Akurapopo, Di Warkop, dan Beberapa Puisi Astrajingga Asmasubrata Lainnya

Akurapopo

​Kesepian siapa pun sekadar kesiapan
Ihwal lamun yang mengelumun betak
Benak. Berlanjut sedu sedan tak perlu
Menyumbat hasrat hidup dengan sesal

Meski begitu, perindu kadang malu sebut
Dirinya terbuat dari mengangankan juga
Menginginkan sesuatu. Tapi toh, kesepian
Kadang terlalu berani bilang: Akurapopo

Sebab tak sendirian sendiri. Masih ada sejoli
Beda kota, beda pandangan politik, serta beda
Agama yang sering kali berefek nyeri di hati
Dan pening di pikiran namun tetap diupayakan

(Pondok Bambu, 2017)

 
 

Baper

​Ketika teringat masa silam
Ada selintas duga
Mungkin kau masih di sana

Kemunculannya yang tiba-tiba
Seolah memberi jawab untuk tanya:

Ketika mereka bilang
Tuhan bersama orang baper
Yang gengsi bilang kangen, apakah
A. Demam atau B. Dendam

(Pondok Bambu, 2017)

 
 

Di Warkop

​Kupesan apa
yang goceng bisa berikan:
segelas kopi
dua iris mendoan.

Starbucks di seberang jalan
menyeringai diam-diam
pada lima lembar Pattimura
yang kusodorkan ke akang warkop.

“Tuhan yang pemurah, berkahilah
kopi sachet dan rezeki yang seret
serta jauhkanlah hamba

dari penyakit mencret.”

(Pondok Bambu, 2017)

 
 

Lelaki Tereliminasi

​lelaki dengan luka di dada kiri menemukan dirinya
malih menjadi botol kecap dituang sembarang
di mangkuk bakso oleh seorang perempuan
yang sebenarnya menyukai mie ayam.

(Pondok Bambu, 2017)

 
 

PDKT

​di layar telepon genggam ini
pesan singkatmu jadi prasasti
kubaca lagi: y serta gpp
betapa sunyi seperti relief candi

apakah telepon genggammu
terlampau kaget mendengar sapa
“halo!” dariku sehingga tombol
end itu pun reflek kau pencet?

(Pondok Bambu, 2017)

 

Artikel ini diposting pada Puisi dengan tag .

Tinggalkan Balasan

Close