artikel, Kolom

Kematian Toko Buku Van Dorp

Pada awal abad 20, di Semarang pernah ada sebuah toko buku terkenal bernama Van Dorp. Lengkapnya G. C. T. van Dorp & Co. Letaknya di Kota Lama, di depan gedung lama Javasche Bank. Selain menjual buku, Van Dorp juga berperan sebagai penerbit. Sulit rasanya untuk menemukan catatan yang menyebutkan bahwa toko buku ini berbasis di Batavia (Jakarta) dan memiliki cabang di Bandung, Semarang, dan Surabaya dengan distribusi mencakup seluruh Hindia Timur. Namun Asrul Sani dalam buku Arief Budiman yang berjudul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan menceritakan kisahnya bersama Chairil Anwar tentang Toko Buku Van Dorp. “Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku yang sekarang menjadi kantor perusahaan Astra. Toko buku itu adalah Kolf dan Van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak. Saya dan Chairil sering mengutil buku-buku di sana,” kata Asrul Sani dalam buku tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kejayaan toko buku ini pun berakhir. Takdir membawa Van Dorp mengalami nasionalisasi setelah orang-orang Belanda melakukan repatriasi seiring berjalannya konflik Indonesia dengan Belanda di Papua Barat. Si pemilik baru nampaknya tidak bisa memanajemen toko buku sampai akhirnya Van Dorp mengalami kemunduran dan gedung pusatnya di Jakarta diambil alih oleh Sarinah Internasional. Sedangkan gedungnya yang berada di Semarang diambil alih oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), namun sekarang tidak lagi digunakan dan terbengkalai. P. K. Ojong, pendiri Harian Kompas, salah satu koran terkemuka di Indonesia menulis tentang hal ini. Baginya, kematian Toko Buku Van Dorp adalah salah satu bukti kegagalan kebijakan nasionalisasi.

“Jiwa dari sebuah perusahaan tidak terletak pada bangunan, furnitur, mobil, truk maupun arsipnya, melainkan pada pemimpinnya. Apa yang sebenarnya kita lakukan pada Toko Buku Van Dorp? Para ahli kita singkirkan ke luar negeri. Yang tersisa bagi kita hanya bangunan, furnitur, mobil dan sebagainya. Kita telah menghilangkan ruhnya dan menyisakan benda mati untuk dimiliki,” kata P.K. Ojong.

Ketika nasionalisasi membawa atmosfer emosional yang didasari kebencian dan dendam tanpa mempertimbangkan kebaikan dan manajemen yang profesional, hal itu tidak lagi memiliki arti. Seperti takdir Toko Buku Van Dorp, dilupakan dan tak seorangpun menegenalinya lagi.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.