artikel, Kolom

Kurasi dalam Penerbitan Indie

kurasi dalam penerbitan

Berkecimpung cukup lama dalam dunia penerbitan Indie, membuat saya melihat ada suatu permasalahan yang menggelisahkan. Ketika semua orang yang mampu menulis dan bisa membayar bisa menerbitkan buku, lalu siapakah yang menjadi kurator dan penjamin akan kualitas suatu buku terhadap pembacanya? Di satu sisi, penulis berhak untuk menyuarakan pendapatnya dan berbicara kepada siapa saja. Di sisi lain, bukankah pembaca juga berhak mendapatkan bacaan yang bermutu dan bagus bagi dirinya?

Permasalahan ini juga yang rasanya mengganjal ketika saya ingin menerbitkan hasil tulisan saya secara Indie, apakah tulisan saya cukup layak dilempar ke publik tanpa ada suatu legitimasi atau proses kurasi dari orang lain atau dari penerbit? Ya memang tulisan yang datang pasti tidak terbit begitu saja, ada suatu proses editing dan proof read untuk memeriksa tulisan tersebut dari berbagai sisi. Seperti logika narasinya apakah logis dari depan sampai belakang, ataukah ada yang bolong atau tidak logis. Sebagaimana yang pernah saya temui dalam pekerjaan saya sebagai editor, kisah seorang buta dari lahir yang bermimpi dengan cara yang begitu visual, apakah hal itu dimungkinkan terjadi? Hal lain yang dilakukan oleh editor adalah memeriksa fakta-fakta yang ada dalam tulisan, sefiksi apa pun tulisan tersebut, alangkah baiknya kalau datanya tetap akurat. Walaupun, fakta bagi setiap orang juga bisa saja berbeda, bagi saya, bumi itu bulat adalah fakta, tapi bagi orang lain mungkin faktanya adalah bumi itu datar. Kemudian dari segi penulisan juga perlu dilakukan pemeriksaan akan keselarasan bahasa, konsistensi, dan ejaan yang pastinya butuh ketelitian.

Sebanyak itu proses yang harus dilakukan dalam mengolah suatu karya agar bisa layak baca. Namun seberapa jauh juga pekerjaan editor bisa dilakukan tanpa kerja sama dari penulisnya? Apakah editor bisa begitu saja memotong suatu adegan dan menggantinya dengan adegan baru? Dan jangan lupa dengan upah dari editor yang apalagi indie, ketika proses editing yang dilakukan dihitung per halaman dan pemeriksaan membutuhkan waktu lebih dari dua kali pembacaan, harga tetap per halaman. Mungkin diperlukan serikat buruh penerbitan untuk menjamin hak hidup dari editor.

Saya yakin, bahwa pihak penerbit yang pada umumnya mencintai dunia literasi juga gelisah dengan kedua tarikan ini, semangat indie yang memberi kesempatan bagi siapa saja untuk menerbitkan bukunya, dan tanggung jawab sebagai penerbit untuk memberikan tulisan yang cukup layak—jika belum bisa dikatakan bermutu—bagi para pembacanya. Melihat keadaan Indonesia yang terkenal dengan rendahnya minat baca dari masyarakatnya, sedikit banyak, seharusnya kita bersyukur masih ada orang yang dengan antusias menulis dan menerbitkan tulisannya. Keadaan yang bisa jadi membuat dunia perbukuan begitu miskin. Jika saya tidak di Jogja dan kecemplung dengan dunia perbukuan ini, saya mungkin hanya akan tahu dua penerbit besar Indonesia yang menjual buku terbitannya di toko miliknya sendiri. Buku yang bisa jadi tidak menawarkan lebih banyak pengetahuan daripada buku dari penerbit pinggiran, tapi paling tidak ada banyak modal untuk akuisisi dan promosi sehingga ada buku terjemahan bagus dan penulis-penulis bagus yang bisa mereka terbitkan tulisannya.

Pertanyaan yang sampai sekarang rasanya masih belum bisa terjawab, sebebas apa penerbit yang membawa semangat indie untuk bisa menerbitkan setiap tulisan yang masuk ke ruang redaksinya? Apakah memang tidak bisa dilakukan proses kurasi untuk menyaring mana tulisan yang cukup bisa dibaca atau terlalu rumit untuk dibaca publik, walau masalah selera memang tidak bisa diatur dan dipaksakan? Ketika memilih untuk tidak mengkurasi juga suatu pilihan yang politis, apakah tidak lebih baik untuk sekalian mengambil sikap politis yang lebih bermanfaat bagi publik? Jika orang yang mendaku diri sebagai penerbit tidak bertanggung jawab akan isi tulisan yang dilemparkannya ke khalayak, lalu apakah yang membedakan dirinya dengan tukang fotocopy? Mengambil tanggung jawab akan tulisan yang dilemparkan ke publik, menurut saya adalah sikap politis yang harus diambil sebagai manusia yang sudah mendapatkan keistimewaan bisa menikmati dan berkecimpung dalam dunia literasi.

 

Anne Shakka – Editor di Penerbit Indie

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.