Cerpen

Barista Cantik 

Setiap malam bayangan masa lalu yang selalu ingin kuubah dan keresahan akan masa depan menari-nari di pikiranku. Selalu di sudut sebuah kafe kecil ini semua hal tadi berdatangan seperti kecelakaan beruntun. Belakangan aku memang suka keluar sampai larut malam. Duduk di kafe yang kopinya sangat enak dan memiliki barista cantik. Aku jarang sekali meminum kopi yang disajikan oleh barista perempuan. Caranya membuat kopi begitu anggun di samping keluwesannya sebagai seorang barista.

Perempuan itu bernama Nita. Sudah dua tahun dia membuka kafe kecil ini dan bekerja sebagai barista. Nita memiliki tiga pegawai, Doni, Heru dan seorang lelaki paruh baya yang turut membantu mengelola tempat ini. Aku sering duduk di depannya sambil menikmati kopi dan mengobrol tentang apapun. Kafe ini sepi, maksudku tidak terlalu banyak pengunjung dan rata-rata pengunjungnya adalah benar-benar penikmat kopi.  Nita sendiri yang mendekorasi kafe ini. Kursi-kursi kayu yang mengilap karena dipernis dengan baik tertata rapi. Di sebelah pintu masuk kafe terpajang sepeda tua berwarna hitam dan dindingnya dipajangi sampul beragam buku dalam bingkai pigura. Di samping kopinya yang enak, hal yang pertama kali membuatku jatuh hati pada tempat ini adalah pigura-pigura itu. Jika tidak ramai pelanggan, aku sering menemukan Nita sedang bersama buku. Ya, dia pembaca yang rakus.

Ketika pertama kali bertemu, Nita yang menghampiriku di sudut kafe. Waktu itu aku sempat tergagap mengetahui ada perempuan menghampiriku. Aku belum tahu kalau dia barista sekaligus pemilik kafe itu karena sebelumnya yang membuatkan kopiku adalah Doni. Maklum, seumur hidup aku hanya satu kali menjalin hubungan dengan seorang wanita, itu pun sudah tiga tahun yang lalu. Sampai saat ini aku masih suka sendiri dan sedikit canggung jika berada di dekat wanita. Aku lebih nyaman duduk bersebelahan dengan sebuah buku ketimbang duduk di sebelah wanita, kecuali Nita. Tentu saja setelah mengenalnya.

“Buku kurang ajar. Aku sudah membacanya dan tidak mau berhenti sampai selesai,” katanya tiba-tiba sambil memperkenalkan dirinya.

“Karena drama di dalamnya?” tanyaku.

“Ya, drama yang tidak pernah diberikan Carver kecuali meninggalkannya di kepala kita sampai kita mengutukinya sendiri.”

Aku tertawa, sebab aku merasakan hal yang sama ketika membaca kumpulan cerita What We Talk About Love When We Talk About Love.

*

Malam itu ada hal paling dasar yang menjadi beban bagi pikiranku. Mengikutiku seperti detik waktu yang tak pernah berhenti, hanya perlu kunikmati atau kulawan. Pekerjaan. Ya, pekerjaan. Sudah enam bulan aku hidup tanpa pekerjaan dan hanya mengandalkan uang simpanan dari kiriman ibuku di kampung. Apa yang diharapkan dari lelaki pengangguran sepertiku?

Setelah lulus kuliah enam bulan lalu, aku seolah tidak merasakan gairah apa pun kecuali membaca buku dan minum kopi bersama Nita. Dialah satu-satunya teman yang masih kurasa nyaman untuk bicara. Aku pernah berpikir untuk pulang ke kampung halaman, menemui ibuku dan mencari pekerjaan di sana. Namun kuurungkan niat itu. Aku ingin menjadi penulis dan aku tidak ingin pulang kampung. Menjadi penulis memang tidak relevan dengan kuliahku yang mendalami soal pendidikan meski kadang aku masih saja melakukan pembenaran. Tapi bagaimana pun penulis bukanlah profesi yang bisa diterima di masyarakat seperti seorang pegawai bank yang bekerja dari pagi sampai gelap atau bekerja sebagai pegawai negeri yang hanya menjadi bahan cemoohan dan bahan sanjungan di lain kelas masyarakat. Aku tidak ingin seperti itu.

Selalu setelah berkutat dengan hal seperti itu, Nita mengejutkanku dengan menepuk pundakku dari belakang. Suaranya yang rendah mengatakan, “Bara, lakukan yang kamu suka.”

