Kolom, Resensi

Catatan di Balik Layar

Untuk menghasilkan karya yang berkualitas, dibutuhkan proses yang serius.

Catatan Mantan Playboy adalah buku pertama gue. Buku pertama yang mengalami proses cukup panjang, dari pertama kali dituliskan, dibaca banyak orang di suatu forum penulisan, sampai mendapat kritik pedas dari beberapa penyunting buku. Tapi dari kritikan mereka, gue dapat pelajaran yang begitu bermakna sebagai seorang penulis belia. Penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, struktur kalimat/paragraf, logika alur cerita, dan lain-lain. Kritikan itu akhirnya membuat gue sadar, bahwa menulis itu harus serius.

Sebelum menerbitkan buku di Indie Book Corner, gue terlebih dahulu bertemu dengan Irwan Bajang selaku kepala gerombolan kuli buku. Doi bilang, “perjalanan menulismu itu masih panjang. Coba lihat bagaimana tulisanmu 5 sampai 7 tahun ke depan.” Selain  itu, Bung Irwan juga mengatakan kalau menerbitkan buku itu mudah. Nyatanya memang mudah. Gue cuma perlu menyelesaikan naskah, mengirimnya ke redaksi, lalu bersiap dengan catatan merah dari penyunting.

Catatan merah adalah hasil koreksi dari penyunting. Dulu, sebelum menjadi buku, Catatan Mantan Playboy penuh oleh catatan merah di sebelah kanan naskah. Tapi catatan merah itu adalah arahan dari penyunting. Gue anggap arahan itu kayak tantangan, bisa atau engga gue memperbaiki naskah buku pertama yang gue perjuangkan ini. Revisi! Revisi! Revisi! Setelah naskah itu okay sebelum diangkat cetak, dan gue baca ulang, Catatan Mantan Playboy jauh lebih asyik dibaca dari pertama kali naskah itu dituliskan.

Beberapa teman gue bertanya, “kenapa lo milih menerbitkan buku di penerbitan indie? Kenapa lo engga coba dulu ke penerbitan mayor?” Sebelumnya gue pernah mengirimkan naskah ke sebuah penerbit mayor, tapi engga bisa diterbitkan oleh penerbit tersebut. Gue menerima alasan kenapa mereka menolak, ya mungkin pasarannya beda. Gue sadar betul kalau waktu itu naskahnya memang belum sesuai dengan standar penerbitan. Lagi pula, apa salahnya kalau gue menerbitkan buku lewat jalur mandiri? -Kan prosesnya sama saja-

Kalau ada orang yang tanya perbedaan penerbitan mayor dengan indie, maka jawaban dari pertanyaan itu adalah di jumlah cetakan dan pasar yang lebih spesifik. Dua-duanya memang engga bisa dibandingkan, karena mayor bergerak di dunia industri besar. Penyuntingan naskah, penataan letak, penyelarasan aksara (proof reading), perancangan sampul buku—engga cuma dikerjakan di penerbitan mayor. Tapi di penerbitan indie juga mengalami proses yang sama. Jadi, menurut gue, hubungan seorang penulis dengan penyunting memang harus ‘romantis’. Kenapa begitu?

Ketika tangan seorang penyunting telah menyentuh naskah (ceileeeh, udah kayak penyair, belum? He he he…), seorang penulis berhak mengetahui kekurangan naskahnya, apalagi kalau doi baru pertama kali menerbitkan buku. Manusia engga luput dari kesalahan. Maka dalam hal penyuntingan, penulis, dan penyunting memegang peranan yang cukup besar. Seorang penyunting buku engga bisa begitu aja membabat habis (duh, kayak pohon-pohon di Kalimantan ya?) tulisan tanpa izin dari penulisnya. Tapi yang gue rasakan di Indie Book Corner, penyunting mereka memang selalu membimbing dan mengambil langkah-langkah diskusi bersama penulis sebelum naskah diangkat cetak.

Menerbitkan buku di Indie Book Corner itu unik dan ekonomis. Unik kenapa? Hayo, kenapa? Gini. Menurut gue Indie Book Corner merangkul penulis-penulis yang bermimpi ingin menjadi seorang penulis. Selain merangkul (ceileeeh udah kayak adik kelas aja…he he he), mereka juga membimbing penulis kayak lagi belajar di pesantren (memang ada ya pesantren khusus penulis? He he he). Selain unik, ternyata menerbitkan buku di Indie Book Corner itu ekonomis banget, lho! Jasa yang ditawarkan beragam, ada penyuntingan, penataan letak, perancangan sampul buku dan ISBN, serta pendistribusian buku, tentu dengan biaya yang tidak mencekik leher dompet saya. Sekadar info saja, nih. Mengerjakan penyuntingan saja bisa juga, lho. Penataan letak saja? Bisa. Merancang sampul sendiri? Bisa juga! Enak, tho?! He he he.

Banyak hal baru yang gue tahu dan dapatkan setelah menerbitkan buku di Indie Book Corner. Dari naskah gue masuk ke dapur redaksi, digoreng, dibumbui, sampai pada akhirnya bisa dihidangkan ke pembaca (jangan lupa dicicipin, ya! satu porsi cuma Rp 63,500! Ciyeee promosi). Gue yang tadinya engga tahu apa-apa tentang dunia perbukuan, gimana ngejualnya, gimana peluncurannya, dan lain-lain, sekarang gue tahu semua itu!

Kalian yang bermimpi ingin menjadi seorang penulis. Kalian yang ngerasa bahwa naskah yang ditulis dengan berdarah-darah itu layak untuk diterbitkan. Tugas kalian hanyalah menulis dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain. Satu lagi, nikmatilah dan belajar dalam prosesnya. Terima kasih, Indie Book Corner. Terima kasih untuk teman-teman yang membantu penerbitan buku gue dengan ‘cuma-cuma’ maupun dengan modal kepercayaan. Gue percaya kalau setiap orang bisa menjadi seorang penulis. Gue percaya kalau sebuah buku engga perlu laris, tapi yang paling penting bisa bermakna bagi para pembacanya. Begitu pula Catatan Mantan Playboy. Harapan gue, semoga buku ini bermanfaat untuk kalian yang membacanya sampai halaman terakhir.

“Sebesar dan setinggi apapun cita-citamu, tidak akan berarti jika kamu tidak berusah keras mewujudkan.” — Salam hangat, Tri Em, penulis Catatan Mantan Playboy.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.