Cerpen

Cerpen: Kutukan Kurir Kematian–Sungging Raga

Aku adalah kurir kematian, aku bertugas memberi tahu se seorang bahwa dalam jangka waktu beberapa hari ke depan ia akan mati.

Pekerjaan sebagai kurir kematian sudah diwariskan secara turun-temurun di keluargaku sejak ratusan tahun yang lalu. Semua b erawal dari Oxymora, kakek moyangku, yang dahulu adalah seorang pedagang bakso keliling, tapi kemudian lebih suka menghabiskan hidupnya dalam gua terpencil di daerah pe-gunungan. Banyak yang menduga ia bersemadi di sana, meniti jalan untuk mendapatkan ilmu kesaktian, padahal ia hanya ingin tinggal di gua itu demi menemani seorang gadis misterius.

Kejadian bermula saat Oxymora sedang mendorong gero-bak baksonya di lereng gunung, tiba-tiba ia melihat sosok seorang g adis yang memanggil-manggilnya, “Bakso!” Oxymora pun mendekat, g adis itu lantas mengajaknya masuk ke dalam gua untuk makan bakso bersama, tetapi tak disangka, Oxymora seperti tersihir, ia justru jatuh hati pada gadis itu dan tak mau kembali ke kampung.

Sejak saat itulah Oxymora hidup di gua. Gadis itu bernama Kunnaila, tak diketahui asal-usul ia sebelumnya. Beberapa kitab sejarah menjelaskan bahwa Kunnaila adalah gadis desa yang pernah bernazar untuk pergi ke gua itu, dan siapa pun yang muncul maka akan menjadi pasangannya. Maka beruntunglah Oxymora, karena Kunnaila serupa peri berkulit kaca.

Tahun demi tahun pun begitu cepat berlalu, keduanya hidup bersama dan menghasilkan banyak keturunan. Gua itu ternyata kedap waktu, usia Oxymora tidak bertambah, begitu pula usia Kunnaila, hidup mereka seperti diawetkan. Kunnaila lantas melahirkan bayi-bayi mungil yang lucu, satu kelahiran per tahun. Hingga di tahun ke-100, lahirlah 100 bayi yang tetap berupa bayi, tidak ada pe r- tumbuhan. Gua tersebut mulai tak cukup untuk menampung keluarga besar Oxymora, apalagi langit-langitnya juga seringkali ber-guncang, seperti bisa long-sor kapan saja.

Akhirnya Oxymora membawa serta istri dan 100 anaknya t urun ke desa, di mana tentu penduduknya sudah berganti. Ada sebuah gerobak besar yang dipakai untuk membawa 100 bayi itu. Sayang sekali, kedatangan mereka tidak diterima oleh warga.

“Kalian keluarga pemberontak yang dibuang penguasa, ya?” B egitu dugaan sang Kepala Desa. Oxymora terkejut de-ngan tuduhan itu, awalnya ia hanya berharap dituduh sebagai rombongan pengungsi atau pengembara. Ia benar-benar tidak mengerti siapa itu ‘pem-berontak yang dibuang penguasa’.

Karena tak kunjung mendapat tempat di dunia luar, anak-anak Oxymora perlahan meninggal, satu demi satu, karena kelaparan dan tangis yang tanpa henti. Sementara tak ada yang mau mem beri Oxymora pekerjaan, ia jadi sibuk menghadapi kematian dan p emakaman. Ketika anak-anaknya mulai habis, Kunnaila tiba-tiba pergi begitu saja, ada catatan yang menye-butkan bahwa Kunnaila selingkuh dengan seorang tokoh yang disegani, ada juga catatan lain yang m engatakan bahwa Kunnai-la kembali ke gua karena rindu temp at tinggalnya d ahulu, tapi tak satu pun dari catatan itu yang bisa d ipercaya, karena me-mang masyarakat kami sejak dahulu dikenal suka menambah-nambahkan sejarah. Yang pasti, sejak ditinggal pergi Kunnaila, Oxymora menjadi sangat kesepian. Ketika 99 anaknya mati dan tinggal seorang bayi lelaki, ia mati-matian mencari pekerjaan. Akhirnya ia mendapatkannya ketika melamun di tepi Sungai Serayu. Entah bagaimana tiba-tiba muncul sesosok lelaki yang mengambang di te ngah aliran air yang deras itu.

