Memilih Alat Bunuh Diri

Memilih antara tali tambang, racun serangga, atau pisau cukur tidak pernah sesulit memilih cara untuk hidup. Hujan turun dan semua alat itu berdenyut seperti jantung. Aku tak ingin merasakannya, tapi dadaku seperti celana dalam kesempitan; pengap, lembab, dan sesak.

Dug. Dug. Dug.

Tanganku bergetar keras dan degup jantung makin cepat.

Dug! Dug! Dug!

Suara hujan makin keras.

“Jon! Buka pintu!”

Ah, kukira. Sial! Dengan tergesa dan penuh kekesalan, kudorong barang-barang itu ke bawah tempat tidur dan melangkah menuju pintu sebelum orang itu menjebol pintu. Belum sempat daun pintu terbuka sempurna, Boy sudah menyeruak masuk.

“Malam minggu! Ayo, kita kemana?”

“Ah, kau! Kemana?”

“Kemana, ya?”

Ah!

***

Bunuh diri di malam minggu akan jadi kepala berita koran kuning, tapi hujan turun terlalu deras membuat Boy dan aku terjebak dalam kamar kos. Ia memang tidak mau kemana-mana, ia hanya takmau sendirian dan aku takmau bunuh diri di hadapannya. Sekarang ia malah tertidur. Ingin kujerat lehernya dengan kawat. Tapi, kubatalkan niat itu. Aku takrela dia bisa mati dengan enaknya lalu bebas dari semua beban hidup!

Tidur itu mati sementara, dan aku ingin tidur selamanya. Mungkin aku perlu mempertimbangkan valium sebagai alat bantu pilihan, semacam Marilyn Monroe dengan barbituratnya.

“Basi!” seru Boy sampai kukira sedang melindur, “harusnya kita sudah punya pacar. Jadi, malam minggu kita tidak merana begini-begini amat.”

Ia tiba-tiba bangun dari tidur ketika hujan sudah reda dan perlu kembali ke sekolah dasar untuk belajar tentang arti kata “merana” dari kamus. Seperti panda pemalas, ia duduk di sisi tempat tidur. Matanya masih setengah terbuka tapi mulutnya sudah bisa meracau, mungkin kata-kata takkeluar dari otak melainkan dari lubang pantatnya dan selama ini aku sudah berbicara dengan dubur (begitu pula mantan-mantan pacarnya yang dengan Boy mereka pernah berciuman bibir, kalau ia benar-benar pernah punya mantan pacar).

Ia selalu membeli bunga sebagai tanda cinta untuk pacar-pacarnya yang satu pun belum pernah kutemui. Biasanya, mawar atau lili. Mawar itu lambang cinta membara dan lili adalah simbol ketulusan, ujarnya. Namun, aku meragukan bahwa ia pernah benar-benar punya pacar. Bunga-bunga itu hanya dalih agar ia dibilang punya pacar oleh orang-orang dan terhindar dari label bujang lapuk taklaku-laku. Aku akan sangat tulus mengucapkan hal itu padanya dan satu truk bunga lili layak dikirimkan sebagai tanda.

Katanya, bunga lili bisa jadi alat bunuh diri. Serbuk sarinya beracun sehingga menciptakan sejenis ritual bunuh diri yang romantis. Kubayangkan nyawaku lepas merdeka dengan iringan Sonata No. 9 milik Beethoven seperti tidur dan tidak bangun lagi. Sayang, aku alergi serbuk sari bunga. Bukan kematian macam itu yang akan aku dapatkan melainkan mati kehabisan napas dalam sebuah serangan asma kronis yang akut. Walau sebentar lagi mati, otakku masih sehat untuk tahu kalau itu konyol.

“Ayo, kita membeli anggur murahan supaya mendapat pencerahan dari kakek-kakek cina berjanggut,” ajak Boy dengan muka berseri-seri.

“Mabuk?”

“Bukan mabuk, cuma sedikit perayaan atas hidup. Hidup adalah pesta yang harus dirayakan, kawan.”

