artikel

Mengistirahatkan Realitas Semu (Pre-Review Simulakra Sepakbola)

/1/

Saya tidak tahu persisnya, sejak kapan literasi sepakbola Bandung begitu pesat. Tiba-tiba saja di suatu sore, di bilangan Jl.Sulanjana -Bandung, saya menyaksikan para penulis sepakbola, muda usia, berbondong mendengarkan ceramah dari para pengemban dakwah penulisan sepakbola: Pange dan Zen. Duet ini barangkali seperti Duo Serigala: memiliki jamaah yg jumlahnya mungkin tidak main-main.

Saya mula-mula membaca tulisan Pange di beritasatu, citarasanya satire, menyindir, dan kerap diganjar dengan komen-komen emosional dari para fans yang merasa klub idolanya dihina-dinakan. Tapi pembacanya tetap banyak. Pange, jika saya tak keliru, punya posisi tersendiri dalam perkembangan penulisan sepakbola di Indonesia, terutama di era generasi pasca senjakala media cetak.

Sementara Zen–setelah nasib menyelundupkannya dari Jakarta ke Cijambe di bawah kaki gunung Manglayang yang banyak kuda, tak perlu waktu lama menjadi junjungan para penulis sepakbola muda Bandung. Ia yang–meminjam dari Muhidin, “gak bisa terikat, dan tak gampang ditundukkan oleh aturan-aturan organisasi”, sabar dan keras mengkader para penulis baru.

Ejawantah dari “gak bisa terikat” dan “tak gampang ditundukkan” ini konon adalah Panditfootball. Bukankan dengan membuat padepokan sendiri ia bisa membuat aturan mainnya sendiri?

Bagi para wisatawan domestik yang berasal dari Jakarta, Bandung di hari Minggu ketika Persib main, apalagi melawan Persija: barangkali horor! Namun untuk para peminat literasi yang rajin menyusuri gorong-gorong daring kiranya Bandung ini surga, terutama untuk penulisan sepakbola.

Laman-laman penyedia berita dan artikel Persib tak pernah kekurangan naskah. Simamaung misalnya, di rubrik “Arena Bobotoh” selalu ada saja tulisan-tulisan khas bobotoh yang berlanggam Sunda: pekat dengan humor namun sekaligus lada. Ada pula Mengbal, yang meskipun sudah lama “tertidur”, namun pernah menjadi rujukan para pelatih lawan untuk membaca strategi Persib. Dan yang “mengerikan” adalah Panditfootball tentu saja. Mereka setiap hari (barangkali) memproduksi tak kurang dari delapan artikel non berita!

Dari semua kantong-kantong itu, nama Zen celakanya tak bisa dilepaskan. Ia begitu populer, jurus-jurusnya dengan mudah ditemukan di para penulis sepakbola Bandung, namanya kerap disebut-sebut di obrolan-obrolan sepakbola. Terakhir, ketika kawan-kawan Komunitas Aleut mengadakan acara ngawangkong tentang “Literasi Sepakbola Bandung” di KedaiPreanger, para pembicara yang hadir juga selalu menyebut nama yang satu itu, yang kiranya sudah serupa hantu gentayangan.

Literasi sepakbola Bandung maju di satu sisi dengan melimpahnya para penulis muda, namun mandeg di sisi yang lain karena belum sepenuhnya terlepas dari nama penulis buku “Simulakra Sepakbola” ini. “Geus tong aing wae atuh, nu ngarora weh, aing mah geus apkir anjir, geus kudu pangsiun nulis mengbal mah,” begitu ujarnya sekali waktu.

Dengan lahirnya buku ini saya mencium aroma perpisahan itu. Barangkali ia akan gantung pena untuk tulisan-tulisan sepakbola, dan fokus mengkader pendekar-pendekar muda di padepokannya. Atau barangkali akan berlindung dari realitas semu sepakbola dengan rajin nongkrong lagi di tribun dan lapang-lapang sepakbola tradisional yang kini, di Bandung, keberadaannya semakin terdesak. [irf]

***
SUMBER: Mengistirahatkan Realitas Semu, Irvan Teguh

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.