“Aku bisa memberimu pekerjaan,” kata sosok itu pada Oxy-mora.

“Benarkah?”

“Ya. Kau akan kuangkat menjadi kurir kematian.”

“Kurir kematian?”

“Benar. Tugasmu sebenarnya mudah, hanya memberitahu orang-orang ketika kematian mereka akan tiba.”

Oxymora yang saat itu sudah nyaris putus asa, segera me-nerima saja tawaran itu. Sebagai bayaran awal, sosok itu lang-sung memberi Oxymora rumah di dekat bekas bendungan. Rumah itu cukup bagi Oxymora untuk merawat bayi satu-satunya.

Dan pagi harinya, mulailah Oxymora memahami tugasnya, di pintu depan, ia mendapat kiriman segulung kertas berisi nama orang yang dijadwalkan mati. Oxymora harus mencari orang itu dan memberitahu bahwa usianya sudah dekat. Kiriman itu datang rutin hampir setiap hari. Bagi Oxymora, hal itu sangat mudah, ia bahkan tidak peduli dengan reaksi orang-orang yang ia kabarkan kematiannya, entah percaya atau ti-dak, kadang ada yang senang karena telah diingatkan, kadang justru marah, tapi karena banyaknya keperca yaan ganjil bere-dar saat itu, pekerjaan kurir kematian dianggap wajar. Oxy-mora mendapat bayaran per minggu. Perlahan hidupnya pun berubah, ekonominya pulih, kesepiannya akan kepergian Kunnaila telah terobati, anak lelakinya tumbuh sehat dan hidup normal sebagai warga biasa.

Dan setelah Oxymora meninggal, pekerjaan itu terus di-turunkan pada anak cucunya, sampai akhirnya, ratusan tahun kemudian, tiba padaku.

Jadi, sekarang aku adalah kurir kematian, tugasku member-itahu seseorang bahwa dalam beberapa hari ia akan mati. Setiap pagi aku menerima amplop misterius tentang siapa-siapa yang sebentar lagi mati. Biasanya orang-orang di amplop itu beral-amat tak jauh dari kota asalku.

Namun pekerjaan ini justru membuatku menderita. Ada dua hal yang membuat pekerjaan sebagai kurir kematian men-jadi sangat s ulit. Pertama, kabar ini ternyata tak selalu benar, kadang aku memberitahu seseorang akan mati tiga hari ke-mudian, ternyata sampai tiga tahun ke depan orang itu tak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari dunia ini. Kedua, aku seringkali diburu orang-orang yang menganggapku sen-gaja menebar teror, bahkan dituduh menyiapkan pembunuhan berencana.

Aku tidak tahu bagaimana Oxymora dan keturunannya bisa bertahan dengan pekerjaan semacam ini, gajinya memang lu-mayan, aku mendapat berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu dalam a mplop yang seperti dikirimkan dari langit, tapi menurut keteran gan di kertas kecil yang menyertainya, uang itu harus cepat dibelanjakan atau ditabung di bank, karena jika tidak, semua lembaran uang tersebut akan berubah jadi daun.

Perlahan tapi pasti, tekanan demi tekanan, ancaman demi a n caman atas pekerjaan ini, membuatku depresi dan berulang kali datang ke psikiater, tapi aku tak menceritakan perihal kurir kematian pada psikiater itu. Aku justru menceritakannya pada Sumiati, seorang mahasiswi kedokteran semester akhir yang diam-diam kucintai.

Ketika kuceritakan semuanya pada Sumiati, ia terkejut.

“Kau harus berhenti dari pekerjaan aneh itu. Bahkan di

Wikipedia pun tak ada referensi untuk itu.”

“Tapi ini sudah pekerjaan kakek moyang secara turun-temurun.”

“Jangan terlalu serius dengan masa lalu. Zaman selalu berubah. Kau harus hentikan itu.”

