Beranda » Sastra & Fiksi » Sastra Terjemahan

Tampilkan 10 hasil

Show sidebar

Yesus Anak Manusia

Rp 79.000

Dia dipuji sekaligus dicaci, dicintai sekaligus dibenci. Dialah Yesus sang Anak Manusia. Melalui buku ini, Kahlil Gibran mengajak kita melihat sosok Yesus dari berbagai sudut pandang, melalui kesaksian orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya—baik kawan maupun lawan, kerabat maupun orang asing.

Gaya bercerita Gibran yang unik mampu menciptakan sebuah pengalaman membaca yang kaya dan menyeluruh. Keunikan tersebut pun diterjemahkan dengan magis oleh Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair besar Indonesia, sehingga kita dapat ikut terhanyut dan terpukau ketika menyusuri kisah Yesus yang luar biasa.

Liris, romantis, serta mendalam. Karya-karya Gibran tak hanya terus dibaca hingga saat ini, tapi juga telah memicu Era Kebangkitan sastra Arab modern. Inilah karya yang memantapkan posisi Kahlil Gibran sebagai salah seorang tokoh penting di ranah sastra dunia.

Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga

Rp 50.000

Dalam kumpulan cerpen muram kocak ini, Sherman Alexie, seorang Indian Spokane/Coeur d’Alene, dengan cemerlang menjalin memori, fantasi, dan realisme lugas, untuk melukiskan sepotong ruwet, suram, dan ironis kehidupan di Reservasi Indian Spokane dan sekitarnya. Dua puluh dua kisah yang berjalinan ini dituturkan oleh karakter-karakter yang dibesarkan dan keju murahan, namun penuh gairah dan rasa kasih, mitos, dan mimpi. Ada victor, bocah sembilan tahun, yang merayap di antara kedua orangtuanya yang semaput dan berharap alkohol yang merembes lewat kulit mereka bisa membuatnya lekas tidur, Thomas Build-the-Fire, yang tetap mendongeng walau orang sudah lama tak sudi mendengar lagi, dan Jimmy Many Horses, yang sekarat karena kanker, yang menulis huruf-huruf di atas secarik kertas yang berbunyi “Dari Ranjang Kematian James Many Horses III”, walaupun sebetulnya dia menulis di meja dapurnya. Dengan latar belakang alkohol, kecelakaan mobil, tawa, basket, Alexie menggambarkan jarak antara Indian dan kulit putih, Indian reservasi dan Indian urban, laki-laki dan perempuan, dan yang paling puitis, antara Indian modern dan tradisi masa lalu.

Hadji Murat

Rp 57.000

Peluru, kamu panas dan membawa kematian, tetapi bukankah kamu abdiku yang setia? Tanah hitam, kamu kelak menajdi selimutku, tetapi dengan kudaku? Maut, kamu dingin, tetapi akulah tuanmu. Bumi akan merebut jasadku, dan surga menjemput jiwaku.

Saat itu 1852 dan Hadji Murat adalah satu pemimpin Muslim yang disegani dan menjadi momok bagi tentara Rusia. Ketika ida menyerahkan diri, ornag-orang Rusia sangat bergembira dapat menaklukkan musuh sengitnya. Atau mereka itu telah sedemikian naifnya sehingga mempersilahkan seorang agen ganda berada di tengah-tengah mereka?

Karena datang dari dua kultur yang berbeda seperti itu, ternyata tidak mungkin bagi seseorang untuk menerka-nerka pihak lain. Dengan serangkaian potret pertentangan yang tajam, dari Hadji Murat yang seperti siluman di Pegunungan Chechnya, hingga Tsar Rusia yang tambung dan canggung di istana Rusia yang ter-Eropa-kan, cerita Tolstoy adalah komentar yang cerdas dan luar biasa tentang hubungan politis saat perang. Hadji Murat adalah fiksi terakhir karya Tolstoy yang diterbitkan tahun 1912, tahun setelah kematiannya. Namun begitu, gambarannya yang murung tentang konflik antaradua kebudayaan yang terpolarisasikan, dan pertemuan dahsyat mereka, bergema luar biasa dan tak terduga pada peristiwa-peristiwa zaman kini.