Aku suka kalimat itu meluncur dari balik bibirnya yang tipis dan kemerahan. Dia seperti teman yang memahami jalan pikiranku. Kujawab dengan senyum pun dia pasti akan mengerti. Persahabatan kami bukanlah tanpa alasan. Kami memilih berteman karena kami mencintai buku melebihi cinta kami kepada lawan jenis. Hubungan dengan segala hal remeh temeh tidak pernah benar-benar kami pikirkan kecuali mengomentari hubungan orang-orang yang tidak bahagia. Kadang kami mengomentari kehidupan kami juga ketika sedang tidak bahagia, sekedar berusaha berlaku adil saja.  Di luar penampilannya, Nita tampak bahagia. Memiliki sebuah kafe, cukup uang untuk bertahan hidup dan yang paling penting adalah kesendirian. Katanya, sendiri itu membahagiakan tanpa terikat hubungan yang memiliki aturan.

“Buku tempat pelarian ternyaman dari segala hingar bingar dunia, Bar,” katanya.

Aku setuju sepenuhnya. Buku serupa labirin yang sengaja kita masuki untuk tersesat bukan untuk mencari kebahagiaan. Sisi lain yang sengaja kita cari ketika kita bosan menjalani sisi sebelahnya. Nita yang selalu mendorongku untuk tetap menulis. Kalau aku sedang tidak membaca, dia akan menyuruhku menulis dan menemaniku duduk di sebelahku tanpa bicara apapun. Matanya yang bening melihat tanpa ada keinginan memprotes tulisan yang sedang kukerjakan. Kadang dia membantuku menulis resensi buku untuk dikirimkan ke media dan dia tidak pernah meminta imbalan apa pun. Berkat Nita aku bisa mendapat uang untuk jajan kopi dan buku dari menjual tulisanku ke beberapa media. Tidak banyak,  tapi cukup untuk mengisi perutku akhir-akhir ini.  Nita memiliki senyum tipis seolah mengguratkan kesedihan di baliknya. Sorot matanya tidak setajam yang kulihat dari foto lawas di rumahnya. Empat tahun lalu dia ditinggalkan calon suaminya tepat sehari sebelum hari pernikahan demi seorang janda kaya. Itulah saat di mana Nita berada pada titik paling jatuh di dalam hidupnya. Karena itu, dia tidak percaya berhubungan dengan lelaki kecuali aku, Donny dan Heru.

Saat aku kembali ke kafe itu malam-malam berikutnya, aku mendapati Nita sedang duduk memeluk kakinya sendiri di dapur kecil dekat dengan gudang penyimpanan barang tak terpakai. Nita menenggelamkan wajahnya di antara lutut, terisak menahan tangis. Aku kembali ke depan memesan secangkir latte kepada Heru. Kutarik bangku di depan meja panjang, meletakkan tasku dan bertanya kepada Heru “Ada apa dengan Nita?”

“Enggak tahu, Bar. Sudah setengah jam dia di dapur dan bilang ‘jangan diganggu’.” Heru menjelaskan sambil membuat kopi.

Aku mulai bertanya-tanya sendiri. Kurasa, lebih baik mendiamkan Nita untuk sementara. Malam itu pengunjung tidak terlalu ramai hanya beberapa orang saja.

Di luar sedang gerimis, kaca-kaca jendela berembun dan hanya memperlihatkan sedikit peristiwa di luar. Hanya bayang-bayang orang lewat dengan payung di tangan kanan dan tangan orang tersayang di tangan kiri mereka. Berjalan menyusuri hujan di jalanan trotoar berlubang dan penuh genangan air bukanlah ide yang bagus. Kecuali seperti orang-orang tadi yang memiliki hal yang lebih patut dikhawatirkan selain lubang dan genangan itu.

Mataku melihat ke arah dapur tak berpintu. Malam ini aku tidak bisa meyakini diriku untuk tidak khawatir tentang Nita. Satu—dua pengunjung mulai pergi meninggalkan kafe, hanya tersisa beberapa orang saja. Jam di dinding bercat cokelat di antara sampul buku Ulysses dan The Old Man And The Sea menunjukkan hampir pukul sebelas. Sebentar lagi kafe itu akan tutup dan Nita masih mengasingkan dirinya di dapur yang berdebu itu. Entah apa yang dia lakukan sekarang. Masih menangis atau sedang termenung, aku tidak tahu

Tirai jendela yang ditarik Heru dan Doni berderik menyayat telinga. Beberapa kursi dirapikan dan dilap dengan penyemprot menggunakan kain kota-kotak. Aku memberi isyarat kepada Doni untuk membereskan mejaku dan memberitahu mereka tidak perlu menunggu Nita. Mereka berpamitan lantas mengenakan jas hujan untuk menerebos gerimis dan dinginnya Jakarta.

Sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding dan bising kendaraan dari jalan raya yang merayap masuk. Aku menghampiri Nita di dapur. Dia masih duduk membenamkan wajah di kedua lututnya, menahan isak tangis. Rambutnya yang biasa dikuncir ekor kuda kini tergerai anggun. Nita masih tidak mengeluarkan sepatah kata. Kuputuskan menunggunya di luar sambil membaca.