Aku turuti nasihat Sumiati. Aku mulai membiarkan am-plop- amplop itu, setiap pagi aku langsung membuangnya ke tempat pembakaran. Dan perubahan nasibku semakin men-emukan titik cerah saat aku diterima bekerja sebagai pengantar pizza, semua itu berkat bantuan Sumiati yang punya hubungan dekat dengan pemilik pizza—akhirnya kuketahui bahwa Su-miati adalah tunangannya.

Gaji pekerjaan ini memang tidak seberapa, tapi aku lega karen a tidak lagi dilanda depresi. Lama-kelamaan aku pun ber-hasil meninggal kan pekerjaan kurir kematian secara total. Itu ditandai dengan sudah tak adanya kiriman amplop misterius, dan saldo tabunganku di bank selama menjadi kurir kematian tiba-tiba raib, konon dikuras oleh pembobol ATM.

Selanjutnya aku seperti menata hidup baru yang bebas dari k utukan. Aku selalu bisa mengantar pizza dengan lancar, mendapat senyuman gadis-gadis dan uang tip. Segalanya terasa menyenangkan, sampai suatu hari, aku mendapat alamat yang aneh.

“Antar pizza super ini. Alamatnya di lereng gunung. Ini pe-tanya,” kata bosku. Baru kali ini aku mendapat alamat sebuah peta, bukan nama jalan, nomor rumah, atau nama gang.

Aku pun segera berangkat. Butuh satu jam bagiku untuk mendekati daerah yang telah ditandai dalam peta, tapi ketika sampai, yang kulihat di sekelilingku hanya ilalang tinggi, bukit-bukit curam, jalan setapak…

Dan sebuah gua.

Aku segera memasuki gua itu karena yakin itulah tempat yang ditandai dalam peta. Dan betapa mengejutkannya, di dalam gua, aku justru melihat seorang gadis yang kecantikan-nya akan kuceritakan lain waktu kalau sempat. Yang pasti, ia seakan telah menungguku, menghias wajahnya dengan lipstik, bedak, eyeshadow, dengan komposisi yang pas seperti foto gadis sampul.

“Ah, akhirnya pizzaku datang juga,” ia berkata sambil mem-buka kotak pizza.

“Apa Mbak yang memesannya?”

“Tentu.”

“Tapi di sini tak ada sinyal telepon.”

“Untuk apa telepon? Aku tadi berjalan sendiri ke toko pizza, dan memintanya diantar kemari.” Ia mencolek permu-kaan pizzadengan telunjuknya, lalu untuk mencicipi dengan lidahnya. Adegan itu terasa begitu lama bagiku, sampai aku sepenuhnya sadar bahwa aku benar-benar tertarik pada gadis ini. Aku masih berdiri dan terpaku untuk beberapa saat. Pizza itu telah dibukanya dan diletakkan di atas meja kecil yang di-hiasi beberapa lilin.

“Kenapa berdiri saja? Ayo duduk, aku ingin makan bersa-mamu wahai Pemuda, eh, siapa namamu?”

“Em, Sami, namaku Sami Hinka.”

“Sami Hinka? Hm. Orangtuamu pasti penggemar En-siferum.” Ia berkata sambil memberikan sepotong pizza kepadaku, seperti a degan di acara ulang tahun. Sekarang aku seperti tersihir, aku langsung bertekad untuk tinggal di gua ini agar bisa menemaninya, p esonanya membuatku tak ingin kembali. Aku benar-benar tidak ingin kembali. Aku bahkan berharap mulut gua tiba-tiba longsor sehingga aku bisa terkurung bersa-manya dan tidak perlu keluar.

“Lho. Melamun saja. Ayo, dimakan pizzanya, mumpung masih hangat.”

“Oh, iya.” Sepertinya ia tahu kalau aku memikirkannya. Aku m ulai menggigit pizza itu dengan perlahan. “Em, kalau Mbak, siapa namanya?” tanyaku.

Sambil menuangkan segelas air dan memberikannya pada-ku, ia menjawab, “Kunnaila.”[]

 

Sungging Raga adalah penulis buku cerita Sarelgaz. Cerpen ini adalah salah satu cerpen dalam Sarelgaz.

Related Posts

Tinggalkan Balasan