20 Puisi Cinta & 1 Nyanyian Putus Asa (Cover Baru)

Rp 50.000 Rp 45.000

Malam Ini Aku Bisa Saja Menulis

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih
Misalnya menulis “Malam penuh bintang,
dan bintang bintang itu biru dan menggigil di kejauhan.”

Angin malam berputar di langit sambil bernyanyi.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Aku pernah mencintainya, dan kadang dia pun pernah mencintaiku juga.

Di malam-malam seperti ini dulu, kurangkul dia dalam pelukanku.
Kuciumi berkali kali di bawah langit yang tak berbatas.

Dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
Bagaimana mungkin bisa tidak mencintai matanya yang indah dan tenang itu.

Malam ini aku bisa saja menulis puisi yang paling sedih.
Karena aku tak lagi memilikinya. Karena aku telah kehilangan dia.

Malam begitu mencekam, tambah mencekam tanpa dirinya.
Dan puisi masuk ke dalam jiwa seperti embun ke rumputan.

Tak apa kalau cintaku tak bisa menahannya.
Malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.

Begitulah. Di kejauhan, seseorang bernyanyi. Di kejauhan.
Jiwaku resah kehilangan dia.

Seolah ingin menghadirkannya, mataku mencarinya.
Hatiku mencarinya, dan tak ada di sini dia.

Malam yang itu-itu juga, membuat putih pohonan yang itu-itu juga.
Tapi kami tak seperti dulu lagi.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
Suaraku menggapai angin biar didengarnya.

Milik orang lain. Dia akan jadi milik orang lain. Seperti dia dulu milik ciuman-ciumanku.
Suaranya, tubuhnya yang indah. Matanya yang dalam.

Aku tak lagi mencintainya, itu pasti, tapi mungkin aku mencintainya.
Cinta begitu singkat dan lupa begitu lama.

Karena di malam-malam seperti ini dulu kurangkul dia dalam pelukanku,
Jiwaku resah kini kehilangan dia.

Walau ini derita terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.

 

The Royal Game and Other Stories

Rp 65.000 Rp 60.000

Dan The Royal Game adalah karya terbesar dari seorang Zweig, yang menceritakan tentang Master Catur dunia yang ditantang oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang di perjalanannya menuju turnamen di Amerika Latin. Ditulisan ini membuat kita berkelana dalam pikiran orang yang membenci Nazi seperti Hitler membenci Yahudi. Seseorang dengan kesendiriannya menemukan suatu keasikan individu dalam permainan bangsawan (The Royal Game), catur, yang akhirnya membawa kita mengetahui akar dari semua kesengsaraanya adalah kesendirian itu sendiri.

The Complete Short Stories Of Ernest Hemingway

Rp 399.000 Rp 370.000

Buku The Complete Short Stories Of Ernest Hemingway ini digarap dengan sangat serius oleh Imortal Publisher. Diterjemahkan oleh Zulkarnain Ishak, owner dari penerbit legendaris Sadasiva yang sudah lama vakum. Dan Bung Zul sekarang fokus untuk menerjemahkan kraya-karya klasik dunia.
Buku ini berisi 70 karya lengkap Hemingway, termasuk 4 cerita pendek terakhir yang dia tulis sebelum bunuh diri.

Kitab Pertanyaan Pablo Neruda

Rp 55.000 Rp 50.000

Pablo Neruda merampungkan Kitab Pertanyaan (The Book of Questions/El libro de las preguntas) hanya beberapa bulan jelang kematiannya pada September 1973. Melalui karangan ini, ia sepenuhnya menjadi manusia dan seniman. Seorang penyair berusia 69 tahun yang telah mencerap sumber esensial dari karya monumentalnya, meninjau kembali “kedalaman abadi”: imajinasi yang mengalami regenerisasi dan daya pandang. Puisi-puisi ringkas di sini, seluruhnya berbentuk pertanyaan, mengejawantahkan dedikasinya pada apa yang disebut Hayden Carruth sebagai “struktur perasaan” yang mendasari pengalaman. Pablo Neruda melakukan eksplorasi pada ragam pikir, gaya puitika, dan suara-suara, walaupun kecenderungan renjananya ia peradukan, dan pengembangan atas ritme dasar persepsi yang menguak kebenaran-kebenaran tak terucap atau yang tak dapat diucapkan.

