Sabbath, Nabi Mahatahu, Memang Kau Sukar Kupahami: 4 Puisi Kezia Alaia

4 puisi ini kami hadirkan sebagai pratinjau untuk buku Bicara Besar karya Kezia Alaia. Selain puisi-puisi ini, tentu banyak puisi lain yang bisa kamu baca dan dapatkan di dalam bukunya. Puisi-puisi dalam buku ini diilustrasikan oleh Reyna Clarissa (@reynaclarissa) yang juga mengerjakan sampul buku. Selamat menikmati bonus bacaanmu hari ini.

Memang Kau Sukar Kupahami
(Tapi Aku Cinta)

kau serupa film Perancis yang sukar kupahami
mesti kutonton berkali-kali di festival film
hingga gambar-gambarnya menjemput arti
dan dialog-dialognya melontarkan makna
meski agaknya kureka-reka,
kupilah dari arsip makna dan kukawin-kawinkan

“ah… ini mungkin artinya begini
dan yang itu artinya begitu”

kusambung makna satu dan makna satunya
dan makna satunya lagi
hingga aku paham
meski kau berbahasa Perancis
dan aku buta seni

***

Sabbath
Untuk Sabby

Ini hari Minggu dan kupikir, sudahlah, aku ke gereja saja, toh aku memang perlu ke luar rumah sore
ini dan jika aku ke gereja pagi ini aku tak perlu berusaha bangun dan bersiap dan berangkat sore
nanti.

Tidak begitu,

Ini hari Minggu dan aku berangkat ke gereja karena tak kupikir aku tak ingin ke gereja, biasanya
aku tak ingin, tapi entah mengapa hari ini aku pergi saja. Aku tengok ke luar dan kutemukan kawanmu
dan aku sapa ia, ia diam saja, biasanya juga begitu, aku tak kaget, biasanya kalau kusapa ia kau
yang jawab, meong, lalu kusapa kau, atau kulempar makanan padamu, atau kuajak kau jalan-jalan
sebentar di halaman belakang, atau kuajak kau bicara, atau seperti hari ini

aku, kawanmu, kau di mana?

Gereja memang tempat yang indah
untuk menangis dan mengucap doa

****

Nabi Mahatahu

Kain ini kubentangkan untuk membalutmu
Karena hatimu kuat, Nak, tapi tubuhmu belum
Berjalan saja kau tak mampu
Membuka mata kau tersilau-silau

Kain ini kubentangkan untukmu, Anakku
Biar pejam dulu kau dari dunia
Airnya terlalu pekat kau minum
Tanahnya terlalu keras kau pijak

Kain ini kubentangkan lebar-lebar
Sebab kujilat sendiri bumi dan aku sakit gigi
Sedang kau, segigi saja belum tumbuh!
Pada tepi kain kugores canting: aku cinta kamu

Tapi Anakku,
mengapa merangkak kau keluar kafanmu
menyerukan namaku sembari terengah-engah
memilih mati?

Lahir Rupa Menggenapi Doa

Anak-anak bayi lahir dengan angan-angan tentang hidup dinyanyikan pada telinga mereka
Oleh ayah-ibu pencinta yang menyematkan harap lewat nama, lewat agama

Anak-anak besar tumbuh dengan angan-angan tentang hidup didengungkan pada telinga mereka
Oleh ayah-ibu pencinta yang meracau meramal masa depan

Memilih takdir dari kitab-kitab suci dan buku kumpulan nama bayi Membangunkan pagi
seorang tidur yang merupa doa

Jadilah cinta pertama manusia: Ayah dan ibunya
Dan pelajaran pertama soal pamrih
saat kau lahir

Tinggalkan Balasan

Close