Beranda » Biografi & Memoar » Catatan Perjalanan

Tampilkan 12 hasil

Show sidebar

Jakatronya Gue

Rp 70.000

BUKU DIKIRIM SETELAH PRAPESAN SELESAI

Lahir dan besar di Jakarta, gue, Nuria Soeharto, melipir ke Bekasi bareng keluarga selepas SMA. Abis itu, kos di Depok buat sekolah S1. Setelah lulus, kerja di periklanan bareng Agus Makkie. Terus, setelah freelancing di bisnis ini selama hampir 10 tahun, gue nerusin sekolah S2 dan S3 di Paris, Prancis, lanjut nikah (dan pecah-kongsi) dengan bule Swedia, pindah hidup dari Prancis ke Swedia, lanjut Kosovo, nyambung Palestina. Dua belas tahun di Eropa, gue balik ke Jakarta, eh, Bekasi, demi ibu tercinta yang sekarang demensia.

Buku ini kumpulan cerita harian gedabrukan gue, temenan lagi sama keseharian Jakarta, eh Bekasi. Yah, kehidupan Jakarta coret, ‘dah, yang menurut teman gue si Agus Makkie itu, saking ‘seru’-nya jadi nyebutnya kudu: Jakatrooooo…!

Relawan di Jerman

Rp 98.000

Wahyu jadi teringat dulu di tempat kursus dirinyalah yang paling top meski pada awalnya dicemooh tidak akan bisa lulus ujian B1. Semua cibiran itu ia balikkan kepada si pengucap. Ia tampar mereka dengan hasil ujian B1 yang gilang gemilang. Ia menjadi sorotan banyak orang dan tak sedikit dari peserta kursus yang belajar padanya. Meniru caranya belajar, memintanya menjelaskan ini dan itu. Ia merasa betul-betul menjadi seorang master bahasa Jerman.

Perasaan yang hebat itu lalu tiba-tiba runtuh ketika kali pertama menjajakan kaki di Jerman. Telinganya seperti disumpal kapas tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan orang lain, mereka bicara dengan tempo cepat. Lidahnya seperti terikat, suaranya tercekat, pikirannya lambat, ia tak tahu harus merespons apa. Mau sehebat apa pun kita di Indonesia belajar bahasa Jerman, ketika sudah sampai di negara itu, kita akan merasa kurang dan merasa asing. Segala yang telah terjadi selama ini betul-betul sangat cepat. Perubahan yang tidak menunggu ia siap dan menuntutnya untuk segera bisa mengikuti ritme kehidupan di sana.

Keluarga Baru di Belanda

()
Rp 98.000

Suatu kali di akhir musim gugur pada malam hari udara menyentuh angka -1°C, jalanan membeku keesokan harinya. Iona yang saat itu pulang mengantar kedua anak asuhnya ke daycare dan sekolah jatuh tergelincir dari sepeda. Untung saja mereka tidak menangis. Jalanan itu membeku, sangat licin seperti arena ice skating, untuk berjalan saja susah apalagi untuk mengendarai sepeda. Dengan segera Iona menenangkan kedua anaknya dan mereka berjalan pulang. Iona menuntun sepeda dan kedua anaknya berjalan di sampingnya. Mereka bertiga harus berjalan sambil membungkukkan badan agar bisa berjalan ke depan. Iona tidak sanggup naik sepeda melawan badai. Badai di Belanda kecepatan anginnya bisa lebih dari 100 km/jam.

Beda di Dunia yang Sama

Rp 77.777

Tiap orang tidak ada yang sama. Masing-masing punya perbedaan yang membuat setiap orang unik dengan caranya sendiri. Namun, dalam hal membuat keputusan, manusia cenderung mengikuti keputusan yang sama dengan keputusan yang diambil oleh banyak orang. Saat teman-teman Anda bersepeda, hal yang wajar Anda lakukan adalah ikut bersepeda. Jika tidak, maka Anda dianggap bukan bagian dari mereka. Anda dicap beda dan tidak gaul. Apakah anda salah karena tapil beda? Sudah tentu tidak.

Buku Beda di Dunia yang Sama bercerita pengalaman yang dialami Penulis saat keputusannya berbeda dibanding orang kebanyakan. Ada keputusan yang berakhir baik, tetapi ada juga yang berakhir dengan tidak baik. Itulah bagian dari risiko yang diambil saat kita mau tampil beda.