Dari Crepusculario dan Venture of the Infinite Man, dua karya yang paling awal dan terakhir cukup dikenal, hingga pada seri buku ini hadir secara terlambat dan posthumous, Pablo Neruda mengalami peningkatan yang luar biasa dalam hal mempertanyakan siapakah hakikat dirinya. Ia juga yakin bahwa tahap pengesampingan hal-hal yang ia ketahui supaya ia dapat jelajahi ulang rahasia irama dan pengamatannya yang lain. Imajinasinya tidak pernah ditaklukkan oleh ketentuan umum dan, khususnya pada puisi sebelumnya, jarang sekali tampak suaka perlindungan, baik secara kepentingan politik maupun artistik. Pablo Neruda terus saja menantang dirinya sendiri sebagai manusia dan seorang seniman, sampai ia menjadi “pemburu yang cerdik”, mengutip Marjorie Agosin, yakni salah seorang berlapangan kerja mencari dan mencari “akar kepemilikan” di mana pun ia dapati kesimpulan atas dirinya.

Dalam Kitab Pertanyaan, Pablo Neruda mencapai suatu kedalaman akan kerentanan dan daya pandang dibanding karya-karya sebelumnya. Puisi-puisi dalam buku ini terintegrasi antara keajaiban masa kanak-kanak dan pengalaman kedewasaan. Orang dewasa umumnya bergumul dengan pertanyaan anak-anak “yang irasional” semata-mata bertolak dari pikiran masuk akal. Sementara itu, Pablo Neruda membutuhkan kejernihan  yang tersumbangkan dari kehidupan nyata, ia menolak hanya terkungkung pada pikiran rasionalnya saja. Dari sekitar 316 pertanyaan yang terangkum dalam 74 puisi dengan bentuk ini, tak ada sama sekali yang jawabannya masuk akal. Pertanyaan berikut memberi contoh refleksi pada permukaan, yang salah satunya bagiannya membedakan.

Jika semua sungai manis
dari manakah laut dapatkan asinnya?

Satu hal yang harus terpenuhi, bagi pembaca, dari citraan sungai, lautan, rasa manis, dan asin yang gaung artinya lebih dalam ketimbang makna harfiahnya. Di satu pihak, kita mesti bersabar, daripada terburu-buru untuk melakukan penentangan tanya dengan makna yang beralaskan pikiran.
Menatap ke langit malam hari dari dek kapal atau lantai padang pasir, kita lihat sekelebat bintang di kejauhan pada ujung-ujung mata. Saat kita memandanginya langsung ke sana, mereka seolah kabur dari pandangan. Sebagaimana bintang, pertanyaan-pertanyaan di sini sepenuhnya menyibak dirinya sendiri kepada pikiran yang berulang-ulang, yakni pikiran yang terlibat dengan intuisi dan persepsi emosi.

Pablo Neruda mengarang pertanyaannya yang kebanyakan berasal dari objek-objek alam –seperti awan, roti, limun, unta, teman, dan musuh. Kesemua substansi dan bentuk itu berjalin-jalin dalam kehidupan sehari-hari kita; kematian kemudian kelahiran lagi, keterbatasan itu menjadi nyata sebagai pancaran luaran yang merujuk kepada dunia yang lebih besar lagi. Mereka tampak misterius karena, meskipun secara fisik ada dan “konkret”, padanya tiada keputusan atau penyelesaian. Agaknya, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda membuka misteri-misteri baru yang berkaitan dengan kebenaran fisik hingga kebenaran metafisik. Dengan mempersilakan pertanyaan itu mengambil alih, kita akan sampai pada tempat-tempat yang belum pernah dipetakan sebelumnya.

