Memandang Persepakbolaan Indonesia dari Mata Ekspatriat

Judul: Sepakbola: The Indonesian Way of Life
Penulis: Antony Sutton a.k.a Jakarta Casual
Penerbit: Kawos Publishing
Tahun Terbit: 2017
Tebal: 265 halaman
Harga: Rp. 99.000

“Saya yakin, jika buku ini kemudian tidak mampu mengubah perilaku pelaku sepak bola kita, setidaknya ia bisa menjadi sebuah cermin retak yang akan selalu kita lihat kembali,” ujar Kurniawan Dwi Yulianto, dalam kata pengantar buku ini.

Wajar rasanya jika seorang Miftakhul F.S begitu ‘Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut’. Wajar pula jika Syamsir Alam pada 2012 lalu menyatakan siap mati demi tim nasional. Toh, kedua orang itu merupakan warga negara Indonesia sejak lahir. Bukan blasteran, apalagi naturalisasi. Yang pertama seorang penulis, yang kedua pemain sepak bola.

Lalu, apa jadinya jika ada seseorang yang sama sekali tidak memiliki darah Nusantara, tapi sangat paham, cinta, dan peduli terhadap sepak bolanya? Wajarkah? Tentu tak dapat diwajarkan, namun orang seperti itu benar-benar ada. Dia adalah Antony Sutton.

Antony Sutton atau yang familiar dengan sebutan Jakarta Casual ini merupakan seorang pelancong dari Inggris, tepatnya dari kota London. Ia pertama kali tiba di Indonesia pada 2002. Beberapa tahun setelah itu, ia rutin menonton berbagai pertandingan sepak bola lokal hingga kemudian menuliskannya di blog.

Setelah rutin berkelana ke banyak stadion di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua, dan banyak menulis sepak bola di blog pribadi, ia kini melahirkan sebuah buku bertema sepak bola. Buku yang diberi judul Sepakbola: The Indonesian Way of Life itu barangkali semacam rangkuman perjalannya selama menonton sepak bola Indonesia.

Sebelum mulai membaca, tak perlu berekspektasi untuk membaca tulisan sepak bola yang dibingkai dari berbagai perspektif seperti kerap dilakukan oleh Zen RS, penulis buku Simulakra Sepakbola. Sebab dalam buku ini, Antony hanya menuliskan pengalamannya yang kebanyakan sudah kita ketahui. Namun di situlah menariknya. Kita sebagai pembaca bisa tahu dan melihat perspektif murni seorang ekspatriat terhadap sepak bola Indonesia. Baik hal positif maupun negatif.

Hal positif tentang sepak bola Indonesia yang sering ia singgung dalam buku ini adalah soal fanatisme suporter yang ditunjukkan pada beberapa bab. Misalnya pada bab berjudul ‘Bandung dan Bobotoh’ yang mencerminkan fanatisme pendukung Persib.

Pada bab itu, ia mengisahkan pendukung Persib yang selalu mengikuti setiap pertandingan Persib di mana pun mereka bermain. Entah itu di Jawa, Sumatera, atau Kalimantan. “Pada setiap pertandingan Persib, selalu ada kelompok Bobotoh yang berangkat. Entah dari Bandung, Jawa Barat, atau dari tempat lain di negeri ini,” ujar seorang Bobotoh pada Antony.

Membahas tentang Bobotoh, Antony bahkan mengisahkannya dalam dua bab. Dalam sebuah acara bedah buku, Sabtu (4/3), di Landmark Braga, ia memberikan penjelasan terkait hal tersebut. Ia mengaku sangat terkesan dengan segala hal yang berkaitan dengan Persib Bandung. Antony menyebutkan, bahwa Persib lebih dari sekadar klub. Persib merupakan identitas, juga sebuah kebanggaan. Untuk itulah, katanya, hampir seluruh masyarakat Jawa Barat memiliki ‘darah biru’.

Kelompok suporter lain yang ia tulis dalam satu bab khusus adalah Bonek Mania, pendukung Persebaya Surabaya, klub yang beberapa tahun terakhir seolah hendak dilenyapkan oleh para “penguasa”.

Dalam bab itu, Antony menceritakan perjuangan para Bonek yang rela mengikuti semua pertandingan Persebaya walaupun dengan modal pas-pasan. Ia juga mengisahkan perjuangan Bonek melawan pemerintah untuk “mengembalikan” Persebaya yang sebenarnya. Ia bahkan mensejajarkan perjuangan itu dengan perjuangan masyarakat Surabaya pada masa penjajahan saat mengusir tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945.

Sementara hal negatif tentang sepak bola Indonesia yang ia ceritakan dalam buku lebih banyak menyinggung soal fasilitas, profesionalisme klub, dan tentu saja peran pemerintah. Misalnya pada bab berjudul ‘Minimnya Infrastruktur’ dan ‘Persibo dan Rasa Malu Bangsa’.

Yang menarik, sepemahaman saya, Antony dalam bukunya sama sekali tidak pernah menjelekkan supporter sepak bola Indonesia. Bahkan meskipun itu menyangkut kerusuhan atau perkelahian yang kerap terjadi antarsuporter. Soal kerusuhan atau perkelahian sepak bola di Indonesia, dengan gurauan ia memberikan penjelasan yang berupa pertanyaan, “Sudah pernah menonton Millwall atau Middlesbrough?” (halaman 137)

Lewat pertanyaan itu, barangkali ia ingin mengatakan bahwa kerusuhan yang kerap terjadi di Indonesia masih berada di batas wajar. Masih jauh bila dibandingkan dengan kerusuhan di Inggris, misalnya para supporter Millwall atau Middlerbrough.

Kini, kurang lebih sudah 15 tahun Antony tinggal di Indonesia. Dan ternyata waktu tersebut cukup untuk membuatnya kenal, peduli, dan cinta terhadap sepak bola Indonesia. Ia bahkan sudah menonton lebih dari 200 pertandingan secara langsung di stadion. Tidak hanya pertandingan-pertandingan di liga papan atas dan divisi utama, ia juga cukup sering menonton pertandingan liga amatir. Sehingga, pengetahuannya tentang sepak bola Indonesia terlihat begitu dalam. Lihat saja betapa fasihnya ia menuliskan hampir seluruh klub di sepanjang Nusantara. Bahkan, ia menyebut beberapa klub yang sebelumnya saya dan mungkin pula Anda belum pernah dengar, seperti PS Kwarta, Persekam Metro Malang, atau Persida Sidoarjo. Orang Indonesia mana yang hafal klub-klub itu? Sebuah tamparan keras bagi masyarakat kita yang mengaku pencinta bola, namun lebih mementingkan liga Eropa ketimbang di negara sendiri.

Suatu waktu, Zen RS pernah berujar bahwa kehadiran buku-buku bertema sepak bola semacam ini dibutuhkan untuk memajukan dan mengembangkan sepak bola Indonesia. Tak hanya aspek teknis yang ada kaitannya secara langsung. Buku ini merupakan sumbangsih terbaru di bidang literasi sepak bola yang belakangan begitu digandrungi masyarakat. Untuk itu, sekaligus menyampaikan rasa decak kagum tak terhingga, mari ucapkan terima kasih kepada pria Inggris pendukung Arsenal yang lebih mengedepankan tiket pertandingan daripada tiket penerbangan ini.

Terima kasih, Antony Sutton, atas 265 halamannya!

Tinggalkan Balasan