Aku taktahu apa yang bisa dirayakan dari hidup macam ini. Tiga bulan lalu, aku dipecat dari kantor setelah melempar kertas ke muka bos-ku yang taktahu cara berterima kasih kecuali dengan gaji pas-pasan yang diberikan dari uang yang bukan miliknya juga. Saat kuceritakan hal itu pada pacarku, bukan dukungan yang kudapatkan melainkan ia membatalkan rencana pernikahan kami setelah aku menyampaikan niatku kepada ibu-bapaknya untuk segera menikahinya.

“Kau adalah tipe laki-laki pengundang masalah, macam kotoran kucing. Aku takmau pernikahan kita jadi bermasalah seperti Putri Diana yang akhirnya mati. Kau sedang mencoba membunuhku lewat tingkah lakumu.”

Dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apapun, meninggalkanku sendiri di meja pedagang pecel ayam yang tagihannya belum dibayar. Lalu aku mulai kekurangan uang dan terpaksa pindah dari kamar kos lama ke tempat lain karena aku tak sanggup lagi membayarnya. Kutendang pintu kos hingga jebol dan aku diusir setelah harus membayar biaya penggantian. Aku terdampar di kamar ini karena setelah membayar penggantian pintu baru, aku takmampu membayar kamar yang lebih baik.

Kamar ini kandang ayam yang dibangun dari potongan-potongan kayu dan papan sehingga tiap aku berjalan, lantai berbunyi dan aku merasa tinggal dalam gubuk reyot

Jadi, kutegaskan: apa yang perlu dirayakan?

***

Taman kota adalah adonan kue gagal, tempat segala jenis orang bercampur dalam sebuah ketidakcocokan permanen. Tiada hubungan yang terjadi kecuali kesinisan antar teman dan pembicaraan buruk tentang orang-orang tak dikenal. Mereka tertawa-tawa untuk membuat hidupku makin terasa merana. Akan kuajarkan pada Boy tentang makna “merana” yang tak tercatat di kamus besar.

“Buat apa kemari?” aku sudah terlalu muak pada perubahan rencana, “bukankah kita seharusnya mencari anggur murahan?”

“Santai, kawan,” wajahnya menggurat senyum menyebalkan, “hidup terlalu singkat untuk terlalu diikat rencana. Kita harus tahu cara bersenang-senang. Apa kau mau mati merana?”

Aku jadi curiga. Jangan-jangan, dia melihat alat-alat bunuh diri yang kusembunyikan di bawah tempat tidur lalu mencoba mengalihkan perhatianku.

Perhatiannya kini mengarah pada tiga gadis yang sedang berdiri di samping pot tanaman palem kecil. Mereka sedang bercakap-cakap, atau bergunjing tentang teman-teman yang mereka taksukai yang kelak jadi teman mengobrol untuk menggunjingkan kejelekan-kejelekan antara mereka sendiri.

“Hai, boleh kenalan?’

Boy menyapa mereka dengan muka yang rasanya hendak kutanam dalam pot palem dan gadis-gadis itu memandangnya nyaris tanpa menolehkan kepala. Namun, Boy memang paham bagaimana merayakan hidup dengan cara melancarkan rayuan busuk yang bisa membuat gadis-gadis itu benar-benar memandangnya. Mereka berbalik menatap Boy dengan cara begitu menggoda dan aku bersembunyi di balik punggung, ingin terbang dari situ untuk mencari anggur murahan.

“Kau tahu benar cara menyenangkan perempuan,” ujar salah satu gadis itu pada Boy sambil sedikit mengibaskan rambutnya.

“Ah, tidak juga. Aku hanya sedikit mempesona,” raut Boy jadi seratus kali perlu ditanam dalam pot, “kalian juga cantik sekali.”

“Pasti banyak perempuan yang berhasil kau gombali,” gadis lain berkata, pipinya kuduga jadi memerah.

“Ah, aku laki-laki setia.” balas Boy, “Sekarang bidadari di kahyangan tinggal empat, karena yang tiga sedang ada di sini.”

Tiga gadis itu terkikik manja. Ternyata tak perlu anggur murahan untuk mabuk, aku sekarang ingin lekas memuntahkan isi perut. Dunia ini kelewat dipenuhi basa-basi yang cuma akan berakhir di dua titik: perut dan di bawah perut. Tiga gadis ini tampak seperti gadis-gadis yang dengan mudah bisa ditiduri dan, mungkin, memang itu yang diinginkan Boy untuk memenuhi nafsu di bawah perutnya.