Setrika Arang di Belakang Bioskop Mega

Rp 65.000 Rp 60.000

Banyak dari anak muda pada dekade 1980-an menggunakan dokar. Dahulu perjalanan terasa cukup jauh jika dari daerah Mayang sebab Jembatan Makalam juga belum dibangun. Peminat setrika arang pun dulu juga banyak. (Hal.99)

Seperti kata Etgar Keret, setiap penulis tentu punya sudut pandang unik terhadap sebuah peristiwa atau suatu objek. Saya kemudianbertanya pada Meiliani tentang apa makna menuliskan Jambi baginya. “Menulis tentang Jambi adalah usaha untuk mengenal diri sendiri,” jawabnya. (Hal.5)

Ufuk Timur: Sebuah Perjalanan dan Perjumpaan di Tanah Papua

Rp 89.000

Buku ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Seri tulisan ini menjadi menarik, karena dibuat dengan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan tulisan lain yang dibuat oleh orang luar tentang orang dan budaya Papua. Membaca buku ini, saya seperti dibawa untuk melihat perjalanan spiritual seseorang yang sedang coba menyelami alam budaya masyarakat Papua. Tulisan ini otentik, karena diperoleh lewat interaksi—bertemu dengan banyak pihak dan berdasarkan pengalaman langsung penulis saat mengunjungi berbagai wilayah yang ada di Papua. Dari hutan, rawa, pegunungan, hingga pesisir danau dan laut. Sebagai seorang jurnalis lapangan yang berpengalaman, Christopel Paino mampu mencurahkan berbagai perasaan tentang apa yang dia lihat, dan menganalisa konteks situasi yang ada, yang pada akhirnya diramu dalam tulisan yang dia buat dalam buku ini.

-Ridzki R. Sigit (Pimpinan Operasional Mongabay Indonesia)

Membaca beberapa lembar catatan perjalanan dalam buku ini, mendatangkan iri yang berlapis-lapis. Lapisan pertama adalah sebagai sesama jurnalis, Chris sangat beruntung dapat mengunjungi begitu banyak tempat di Papua, dan berjumpa dengan banyak orang, dalam kurun waktu yang relatif singkat. Papua itu luas. Transportasi dan logistik selalu menjadi isu utama. Bahkan oleh jurnalis lokal sekalipun. Apalagi ini bukan catatan tentang jalan-jalan atau plesiran. Lapisan iri kedua adalah ketekunannya dalam mencatat setiap detil pengalaman. Ini dilakukan bukan semata karena memang sedang melakukan perjalanan jurnalistik. Sebab banyak jurnalis meliput Papua, tapi tak semua sanggup menyusun ulang catatan selain dari apa yang sudah pernah ia publikasikan. Alasan ketiga yang membuat iri adalah, kekayaan waktunya untuk menulis ulang semua pengalamannya dalam sebuah buku, yang akan menghindarkan kita dari penyederhanaan-penyederhanaan ala buku pelajaran sekolah, seperti ‘nasionalisme’ atau ‘NKRI harga mati’ dalam melihat Papua.

-Dandhy Dwi Laksono (Pendiri Watchdoc, Sutradara Alkinemokiye dan The Mahuzes)

Meskipun membicarakan Papua, Ufuk Timur sesungguhnya sedang menguliti habis nasionalisme Indonesia. Jenis nasionalisme yang, sebagaimana yang terlukis dalam pembukaan Undang-Undang Dasar negara ini, lahir dari semangat anti penjajahan dan penindasan. Nasionalisme yang ironisnya kemudian beralih rupa jadi alat menjajah dan menindas. Bangsa Papua adalah satu dari beberapa pihak yang sepanjang sejarah dipaksa mereguk bagian paling pahit dan mematikan dari nasionalisme Indonesia tersebut. Chris secara blak-blakan menyampaikan hal ini dalam bukunya ini dengan tidak lupa menyertakan saus romantisme dalam takaran yang pas. Mengikuti langkah kaki dan arah tatapan mata Chris melalui buku ini, mungkin akan memberi pembaca cara pandang baru dalam mengakrabi bahagia dan derita bangsa Papua.

-Jamil Massa (Penulis, Orang Gorontalo)

Belalang Komunis – Cerita-cerita dari Indocina

Rp 65.000 Rp 59.000

Di dalam buku ini tidak akan ada panduan soal bagaimana cara yang murah dan mudah untuk mengunjungi negara-negara yang ada dalam buku ini, apalagi untuk melancong dan menjelajah kota-kota atau situs-situs menarik yang bisa didatangi untuk sekadar berfoto ria. Tak ada rute perjalanan, harga tiket pesawat, bus atau kereta api atau alamat restoran.