Puisi-puisi di buku ini, bagaimanapun juga, tidak bisa dipertimbangkan sebagai “peta jalan” bagi jalur intuitif, emosional, dan spiritual. Mereka mengarahkan kita pada suatu hidup yang menjamak: mereka menjala kata-kata ke dalam jiwa kita sehingga kita dapat mencerap pemahaman, dan masih secara jelas berada dalam suatu Tempat Tak Dikenal, di mana segala jawab tak memberi nama-nama. Dalam konteks ini, pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda sangat dekat dengan semangat kōan. Kōan merupakan sebuah pertanyaan (atau pertanyaan samar laiknya sebuah pernyataan) dalam kontruksi suatu paradoks, yang membantu murid Zen mempraktikkan zazen (meditasi). Sebuah penjabaran mengenai paradoks ini dapatlah ditemukan dalam puisi Zen guru Mumon, yang berkomentar mengenai dua biksu yang saling terlibat perdebatan dengan enam kepala keluarga di mana tergeraklah–angin, panji, atau pikiran.

Angin, panji, pikiran yang bergerak,
pemahaman yang sepadan
ketika mulut terbuka
segalanya adalah kekeliruan

Begitulah cara kerjanya: pikiran menjadi jebakan, sedangkan mulut menjelma kegelapan. Bilamana salah seorang melontarkan suatu anggapan dan ketentuan-ketentuan yang bakal memburu lamunan masa lalu dan masa depan, pikiran dibebaskan untuk menyimak dan ada dalam kemenjadiannya. Selanjutnya, di lain pihak akan tersadar bahwa nilai suatu pertanyaan yang diutarakan penyair Sufi Jalaludin Rumi pada abad ke-13: “Seberapa jauh cahaya ke bulan?/dari bulan?” Dan mengapa ia, setelah tak menumu jawab, kembali kepada bulan tersebut dan berkata, “Di manakah Tuhan?”

Akar sejarah Anglo-Saxon menyebutkan kata “pertanyaan” adalah kuere, yang artinya untuk meminta atau mencari, sebab itulah berhasil atau menang. Dalam bahasa Latin, ini disebut quaerere dan questum; dalam bahasa Inggris kemudian menjadi quaestor dan selanjutnya “pencarian (quest)”, “pemeriksaan (inquest)”, dan “pertanyaan (question).” Cabang akar bahasa lainnya menyebut  “penaklukkan (conquest)”, “menanyakan (inquire)”, dan “memperoleh (acquire)”.
Pablo Neruda mempunyai ketertarikan dalam menanyakan (inquire) perihal kebendaan alamiah, yakni proses inisiasi dari menyatakan tanya yang berasaskan pengalaman, yang diajukan kepada kita atas apa yang ia intuisikan sebagai kebenaran dan perkara yang tidak bisa dipahami. Ketimbang tetap berada dalam kontrol, ia menyelami dirinya sendiri dalam ketidak-tahuan, yang mana dalam ketidaktahuan pertanyaan lantas merasuki imajinasi. Sang penyair bermaksud membedakan antara apa yang ia yakini dalam hati serta jiwanya (gnosis), dan menerima pola-pola pikiran dan perasaan yang membatasi imajinasi serta perkembangannya.

Kitab Pertanyaan memenuhi peran tradisional sebagai puisi terbaik. Sumbangsih terbesarnya adalah menolong kita dalam mengajari masing-masing kita bagaimana cara melihat, secara terpisah membantu untuk terispirasi dan fokus terhadap pencarian inti. Kita berpartisipasi baik merespon pertanyaan-pertanyaan Pablo Neruda dengan “berlari di tempat” bersama citraan (meminjam frasa dari Roshi Charlotte Joko Beck), ketimbang melarikan diri dari pikiran yang rasional. Puisi-puisi di sini merupakan catatan-catatan penuh kata-kata atas imajinasi si penyair; mereka menyibak kebenarannya hanya jika kita hidup dengannya lagi mengalaminya apa adanya. Manakala kita melakukan hal tersebut, imajinasi kita kembali terbangunkan hingga mencapai kemungkinan yang paling tenang dari keheranan dan perasaan kagum. Dalam keadaan inilah, kita mengajukan pertanyaan yang tak berjawab. Dan kita senantiasa merasa, tercermin di antara kita, sifat duniawi yang melampaui, baik pikiran maupun penglihatan.