“Maukah kalian pergi bersama kami?” tanya Boy pada tiga gadis itu, “kita bisa menghabiskan malam minggu di kamar kos temanku ini.”

Apa? Aku terperanjat. Kamar kos itu akan terbakar cuma karena tiga perempuan itu datang dan mereka bertiga saling bertukar senyum. Entah apa yang ada dalam benak mereka.

Gadis yang tampak paling matang menjawab, “Boleh, tapi kalian juga harus mengajak pacar kami.”

Ia menunjuk dua lelaki di kejauhan yang sedang menunggu seorang tukang nasi goreng menyelesaikan pesanannya. Kami menengok, dan wajah Boy yang semula berseri langsung biru. Aku semakin membulatkan niat untuk bunuh diri, dan kurasa, menggantung diri di plafon kamar mandi adalah cara yang paling tepat.

“Dan, adik kami ini masih terlalu muda untuk bisa ditiduri,” ujar gadis kedua disambung anggukan gadis ketiga, “bagaimana?”

Boy diam. Aku memang tak punya niat berbicara dengan mereka sejak pertama.

“Kalau kalian tidak senang dengan rencana itu, mungkin kita bisa bertemu lain kali,” lanjut gadis pertama dengan senyum dan angguk kemenangan, “kami menyusul pacar kami dulu. Sampai jumpa.”

Boy mengangguk lemah dan berbalik dengan langkah cepat. Wajahnya lurus, keras, dan tak menunjukkan kekesalan sedikit juga.

Aku mendengar Boy berkata, “Ah, tidak perlu perempuan untuk bisa merayakan hidup. Aku punya banyak cara lain.”

Lalu ia tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. Ah, betapa beruntung bisa jadi Boy dan merananya jadi aku. Keberuntunganku malam ini hanya ketika tiga gadis itu menolak ajakan Boy.

***

Kupikir ia cuma bocah yang menghabiskan waktu di warnet kalau saja ia tidak menjual ganja. Dia anak kuliahan dengan sebuah anting di lidah, entah di mana Boy mengenal bocah ini. Kulihat bagian hitam matanya berputar penuh kecurigaan. Aku heran bahwa masih ada kampus yang bersedia menerima dan tidak mengeluarkannya di hari pertama.

“Sepaket cukuplah untuk aku dan dia,” ucap Boy pada bocah itu, “jangan lupa papirnya.”

Bocah itu segera memindahkan bungkusan koran sebesar setengah kotak rokok dan Boy memberinya uang. Tak berlama-lama kami segera meninggalkan warnet itu.

“Kalau kau mau main game online, lain waktu saja,” lanjut Boy, “bisa saja tempat ini diawasi polisi. Sekarang, kita cari anggur murahan itu dan langsung menuju kamar kosmu.”

Aku mengangguk karena aku memang tak mau main game online dan bertanya-tanya: jika ia curiga tempat itu diawasi polisi, mengapa ia masih ke sana. Aku tak peduli, besok aku sudah mati dengan rasa iri pada Boy dan perayaan hidupnya. Sambil itu kuisap ganja dalam-dalam lalu kuseruput anggur murahan dalam plastik minuman dengan sedotan. Tubuhku terasa ringan dan semua hal jadi lawakan yang penuh kelucuan. Aku tak tahu sudah berapa lama aku tertawa.

***

Aku ketiduran dan terbangun pagi berikutnya dengan penyesalan karena belum mati ketika kudengar keributan di luar. Suara orang berteriak-teriak. Penghuni kamar lain berlari-lari di atas lantai kayu, menimbulkan suara geruduk yang kukira bisa meruntuhkan bangunan ini. Ada yang berteriak-teriak menyuruh memanggil polisi.

Aku keluar kamar dan kulihat semua orang berkumpul di depan pintu kamar mandi umum.

“Ada apa, Mas?” aku bertanya pada penghuni kamar sebelah.

“Ada orang asing gantung diri di plafon kamar mandi.”

Sekilas kulihat punggung mayat itu. Aku segera berlari menuju kamar, menengok ke bawah tempat tidur, dan tali tambang itu sudah hilang. Ah, Boy! Kenapa malah kau yang mati duluan? Bikin repot saja.

Tinggalkan Balasan

Close