Cerita di dalam buku ini adalah sedikit yang tersisa dari hidup menggelandang sebagai pendatang atau ingatan akan kunjungan singkat ke negara-negara Indocina di periode 2013-2017. Masa-masa di mana saya sedikit belajar mengerti tentang masa lalu Indocina. Terutama tentang bagaimana wilayah ini bertaut dengan sejarah sebuah gerakan yang diilhami oleh ide seorang revolusioner asal Jerman bernama Karl Marx. Tentang bagaimana geliat komunisme dan wajah ideologi ini yang tampak dalam gerakan sosial yang berfondasikan Marxisme.

Mencoba memahami dari sudut pandang seorang asing yang negerinya terletak tidak terlalu jauh di selatan, di mana Marxisme adalah tabu dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam kesadaran manusia agar tak menemukan daya kritis untuk memperjuangkan kebebasannya.

Aku Ingin Jadi Harimau

Rp 55.000 Rp 50.000

Apa dan seperti apa sistem di kepala kita yang merekam kenangan itu?

Otak kita bekerja sedemikian rupa sehingga kita hanya menyimpan sesuatu yang menurut kita baik, dan menghapus apa-apa yang buruk. Evolusi mungkin mendorong kita untuk selalu berlari atau pergi dari sesuatu yang membuat kita mendirita.

Hidup adalah penderitaan kata Buddha dan selamanya akan begitu. Yang hanya kita perlu persiapkan adalah upaya untuk menghadapi penderitaan itu, segetir apa pun itu.

Lara Tawa Nusantara – Mojok

Rp 128.000

Indonesia tidak semata bisa terdefinisikan lewat carut-marut politik dan gejolak ekonomi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Tidak. Indonesia adalah juga pelosok, daerah-daerah terpencil dan terlupakan walau di atlas dan Google Map namanya terpampang, tetapi kita tidak tahu banyak tentangnya.

Indonesia, juga adalah wilayah-wilayah yang kini seakan asing, pulau-pulau terpencil yang jauh dari radar Jakarta, yang kerap dianaktirikan oleh pembangunan, tempat-tempat yang jarang diberitakan media, yang tidak terdengar dan tidak bersuara, wilayah-wilayah yang terdepak dan kerap disebut sebagai “Indonesia yang merana”.

Buku ini mencoba melihat Indonesia dari tempat-tempat yang jauh dan gamang.

La La La Leeds!: Catatan Perjalanan Mahasiswa Indonesia di Inggris – Mojok

Rp 78.000

Seorang kawan baik menunjukkan tulisan lama saya. Ternyata tujuh atau delapan tahun lalu saya pernah menulis kalau saya ingin kuliah di Inggris dan belajar kajian media dan demokrasi. Saya ingin melihat domba-domba yang sedang merumput di padang hijau yang luas. Saya benar-benar sudah melupakan tulisan itu, dan terkesiap ketika membacanya sekali lagi. Sekarang saya telah terbiasa melihat pemandangan pedesaan seperti itu di sini dan semester lalu saya mengambil mata kuliah “Media dan Demokratisasi”. Ternyata begitulah hidup berjalan. Di Arthur’s Seat, Skotlandia, saya mengingat teman-teman baik saya, guru-guru bijak saya.

(Akhir Tahun di Arthur’s Seat)

***

Wisnu Prasetya Utomo banyak menulis, menerjemahkan, dan menyunting berbagai tulisan mengenai kajian media dan jurnalisme di sejumlah media dan jurnal. Ia baru saja menyelesaikan kuliah master di Communicationand Media, UniversityofLeeds. Kumpulan catatan dalam buku ini merangkum penggalan kecil interaksinya dengan Leeds dan Inggris. Buku ini mewakili apa-apa saja yang menurutnya menarik dari Inggris: buku, sepakbola, sejarah, dan politik.

Remora

Rp 40.000 Rp 36.000

Menjadi pelaut yang mengarungi perairan Indonesia, seorang pemuda berusaha mengenali seluk beluk profesinya. Remora kadang berhadapan dengan predikat yang tak mengenakkan dan menguntungkan dirinya. Namun ia tetap menjalani dan menikmati pengalamannya. Dengan kesediaan mendudukkan diri di tengah lingkungan manapun, Remora justru kian paham dirinya sendiri dan pilihan-pilihannya. Tugas kerja, perjumpaan dengan orang-orang baru, asmara, pertemanan, dan keindahan pemandangan alam melengkapi kisah-kisah pelayaran Remora dan awak-awak kapal lainnya.