Buku unik ini merupakan testamen atas segala yang mengukuhkan Pablo Neruda sebagai seniman. Ia tak bisa diberi label sebagai penyair politis atau penyair cinta, penyair yang diakui atau penyair bakat, dan hanya ia seorang yang sanggup menuduh dirinyalah menjadi orang kebanyakan, dan tak pernah tahu  “siapakah aku,/maupun seberapa banyak diriku atau seterusnya.” (“who I am,/nor how many I am or will be”). Maka, untuk memahami tataran kepenyairan ini, penting rasanya menyimak dirinya dalam kerentanan momen-momen. Puisi berikut ini mengandung lebih kurang kemurnian jiwa seorang Neruda.

Burung pengecut manakah yang
mengisi sarangnya dengan limun?

Bagi mereka yang membaca puisi-puisinya mengenai kekalahan orang-orang di lain sisi dari patologi sosial dan politik, tak akan kaget dengan baris seperti ini:

Buruh seperti apakah
yang dipekerjakan Hitler di neraka?

Pablo Neruda ialah seniman kompleks, yang membaurkan gelap dan terang, serta yang merespon sepenuhnya kesatuan pengalamaan yang tersedia bagi manusia. Ia mengenali kontradiksi, bahkan terpagut dengannya, dan kerap kali membebaskan karyanya dari batasan-batasan, penyederhanaan yang berbahaya, agenda ideologi serta pembicaraan mengenai diri sendiri secara berlebihan meskipun tak penting sepenuhnya (egotisme). Dengan begitu, ia menciptakan keterjalinan keindahan, kumpulan karya yang luas cakupan.

Buku ini merupakan seri terakhir karya posthumous Pablo Neruda dari Copper Canyon Press, yang mengantarkan pada kita selubung pengetahuan di mana suatu pencarian dilanjutkan: apa yang dipelajari akan terlupa, maka ia dapat dipelajari kembali.

Dalam sebuah karya awalnya, Extravagaria, sang penyair bertanya-tanya dalam hati:

Anak dari anak atas anak–
akankah mereka membuat sebuah dunia?
Akankah mereka halau kebaikan atau keburukan?
Senilai lalat-lalat atau gandum bermanfaat?

Kau tak ingin menjawabku.

Namun pertanyaan-pertanyaan tak mati.

William O’Daly
Musim dingin, 1991

Ibu Kota Lama–Yasunari Kawabata

(1 ulasan pelanggan)
Rp 60.000 Rp 55.000

“Menculik seorang bayi adalah perbuatan dosa, lebih parah ketimbang mencuri uang ataupun yang lainnya. Bahkan mungkin lebih jahat ketimbang pembunuhan. Mungkin orangtua kandungmu sudah gila karena kedukaan. Ketika berpikir tentang hal ini, bahkan ibu jadi ingin mengembalikanmu. Tapi, tentu saja itu sangat terlambat. Jika kau ingin mencari asal-usulmu, orangtuamu yang sebenarnya, ibu tak bisa mencegah. Tapi, ibu mungkin akan segera mati.”;

George And Lennie

Rp 39.000

JOHN STEINBECK SEBUAH KISAH TENTANG PERSAHABATAN DAN TRAGEDI SEMASA KRISIS EKONOMI

Mereka bukanlah pasangan yang ideal. George bertubuh kecil dan gesit, sedangkan Lennie memiliki tubuh yang jauh lebih besar dan dungu. Mereka hidup layaknya sebuah keluarga, bersama-sama menghadapi kesepian dan keterasingan.
Buruh di ladang sayur yang berdebu di Kalifornia, mereka terbiasa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. George dan Lennie punya mimpi: memiliki sebidang tanah sehingga bisa hidup dengan damai. Ketika mereka mendapat pekerjaan di sebuah peternakan di Salinas Valley, mimpi mereka tampak begitu dekat. Tetapi George tidak dapat menjaga Lennie dari provokasi seorang wanita genit, ia tak mampu mengendalikan diri, baik emosi maupun kekuatan luar biasanya. Ketika suatu hari Lennie mendapat masalah besar lagi, tampaknya George tak akan dapat menyelamatkan sahabat sejatinya seperti sebelumnya.