk memikat.

Ini kesempatan terbaik untukku.

Aku tidak. Aku tidak suka jadi peliharaan, makan diatur, tidur diatur bahkan kencing pun diatur. Aku suka seperti ini, aku sudah besar dan aku akan mencari kesenanganku sendiri. Tidak ada lagi Tuan dalam hidupku. Aku bebas! Ibu tidak mencegahku. Mungkin Ibu pun dulunya begitu.

Satu yang paling kusuka sebagai peninggalan dari Tuan adalah namaku:

NAE!

Rasanya nama ini sungguh cantik untukku, sangat cocok. Aku si belang tiga yang hidup semauku, seperti tiga huruf yang merajut satu kata menjadi sebuah nama.

Aku siap menemui kebebasan, aku siap menghadapi perbedaan dan aku siap menikmati hidupku.

“Kau cantik sekali, aku sangat menyukaimu, Nae!”

Aku terkenang Tuan mengatakan itu dulu, saat itu aku sedang disusui ibu.

“Namamu Nae! Kau spesial… Kau tau, kita yang berbeda adalah yang disebut spesial.” Suara Tuan tergiang, dan senyumnya pun masih bergelayut di pelupuk mataku.

Aku tidak akan lupa Tuan.
Aku Nae!
Aku berbeda.
Aku spesial.

Aku berjalan menjauh dari keluargaku. “Mungkin kita akan bertemu lagi. Di waktu dan tempat yang berbeda.”

Baiklah, Tuan. Aku akan tetap memakai nama ini.
Aku, Nae.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.