Beranda » Setyawan Samad

Tampilkan hasil tunggal

Show sidebar
-8%Sold out
Close

Banda Neira Dalam Perahu

Rp 50.000 Rp 46.000

Membaca Kumpulan Puisi Banda Neira Dalam Perahu,
saya menjadi percaya bahwa Setyawan Samad tidak ingin
Banda Neira “tamat” dalam perahu masa lalu. Puisi-puisi
dalam buku ini berhasil membawa saya kepada dua tempat
yaitu Lautan dan Hutan. Saya pergi ke lautan ketika
Setyawan menulis tentang Banda dengan aroma Banda,
ombak Banda, arus Banda, perahu Banda, ikan-ikan
Banda, tentang tanda-tanda, resiko-resiko yang lalu lalang
dari realita sesungguhnya Banda Neira saat ini.

Setyawan membawa saya ketengah laut biru,
menenggelamkan saya dengan metafora yang dalam, lalu
menarik saya dengan jaring kenyataan untuk menyadari
bahwa lautan bukan hanya tempat berlayar untuk
menangkap ikan atau menangkap kecantikan saja. Jutru
Banda danLautannya adalah rumah yang tua dan kesepian,
penuh gelisah dan kekuatiran, kalau-kalau orang datang
berkunjung dan mencuri tiang-tiangnya.

Setyawan juga membawa saya ke hutan rimba. Membuat
saya tersesat dengan harum pala yang perempuan, fuli
yang membuat saya tuli untuk mendengar dunia dan hanya
mau mendengarkan bisikan-bisikan perempuan. Lalu saya
terjebak dalam jalan-jalan setapak yang ia tuliskan dengan
mesra hingga lena pada Belgica yang dinding-dindingnya.
Tetapi, bukan itu sesungguhnya maksudnya. Setyawan
sebenarnya tengah mengkritik kehidupan masyarakat
Banda dengan cara yang paling romantis.

Puisi-puisinya adalah pedang mata terbalik yang tidak
cukup dilihat dengan mata, melainkan dengan perenungan
yang lebih realistis. Ia bahkan berbicara tentang
kolonialisme yang masih terus berlangsung di Banda,
dengan berbagai sisi kehidupan yang terus saja terjajah
dengan pikiran, aturan, dan zaman. Saya menyadari,
bahwa membaca kumpulan puisi ini, tidaklah mesti
bermandikan air mata, melainkan bermandikan lautan
Banda. Tidaklah perlu memanen kesedihan, sebab yang
ditanam bukanlah kekalahan dari sejarah. Tidaklah mesti
menjadi patah, melainkan menjadi lebih kuat dari pada
kata. Kumpulan Puisi ini membuat saya menjadi lebih kuat
dalam mencintai Banda. Memang, puisi-puisi tidak boleh
kehilangan dirinya dalam keindahan, namun keindahankeindahan
itu pun tak boleh menghilangkan kenyataan.

Sungguh sangat berbeda mengenal Setyawan
Samad pada hari kemarin dengan Kumpulan Puisinya ini,
sebab terasa kecintaannya pada Banda merasuki semua
puisi-puisinya. Banda Neira adalah surga yang dikejarkejar
oleh manusia sekaligus dengan setan-setan mereka,
sedangkan kumpulan puisi ini adalah pengingat untuk
berjaga-jaga dan senjata untuk melawan. Akhirnya,
setelah berperahu dan menyusuri rimba puisi-puisi ini, aku
tidak menemukan seekor pun ikan atau pepohonan pala.
Aku justru menemukan seorang penulis yang benar-benar
mencintai tanahnya. Selamat merenungkan kawankawan,
jangan berhenti melawan.

Jakarta, 14 Desember 2018
Eko Saputra Poceratu