Baru beberapa halaman, buku Knut Hamsun yang kubaca terjatuh di lantai setelah Nita mengejutkanku dengan pelukannya. Matanya yang masih basah terlihat jelas. Tangannya semakin erat memeluk pinggangku dari samping, wajahnya dibenamkan di rusukku sebelah kanan. Air matanya meninggalkan bercak di bajuku sementara nafasnya terasa panas di dadaku. Tangannya yang halus masih mengikatku dengan kuat.  Sempat aku bertanya kenapa namun dia tidak menjawab. Bukankah tidak menjawab adalah jawaban itu sendiri? Masih terkejut dengan kejadian itu, kejadian lain datang begitu cepat seperti angin yang lewat. Semua sudah terjadi bahkan sebelum aku mengerti bagaimana ini bermula . Bibir kami bertemu dan membuat sensasi yang berbeda jika dilakukan sebagai teman. Aku tidak mengerti kenapa Nita melakukan itu dan aku lebih tidak mengerti kenapa aku tidak sanggup untuk menolaknya. Bibirnya yang tipis menguasai separuh pikiranku. Basah menjamah setiap garis di bibir kami. Rasa asin bekas air mata Nita yang masih menempel di bibirnya dapat kurasakan dengan jelas seolah Nita ingin menyampaikan sesuatu yang tidak kusadari dan tidak kumengerti. Kami saling membalas setiap sentuhan.

Nita masih menjadi misteri bagiku dan malam yang sedang diguyur gerimis. Hanya wangi parfum milik Nita yang menempel di penciumanku mengalahkan aroma debu dan wangi hujan semalam. Hal terakhir yang kulihat adalah pakaian kami yang berserakan di atas tumpukan kardus minuman di dekat pintu gudang—di sebelah dapur ketika matahari pagi masuk melalui jendela tepat jatuh menyinari sampul buku Hunger milik Knut Hamsun.

Malamnya aku kembali lagi ke kafe milik Nita untuk mencari penjelasan tentang kejadian semalam. Kutemukan pintu kafe tertutup. Aku bertanya-tanya perihal ini, kurasa aku jatuh cinta pada Nita.  Kuputuskan menyusul ke rumah Nita  demi sebuah kejelasan. Rumah berukuran sedang itu terlihat gelap dari luar tapi aku yakin dia ada di dalam.

Setelah kugedor pintu yang terbuat dari kayu mahoni itu, Nita keluar dengan setelan baju tidur. Di depan pintu, ketika bulan masih malu-malu bersembunyi di balik awan hitam, kukatakan, “Aku mencintaimu.”

Dia bergeming. Kulihat bibirnya berusaha bergerak mengatakan sesuatu yang kutahu adalah menjadi kalimat paling kubenci.

“Aku tidak mencintaimu. Aku mencintai orang lain,” katanya seolah lupa dengan kejadian semalam. Merasa tak terima dengan jawaban itu, kugenggam bahunya kuat-kuat.

“Oh, bagus. Apa semalam kau tidur dengan orang yang tidak kau cintai, Nita?!”

Tiba-tiba tubuhnya bergetar seperti ingin meluapkan kemarahan. Dia berteriak,

“Kau tidak tahu masalahku, Bara! Tidak. Tidak satu pun! Aku tidak mencintaimu. Tadi malam aku menyadari bahwa aku tidak merasakan apa pun padamu. Kita berbeda, Bar! Aku sudah tidak percaya semua laki-laki.”

“Lantas mengapa kau memulainya Nit? Kenapa? Kalau kau ingin mengakhirinya seperti ini!” teriakku.

Nita menitikkan air mata, nafasnya memburu. Dia tetap perempuan yang mudah menangis sebaik apa pun dia berusaha menyimpannya.

“Tidak, Bar. Sudah kukatakan, kau tidak tahu. Aku tidak mungkin mencintai laki-laki lagi. Aku lesbi, Bar. Aku sudah berusaha mengenyahkan pikiran ini kemarin. Dan aku tidak merasakan apapun dari sentuhanmu selain kekosongan dan kengerian yang menggerogoti pikiranku.”

Mendengar pernyataan itu, kulepaskan tanganku dari bahunya. Aku pulang tanpa menengok ke belakang. Sementara mataku mendadak basah dan darahku mendidih. Kuharap, dia tidak bertemu polisi moral. Nita perempuan yang kucintai itu. Dia mencintai perempuan.

Tentang Abdul Rajib

Biasa dipanggil Rajib. Kelahiran Medan, 29 Januari 1991 dan sekarang sedang menetap di Jambi. Saya lulusan akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi. Tiga tahun belakangan saya mendapat masalah bahwa saya baru menemukan minat di dunia literasi dan tidak menyukai akuntansi yang penuh angka itu. Tapi apa boleh buat, toh saya sudah lulus. Sejak 20 Agustus tahun lalu, saya membuka Lapak Baca Jambi. Sebuah gerakan literasi di kota Jambi dengan membawa buku ke ruang publik untuk dibaca dan dipinjam secara cuma-cuma. Omong-omong, saya pengin jadi penulis.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.